(0353) 881235 pabojonegoro@gmail.com delegasi.pabojonegoro@gmail.com
Memuat jam...

Makna Mabit di Musdzalifah

https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260527_120341-400x225.jpg 400w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260527_120341-768x432.jpg 768w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260527_120341-250x140.jpg 250w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" style="box-sizing: border-box; vertical-align: middle; height: auto; max-width: 100%; width: 683.328px;">

Oleh Sholikin Jamik

Mabit di Muzdalifah = bermalam di Muzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah, setelah wukuf di Arafah dan sebelum lempar Jumrah Aqabah.

Itu wajib haji, bukan cuma istirahat biasa. Ada makna ibadah dan simbolik yang dalam di dalamnya.

1. Makna secara hukum dan praktik

Waktu: Setelah Maghrib dan Isya tanggal 9 Dzulhijjah, jamaah berangkat dari Arafah ke Muzdalifah.
Amalan: Jamaah jama’ dan qashar Maghrib-Isya, lalu mabit sampai lewat tengah malam.
Minimal mabit = lewat tengah malam sampai sebelum fajar.
Nabi ? mabit sampai subuh, baru sholat Subuh di awal waktu, lalu berangkat ke Mina.

Tujuannya: Mengambil batu untuk lempar jumrah dan mempersiapkan diri fisik-mental untuk hari Nahr.

2. Makna spiritual mabit di Muzdalifah

a. Simbol kerendahan dan persamaan manusia
Muzdalifah itu tanah lapang tanpa tenda mewah. Semua tidur di tanah, beralaskan langit.
Kaya, miskin, pejabat, rakyat biasa tidur berdampingan.
Maknanya: di hadapan Allah semua sama. Yang membedakan cuma takwa.

b. Istirahat setelah ujian berat
Sebelum Muzdalifah ada wukuf di Arafah seharian, berdiri, doa, panas, capek.
Muzdalifah adalah jeda. Allah kasih waktu istirahat fisik tapi hati tetap hidup dengan dzikir dan doa.
Maknanya: setelah berjuang, Allah beri ketenangan. Tapi jangan lupa dzikir.
Allah berfirman: _”Apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram”_ [QS. Al-Baqarah: 198]

c. Persiapan untuk perang melawan setan
Di Muzdalifah jamaah mengambil 7 batu kecil untuk lempar Jumrah Aqabah.
Batu = simbol melawan hawa nafsu dan godaan setan.
Malam di Muzdalifah adalah malam mempersiapkan diri secara mental untuk “perang” itu.

d. Menghidupkan sunnah dan mengikuti Nabi
Nabi ? mabit di Muzdalifah dan memerintahkan sahabat untuk melakukannya.
Ibnu Umar bilang: “Nabi ? sholat Maghrib dan Isya di Muzdalifah dengan satu iqamat, lalu beliau tidur sampai subuh”.

Meninggalkan mabit tanpa udzur = wajib bayar dam.

3. Yang dilakukan saat mabit

Nggak ada ritual khusus yang ribet. Yang dianjurkan:

1. Sholat Maghrib dan Isya jamak qashar begitu sampai.
2. Tidur untuk istirahat supaya kuat untuk ibadah besok.
3. Bangun malam untuk dzikir, doa, istighfar. Ini waktu mustajab.
4. Sholat Subuh di awal waktu, lalu wukuf kecil di Masy’aril Haram sebelum berangkat ke Mina.
5. Mengambil batu untuk lempar jumrah, boleh juga ambil di Mina.

4. Bedanya dengan mabit di Mina
Muzdalifah Mina
1 malam saja, malam 10 Dzulhijjah 2-3 malam, 11-13 Dzulhijjah
Wajib untuk mayoritas ulama Wajib untuk mayoritas ulama
Fokus: istirahat, dzikir, ambil batu Fokus: lempar jumrah, dzikir, takbir
Tanah terbuka, tanpa tenda khusus Ada tenda, lebih ramai

Singkatnya:
Mabit di Muzdalifah itu malam peralihan. Malam turunnya derajat dari kemuliaan wukuf, ke kesiapan menghadapi ujian lempar jumrah.

Malam untuk merendahkan diri, tidur di tanah, ingat bahwa kita semua sama di hadapan Allah, dan mengisi waktu dengan dzikir karena besok adalah hari paling besar: Hari Nahr.

Mabit ini ngajarin: ibadah itu ada capeknya, ada tenangnya, ada persiapannya. Semua diatur Allah biar hati nggak kosong.

Sumber : https://upwarta.com/makna-mabit-di-musdzalifah/

Makna Kisah Nabi Ibrahim & Ismail di Jumrah ula, wusta dan Aqabah di tanggal 11,12, dan 13 dzulhijah ( hari tasryik)

https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260523_002711-768x427.jpg 768w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260523_002711-250x140.jpg 250w" sizes="(max-width: 1279px) 100vw, 1279px" style="box-sizing: border-box; vertical-align: middle; height: auto; max-width: 100%; width: 683.328px;">

Oleh Sholikin Jamik

Kisah ini jadi asal usul melempar jumrah saat haji. Peristiwanya terjadi saat Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih putranya, Ismail. Di tengah perjalanan itu, setan 3 kali mencoba menggoda Ibrahim supaya membatalkan perintah Allah.

1. Di Jumrah Ula – yang paling jauh dari Mekah

Saat Ibrahim, Ismail, dan Hajar berangkat dari Mina menuju tempat penyembelihan di Mina, setan muncul pertama kali di tempat yang sekarang disebut Jumrah Ula.

Setan membisik ke Ibrahim: “Ini cuma mimpi, jangan bunuh anakmu. Sayang, dia anak tunggalmu yang sudah tua baru dapat.”

Nabi Ibrahim sadar itu godaan setan. Dia mengambil 7 batu kecil dan melemparnya ke setan itu sambil mengucapkan “Allahu Akbar”. Setan pun lari.

Makna: Tolak was-was dan bisikan yang menjauhkanmu dari perintah Allah. Jangan dituruti, lawan dengan tegas.

2. Di Jumrah Wusta – yang di tengah
Setan tidak menyerah.

Dia muncul lagi di tempat yang sekarang disebut Jumrah Wusta saat Ibrahim jalan menuju tempat penyembelihan.

Kali ini setan membisik ke Siti Hajar: “Suamimu mau menyembelih anakmu. Cegah dia!”

Lalu ke Ismail: “Bapakmu mau bunuh kamu, jangan mau!”

Hajar dan Ismail juga sadar itu setan. Ibrahim kembali melempar 7 batu ke tempat itu. Setan lari lagi.

Makna: Godaan sering datang lewat orang terdekat dan emosi. Tapi kalau kita yakin itu perintah Allah, tetap taat. Hajar dan Ismail justru menguatkan Ibrahim.

3. Di Jumrah Aqabah – yang paling dekat dengan Mekah

Setan muncul untuk ketiga kalinya di Jumrah Aqabah, tempat terdekat dengan Mekah. Dia membisik lagi ke Ibrahim supaya ragu dan membatalkan perintah Allah.

Ibrahim kembali melempar 7 batu ke jumrah itu. Setelah itu setan tidak muncul lagi.

Makna: Godaan terakhir biasanya paling berat, karena datang saat kita hampir sampai. Tapi kalau kita istiqamah sampai akhir, Allah akan beri jalan keluar.

Setelah lemparan itu

Setelah dilempar, setan putus asa dan pergi. Ibrahim sampai ke tempat penyembelihan di Mina. Saat pisau diletakkan di leher Ismail, Allah gantikan Ismail dengan seekor domba besar dari surga.

Allah berfirman:
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [QS. As-Saffat: 107]

Peristiwa itu yang kita peringati saat Idul Adha dan saat melempar jumrah saat haji.

Hikmah untuk kita sekarang

Melempar jumrah bukan menyakiti setan secara fisik. Batu itu simbol:

1. Penolakan terhadap hawa nafsu dan bisikan setan – 3 jumrah = 3 level godaan: godaan ke diri sendiri, keluarga, dan saat hampir berhasil.
2. Ikut sunnah Nabi Ibrahim – kita ikut jejaknya dalam ketaatan total ke Allah.
3. Pengakuan kelemahan diri – kita lempar batu karena kita butuh Allah untuk melawan setan. Sendiri kita lemah.

Makanya saat lempar jumrah disunnahkan baca “Bismillah, Allahu Akbar”. Bukan marah-marah ke batu.

Jadi Jumrah Ula, Wusta, Aqabah itu jejak perjuangan Ibrahim, Hajar, dan Ismail melawan godaan setan sebelum ujian terbesar penyembelihan terjadi.

Sumber : https://upwarta.com/makna-kisah-nabi-ibrahim-ismail-di-jumrah-ula-wusta-dan-aqabah-di-tanggal-1112-dan-13-dzulhijah-hari-tasryik/

 
 

Oleh: Sholikin Jamik*)

TAHALUL itu titik balik dalam ibadah haji dan umrah. Setelah tahalul, status “ihram” yang bikin banyak hal haram jadi halal lagi.

1. Arti bahasa & istilah

Tahalul = ????, artinya “lepas”, “halal”, “bebas”.
Lawan katanya _ihram_ = mengharamkan diri dari hal-hal tertentu.

Jadi tahalul = melepaskan diri dari larangan ihram, kembali ke keadaan normal.

2. Ada 2 jenis tahalul

a. Tahalul Awal / Tahalul Ashghar
Terjadi kalau kamu sudah melakukan 2 dari 3 amalan ini pada 10 Dzulhijjah:
1. Lempar Jumrah Aqabah
2. Cukur/gundul rambut
3. Tawaf Ifadhah

Setelah tahalul awal, yang halal kembali adalah:
– Pakai baju biasa, wangi-wangian, potong kuku
– Hubungan suami istri *masih haram*

Makanya disebut _ashghar_ = kecil. Masih ada yang belum halal.

b. Tahalul Tsani / Tahalul Akbar
Terjadi kalau ketiga amalan di atas sudah selesai: lempar jumrah, cukur, tawaf ifadhah.

Setelah tahalul tsani, semua larangan ihram hilang total. Termasuk hubungan suami istri. Ini disebut akbar= besar, karena benar-benar kembali seperti sebelum ihram.

Urutannya yang paling afdhal sesuai sunnah Nabi ? di 10 Dzulhijjah:
Lempar jumrah ? Sembelih kurban ? Cukur ? Tawaf Ifadhah ? Sa’i

3. Makna tahalul yang lebih dalam

Tahalul bukan cuma soal lepas baju ihram. Ada 3 makna besar:

a. Lulus ujian ketaatan
Selama ihram kamu dilarang banyak hal yang tadinya halal: wangi, jima’, buru hewan.
Tahalul datang setelah kamu lulus ujian menahan diri.
Artinya: Allah kasih “hadiah” berupa kehalalan lagi karena kamu taat.
Hidup juga gitu, nikmat yang halal itu lebih nikmat kalau didapat setelah sabar dan taat.

b. Simbol lahir kembali
Cukur rambut saat tahalul simbol “membuang” dosa dan memulai lembaran baru.
Nabi ? mendoakan: _“Ya Allah ampunilah orang yang menggundul, ya Allah ampunilah orang yang menggundul.”_ diulang 3x.
Rambut rontok = dosa rontok, insyaAllah.

c. Kembali ke dunia dengan aturan baru
Tahalul bukan berarti bebas sebebasnya. Kamu halal pakai wangi, tapi nggak boleh sombong.
Halal hubungan suami istri, tapi tetap ada adabnya.
Maknanya: ibadah itu ngubah kamu, bukan cuma ngubah status. Keluar dari haji harusnya jadi orang yang lebih terkontrol nafsunya.

4. Kesalahan paham tentang tahalul

1. Kira tahalul selesai haji. Belum. Kalau belum tawaf ifadhah, masih ada kewajiban. Pulang ke negara asal sebelum tawaf = haji nggak sah.
2. Asal cukur sedikit aja*l. Untuk laki-laki, sunnahnya gundul. Untuk perempuan, potong ujung rambut sepanjang ujung jari.
3. Langsung halal semua setelah cukur. Ingat, kalau belum tawaf ifadhah, jima’ masih haram.

Singkatnya:
Tahalul maknanya “dibebaskan” dari larangan ihram karena sudah taat.
Maknanya: kamu lulus ujian, dosa rontok, dan kembali ke dunia dengan hati yang lebih terkontrol.

Tahalul itu bukan akhir, tapi awal. Awal jadi manusia yang lebih taqwa setelah haji.

Sumber : https://kabarpasti.com/tahalul-simbol-lahir-kembali-titik-balik-haji-dan-umroh/

CJH Bojonegoro Diminta Ibadah Sunah Setelah Puncak Haji

CJH Bojonegoro Diminta Ibadah Sunah Setelah Puncak HajiJAGA KESEHATAN: CJH Bojonegoro saat di Tanah Suci, diminta menjaga kesehatan, dan beribadah sunah setelah pundak haji. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Kurang dari seminggu menjelang puncak ibadah haji, calon jemaah haji (CJH) Bojonegoro diimbau untuk fokus mematangkan persiapan, khsusunya menjaga kesehatan.

Untuk ibadah sunah, disarankan untuk dilakukan setelah pelaksanaan puncak haji. Mengingat, jemaah haji Bojonegoro masih memiliki waktu cukup panjang yang bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan ibadah sunah setelah puncak haji nanti.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Bojonegoro, Abdullah Hafith mengimbau, jemaah haji Bojonegoro agar menjaga kesehatan. Juga, fokus untuk persiapan puncak ibadah haji. Sedangkan, ibadah sunah bisa dilanjutkan setelah pelaksanaan puncak haji nanti.

"Untuk ibadah sunah, seperti wisata religi maupun umrah sunah. Bisa dilakukan setelah puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna)," ujarnya.

Amirul Hajj Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Masyarakat Madani, Sholikin Jamik menjelaskan, puncak haji akan dimulai pada 25 Mei saat tarwiyah. Selanjutnya, 26 Mei merupakan jadwal wukuf di Arafah. Kemudian dilanjutkan 27 Mei atau 10 Dzulhijjah hingga Sabtu mendatang.

Puncak haji tinggal satu minggu lagi. Perjalanan dari hotel ke Mina, lalu ke Arafah, Muzdalifah, kemudian kembali ke Mina membutuhkan tenaga besar,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya terus mengimbau jemaah untuk tidak memaksakan diri beribadah di Masjidil Haram setiap waktu. Apalagi, jarak maktab jemaah menuju Masjidil Haram mencapai hampir delapan kilometer. Sementara suhu di Makkah dalam beberapa hari terakhir berkisar 42 hingga 43 derajat Celsius.

Dia menambahkan, setelah rangkaian puncak haji selesai, jemaah masih memiliki waktu lebih dari 10 hari untuk memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. Saat ini, yang paling penting adalah menjaga stamina, mengonsumsi makanan bergizi, vitamin, serta rutin minum obat bagi jemaah yang membutuhkan.

"Alhamdulillah kondisi fisik jemaah cukup bagus. Penting untuk terus menjaga mental dan kesehatan fisik," pungkasnya. (ewi/msu)

 

Editor : Hakam Alghivari

Sumber : https://radarbojonegoro.jawapos.com/haji-umrah/2605210007/cjh-bojonegoro-diminta-ibadah-sunah-setelah-puncak-haji

Makna Mabit di Muzdalifah

Oleh: Sholikin Jamik

SuaraBojonegoro.com – Mabit di Muzdalifah artinya bermalam di Muzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah, setelah melaksanakan wukuf di Arafah dan sebelum melempar Jumrah Aqabah. Amalan ini hukumnya wajib haji, bukan sekadar istirahat biasa. Ada makna ibadah dan simbolik yang sangat dalam di dalamnya.

1. Makna secara Hukum dan Praktik

Waktu: Setelah Maghrib dan Isya pada tanggal 9 Dzulhijjah, jemaah berangkat dari Arafah menuju Muzdalifah.

Amalan: Jemaah melaksanakan shalat jamak dan qasar Maghrib-Isya, lalu mabit sampai lewat tengah malam.

Durasi Minimal: Batas minimal mabit adalah berada di Muzdalifah sejak lewat tengah malam sampai sebelum terbit fajar. Rasulullah ? sendiri mabit hingga waktu subuh, lalu melaksanakan shalat Subuh di awal waktu sebelum kemudian berangkat ke Mina.

Tujuan: Mengambil batu kerikil untuk melempar jumrah serta mempersiapkan fisik dan mental menghadapi Hari Nahr (10 Dzulhijjah).

2. Makna Spiritual Mabit di Muzdalifah

a. Simbol Kerendahan dan Persamaan Manusia

Muzdalifah adalah tanah lapang terbuka tanpa fasilitas tenda mewah. Semua jemaah tidur di atas tanah dan beralaskan langit. Kaya, miskin, pejabat, maupun rakyat biasa semuanya tidur berdampingan. Maknanya: di hadapan Allah, semua manusia setara. Yang membedakan hanyalah kualitas takwanya.

b. Istirahat Setelah Ujian Berat

Sebelum ke Muzdalifah, jemaah telah melalui wukuf di Arafah seharian penuh—berdiri, berdoa, berpanas-panasan, dan menguras energi. Muzdalifah hadir sebagai jeda. Allah memberikan waktu untuk mengistirahatkan fisik, namun hati harus tetap hidup dengan zikir dan doa.

Maknanya: setelah perjuangan yang berat, Allah pasti memberikan ketenangan. Namun, dalam ketenangan itu jangan sampai melupakan zikir. Allah SWT berfirman:

“Apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram.” (QS. Al-Baqarah: 198)

c. Persiapan untuk “Perang” Melawan Setan

Di Muzdalifah, jemaah mengumpulkan 7 batu kerikil untuk melempar Jumrah Aqabah. Batu ini merupakan simbol perlawanan terhadap hawa nafsu dan godaan setan. Malam di Muzdalifah adalah malam untuk mempersiapkan diri secara mental sebelum memasuki medan “pertempuran” tersebut.

d. Menghidupkan Sunnah dan Mengikuti Nabi

Rasulullah ? mabit di Muzdalifah dan memerintahkan para sahabat untuk melakukannya. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu menuturkan: “Nabi ? shalat Maghrib dan Isya di Muzdalifah dengan satu iqamah, kemudian beliau tidur sampai subuh.”

Meninggalkan mabit di Muzdalifah tanpa adanya uzur yang syar’i membuat jemaah wajib membayar dam (denda).

3. Amalan yang Dilakukan Saat Mabit

Tidak ada ritual khusus yang rumit saat berada di Muzdalifah. Amalan yang dianjurkan antara lain:

Melaksanakan shalat Maghrib dan Isya secara jamak qasar setibanya di Muzdalifah.

Tidur dan beristirahat agar kondisi fisik kembali kuat untuk menjalani rangkaian ibadah keesokan harinya.

Bangun di sepertiga malam untuk memperbanyak zikir, doa, dan istigfar, karena ini termasuk waktu yang mustajab.

Melaksanakan shalat Subuh di awal waktu, lalu melakukan wukuf kecil (berdoa) di Masy’aril Haram sebelum bertolak ke Mina.

Mengambil batu kerikil untuk melempar jumrah (meskipun batu ini juga boleh diambil saat sudah di Mina).

4. Perbedaan Mabit di Muzdalifah dan Mabit di Mina

Meskipun sama-sama merupakan rangkaian wajib haji menurut mayoritas ulama, mabit di Muzdalifah dan mabit di Mina memiliki beberapa perbedaan mendasar dari segi durasi, fokus amalan, dan kondisi tempat:

Dari segi durasi waktu, mabit di Muzdalifah hanya dilakukan selama satu malam, yaitu pada malam 10 Dzulhijjah. Sementara itu, mabit di Mina berlangsung lebih lama, yaitu selama 2 hingga 3 malam pada hari-hari Tasyrik (malam 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

Dari segi fokus amalan, saat berada di Muzdalifah jemaah difokuskan untuk beristirahat, berzikir, dan mengambil batu kerikil. Sedangkan saat mabit di Mina, fokus utama jemaah adalah melaksanakan ibadah melempar jumrah, memperbanyak zikir, serta mengumandangkan takbir.

Dari segi kondisi tempat, Muzdalifah merupakan area tanah lapang terbuka yang tidak menyediakan tenda khusus untuk jemaah. Berbeda dengan Mina yang areanya dipenuhi oleh tenda-tenda penginapan dan suasananya jauh lebih ramai serta padat. (**)

Sumber : https://suarabojonegoro.com/makna-mabit-di-muzdalifah/

Puncak Haji: CJH Bojonegoro Wukuf di Arafah

Puncak Haji: CJH Bojonegoro Wukuf di Arafah PUNCAK HAJI: CJH menjalankan rangkaian puncak ibadah haji, yakni wukuf di Arafah. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Jemaah haji Bojonegoro mulai menjalankan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Rangkaian puncak haji diawali dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, Selasa (26/5), seluruh jemaah dari berbagai belahan dunia berkumpul menjadi satu di Padang Arafah

Amirul Hajj Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Masyarakat Madani, Sholikin Jamik menyampaikan, jemaah haji Bojonegoro melakukan tarwiyah terlebih dulu.

Seperti yang dilakukan Rosulullah SAW di Tenda Mina. Kemudian, pukul 09.00 pagi WAS, bertemu di tenda Arafah. Dan, menjalankan puncak haji hari ini (26/5), tepatnya di 9 dzulhijjah untuk melakukan wukuf di Arafah.

"Hari inilah sebenarnya puncak haji, yakni melakukan wukuf di Arafah. Seluruh jemaah haji di berbagai benua atau negara, terkumpul di satu tempat, yakni Padang Arafah. Ini inti dari ibadah haji," terangnya.

Menurut Ketua KBIHU Masyarakat Madani tersebut, jemaah haji Bojonegoro telah melakukan persiapan menjelang puncak haji ini. Mulai dari persiapan mental dan spritual, persiapan fisik atau kesehatan. Serta, energi untuk menjalankan puncak haji.

"Kita sudah siapkan obat-obatan yang harus diminum. Persiapan diri tentang tenaga. Juga, pemahaman, bahwa haji adalah perjalanan yang berpindah-pindah. Maka, yang kuat tidak boleh sombong, yang lemah tidak boleh iri hati atau dengki. Penting adanya kebersamaan di sini, tolong menolong, pemahaman, dan penghormatan," ujarnya.

Jemaah haji asal Desa/Kecamatan Purwosari, Umi Zumrothin mengatakan, telah mempersiapkan diri untuk puncak haji di Armuzna. Baik tenaga, energi, maupun spiritual.

"Kami persiapkan diri untuk mengakui semua dosa-dosa yang telah kita lakukan. Pokoknya bener-benar ngenolkan diri di hadapan Allah," pungkasnya. (ewi/msu)

 

Editor : Bhagas Dani Purwoko

Sumber : https://radarbojonegoro.jawapos.com/haji-umrah/2605260001/puncak-haji-cjh-bojonegoro-wukuf-di-arafah

Keistimewaan Hari Arafah

 

Oleh: Sholikin Jamik

SuaraBojonegoro.com – Keistimewaan Hari Arafah itu luar biasa. Hari yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah ini dianggap sebagai hari paling utama dalam setahun.

Berikut adalah keistimewaannya berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan para ulama:

Islam

1. Hari Disempurnakannya Agama Islam

Ayat paling penting dalam Islam turun di Arafah:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Umar bin Khattab mengatakan bahwa ayat ini turun saat Nabi \text{\ conifers}\ \ Bilal\ \ \text{W}} (Nabi Muhammad ?) sedang wukuf di Arafah pada hari Jumat. Jadi, Arafah adalah tempat Allah menyatakan bahwa agama ini sudah selesai dan sempurna.

2. Puncak Ibadah Haji

Nabi ? bersabda:

“Al-hajju Arafah” (Haji itu adalah Arafah).

Wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling pokok. Jika seseorang melewatkan wukuf, maka hajinya batal. Orang-orang yang sedang wukuf ini dibanggakan oleh Allah di hadapan para malaikat-Nya.

3. Hari Paling Banyak Allah Membebaskan Hamba dari Neraka

Nabi ? bersabda:

“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka selain Hari Arafah.”

Pada hari itu, Allah mendekat ke langit dunia kepada hamba-Nya yang sedang wukuf, lalu berfirman kepada para malaikat: “Lihatlah hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.” Bahkan, sekalipun dosamu sebanyak hamparan pasir, Allah akan menghapusnya.

4. Puasa Arafah Menghapus Dosa Dua Tahun

Bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, dianjurkan untuk berpuasa:

“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”

Atha’ bin Abi Rabah mengatakan bahwa pahala puasa Arafah itu setara dengan berpuasa selama 2.000 hari.

5. Doa Paling Mustajab

Nabi ? bersabda:

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.”

Zikir terbaik pada hari tersebut adalah:

La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir.

Oleh karena itu, para jemaah haji sepanjang hari di Arafah hanya fokus untuk berdoa, berzikir, dan beristigfar.

6. Hari yang Paling Dicintai Allah untuk Beramal

Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah waktu di mana amal saleh paling dicintai oleh Allah, dan puncaknya adalah Hari Arafah. Bahkan, pahala beramal di hari-hari ini melebihi pahala jihad, kecuali bagi orang yang keluar berjihad membawa jiwa dan hartanya, lalu ia mati syahid.

7. Hari Paling Utama dalam Setahun

Anas bin Malik mengatakan bahwa Hari Arafah lebih utama daripada 10.000 hari lainnya. Dalam mazhab Syafi’i, jika seseorang bersumpah, “Istriku jatuh talak pada hari yang paling utama,” maka talak tersebut jatuh pada Hari Arafah.

Kenapa Arafah Spesial Banget?

Karena di sanalah semua kebaikan berkumpul:

Tempat bertemunya kembali Nabi Adam dan Hawa.

Tempat Nabi Ibrahim diuji oleh Allah.

Tempat turunnya ayat penyempurna agama Islam.

Momen di mana Allah mendekat ke langit dunia.

Waktu di mana doa-doa paling dikabulkan.

Waktu paling banyak manusia dibebaskan dari api neraka.

Mengingat begitu besarnya keutamaan hari ini, meskipun kita tidak sedang melaksanakan ibadah haji, kita sangat dianjurkan untuk berpuasa, memperbanyak doa, berzikir, serta beristigfar pada tanggal 9 Dzulhijjah. (**)

 Sumber : https://suarabojonegoro.com/keistimewaan-hari-arafah/

Makna Lempar Jumroh Tanggal 10 Dzulhijah

https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/kmc_20260527_120625-768x1024.png 768w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/kmc_20260527_120625-1152x1536.png 1152w" sizes="(max-width: 1440px) 100vw, 1440px" style="box-sizing: border-box; vertical-align: middle; height: auto; max-width: 100%; width: 683.328px;">

Oleh Sholikin Jamik

Lempar Jumrah Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah itu ritual simbolik yang maknanya dalam banget.

Hari itu namanya Hari Nahr, dan lempar jumrah jadi amalan pertama yang dilakukan jamaah haji setelah turun dari Muzdalifah.

1. Asal usulnya: Kisah Nabi Ibrahim vs Setan

Ini inti maknanya. Lempar jumrah meniru kejadian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

Saat Ibrahim diperintah Allah menyembelih Ismail, setan datang 3 kali untuk menggoda beliau agar membatalkan perintah itu.

– Pertama di Jumrah Ula
– Kedua di Jumrah Wustha
– Ketiga di Jumrah Aqabah

Setiap kali setan muncul, Jibril bilang ke Ibrahim: “Lempar dia!
Ibrahim pun melempar setan dengan 7 batu kecil, dan setan lari.

Jadi lempar jumrah tanggal 10 Dzulhijjah itu meniru aksi Nabi Ibrahim yang menolak godaan setan dengan tegas.

2. Makna simboliknya

Lempar jumrah bukan main lempar batu ke tiang. Ada 3 makna utama:

a. Pernyataan perang terhadap setan dan hawa nafsu
Batu yang kamu lempar itu simbol penolakan.
Setiap lemparan = “Aku menolak bisikanmu, aku taat pada Allah”
Setan itu musuh nyata, dan cara melawannya adalah dengan taat, bukan debat.

b. Praktik ketundukan tanpa banyak tanya
Nabi Ibrahim nggak nanya “kenapa harus sembelih anakku?”. Beliau langsung taat.
Lempar jumrah ngajarin kita: ada perintah Allah yang kita jalankan meski akal belum sepenuhnya paham hikmahnya.
Itu namanya ubudiyah murni.

c. Pembuka untuk taubat dan pembersihan diri
Setelah lempar jumrah Aqabah, kamu cukur rambut dan tahalul awal.
Artinya: setelah “mengusir setan”, kamu masuk ke fase pembersihan diri dan kembali suci.
Makanya urutannya: lempar ? sembelih ? cukur ? tahalul.

3. Tata caranya yang disyariatkan

Tanggal 10 Dzulhijjah cuma lempar 1 jumrah, yaitu Jumrah Aqabah yang paling besar dan paling dekat ke Mekah.

Waktu: Setelah matahari terbit sampai sebelum maghrib. Yang paling afdhal setelah matahari agak tinggi.
– Jumlah batu: 7 butir, seukuran kacang hijau.
Cara: Berdiri menghadap jumrah, takbir tiap lemparan “Allahu Akbar”.
– Niat: Nggak perlu dilafalkan. Cukup dalam hati mengikuti perintah Allah.

Setelah itu baru sembelih kurban, cukur rambut, tawaf ifadhah.

4. Makna untuk hidup sehari-hari

Lempar jumrah itu latihan praktis:

1. Setiap hari kita digoda setan lewat malas sholat, ghibah, riba, marah. Lempar jumrah ngajarin: lawan langsung, jangan dituruti.
2. Setan nggak mati, makanya ada 3 jumrah yang dilempar 3 hari berturut-turut. Godaan datang berulang, jadi perlawanan juga harus konsisten.
3. Batu kecil bisa ngusir setan besar kalau dilakukan dengan niat dan taat. Amal kecil yang ikhlas lebih berat dari amal besar yang riya.

Ibnu Qayyim bilang: “Lempar jumrah itu menegakkan syiar tauhid, menghinakan setan, dan menampakkan sikap bermusuhan dengannya”.

5. Kalau nggak bisa lempar sendiri?

Kalau sakit, tua, atau ramai banget, boleh diwakilkan.
Tapi yang afdhal tetap lempar sendiri karena itu bagian dari latihan melawan hawa nafsu.

Singkatnya:
Lempar jumrah 10 Dzulhijjah = deklarasi “Aku di pihak Allah, bukan setan”.
Itu warisan Nabi Ibrahim, latihan taat tanpa debat, dan pembuka untuk tahalul.
Bukan batu yang ngena ke setan, tapi ketaatanmu yang bikin setan kalah.

Sumber : https://upwarta.com/makna-lempar-jumroh-tanggal-10-dzulhijah/

Jemaah Haji Bojonegoro Selesaikan Wukuf Arafah, Mulai Bergerak ke Mina

Jemaah Haji Bojonegoro Selesaikan Wukuf Arafah, Mulai Bergerak ke MinaBERGESER KE MINA: Setelah menjalani wukuf di Arafah kemarin (26/5). Jemaah dijadwalkan bergerak menuju Muzdalifah, sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina hari ini (27/5). (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Rangkaian puncak ibadah haji terus berlanjut. Setelah menjalani wukuf di Arafah kemarin (26/5). Jemaah dijadwalkan bergerak menuju Muzdalifah, sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina hari ini (27/5).

Amirul Hajj Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Masyarakat Madani, Sholikin Jamik mengatakan, seluruh jemaah haji sudah menjalankan wukuf di Padang Arafah kemarin (26/5). Yang menjadi inti dari puncak ibadah haji. Ini merupakan gambaran satu suasana di hadapan Allah, dimana kita meninggalkan segala hal duniawi. Dengan pakaian sama, di tempat yang sama.

Jemaah berkumpul di Padang Arafah setelah dhuhur, mendengarkan khutbah wukuf Arafah. Kemudian, melakukan sholat dhuhur dan ashar di jamak qashar. Kemudian, melakukan ibadah masing-masing. Mengingat, waktu dhuhur hingga terbenamnya matahari merupakan waktu yang mustajab. Padang Arafah inilah gambaran dari Hotel Seribu Bitang karena jemaah tidur di alas sederhana di alam terbuka. Sebagai muhasabah untuk perenungan.

‘’Setelah terbenamnya matahari, seluruh jemaah akan diangkut bus menuju Muzdalifah. Melakukan sholat magrib dan isya di jamak,’’ terangnya.

Menurutnya, perjalanan dari Arafah ke Muzdalifah akan dilanjutkan ke Mina. Terdapat dua kebijakan yang diambil pemerintah, yakni murur yang diperuntukan bagi jemaah disabilitas atau resiko tinggi (risti) yang memerlukan pendampingan. Direncanakan akan diangkut menggunakan bus dan hanya melindas di Muzdalifah, tidak turun. Mengingat, jutaan orang yang berada di tempat tersebut, sehingga beresiko jika dipaksakan untuk turun.

‘’Dari Arafah hanya melintas ke Muzdalifah untuk menuju ke tenda Mina,’’ ujarnya.

Dia melanjutnya, untuk jemaah yang sehat, dikenal dengan skema tanazul. Jemaah sehat diangkut pukul 23.00 WAS. Hanya melintas di Muzdalifah, tidak turun karena dianggap sudah mabit. Sehingga, jemaah langsung dibawa ke Tenda Mina.

‘’Untuk menjaga jiwa, agar selamat. Mengurangi kepadatan, mengingat jemaah haji mencapai sekitar empat juta orang dari seluruh dunia,’’ pungkasnya. (ewi/msu)

 

Editor : Yuan Edo Ramadhana

Sumber : https://radarbojonegoro.jawapos.com/haji-umrah/2605270004/jemaah-haji-bojonegoro-selesaikan-wukuf-arafah-mulai-bergerak-ke-mina

Keistimewaan Hari Arofah

Oleh: Sholikin Jamik*)

KEISTIMEWAAN Hari Arofah itu luar biasa. Tanggal 9 Dzulhijjah ini dianggap hari paling utama dalam setahun.

Ini keistimewaannya berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan penjelasan ulama:

1. Hari Disempurnakannya Agama Islam
Ayat paling penting dalam Islam turun di Arafah:
Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu”  [QS. Al-Ma’idah: 3]

Umar bin Khattab bilang ayat ini turun saat Nabi ? wukuf di Arafah, hari Jumat.
Jadi Arafah adalah tempat Allah menyatakan agama ini sudah selesai dan sempurna.

2. Puncak Ibadah Haji
Nabi ? bersabda:
_”Al-hajju Arafah” – Haji itu adalah Arafah_

Wukuf di Arafah itu rukun haji paling pokok. Kalau ketinggalan wukuf, hajinya batal. Orang yang wukuf disebut Allah membanggakannya di depan malaikat.

3. Hari paling banyak Allah membebaskan hamba dari neraka
“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka selain Hari Arafah”

Allah turun ke langit dunia, mendekat ke hamba-Nya yang wukuf, lalu berkata ke malaikat:

“Lihatlah hamba-Ku, mereka datang kepadaku dalam keadaan kusut dan berdebu”
Kalaupun dosamu sebanyak pasir, Allah hapus.

4. Puasa Arafah menghapus dosa 2 tahun
Ini untuk yang tidak sedang berhaji:
“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang”

Atho’ bin Abi Rabah bilang: puasa Arafah pahalanya seperti puasa 2000 hari.

5. Doa paling Mustajab
“Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah”

Zikir terbaiknya: La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir_
Makanya jamaah haji seharian di Arafah cuma fokus doa, dzikir, istighfar.

6. Hari yang paling dicintai Allah untuk beramal
10 hari pertama Dzulhijjah adalah hari yang amal shalih paling dicintai Allah.
Dan puncaknya adalah hari Arafah.
Bahkan jihad pun kalah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu syahid. 2d24

7. Hari paling utama dalam setahun
Anas bin Malik bilang: Hari Arafah lebih utama dari 10.000 hari lainnya.
Dalam madzhab Syafi’i, kalau seseorang bersumpah “istriku jatuh talak di hari paling utama”, maka jatuhlah di hari Arafah.

Kenapa Hari Arafah paling spesial?

Karena di sana semua berkumpul:
Tempat Adam & Hawa bertemu lagi, tempat Nabi Ibrahim diuji, tempat turunnya ayat penyempurna agama, tempat Allah turun paling dekat, tempat doa paling dikabulkan, dan tempat paling banyak orang dibebaskan dari neraka.

Makanya walau tidak haji, umat Islam dianjurkan puasa, perbanyak doa, dzikir, dan istighfar tanggal 9 Dzulhijjah.

Sumber : https://kabarpasti.com/keistimewaan-hari-arofah/

Makna Mabit di Musdzalifah

https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260527_120341-400x225.jpg 400w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260527_120341-768x432.jpg 768w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260527_120341-250x140.jpg 250w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" style="box-sizing: border-box; vertical-align: middle; height: auto; max-width: 100%; width: 683.328px;">

Oleh Sholikin Jamik

Mabit di Muzdalifah = bermalam di Muzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah, setelah wukuf di Arafah dan sebelum lempar Jumrah Aqabah.

Itu wajib haji, bukan cuma istirahat biasa. Ada makna ibadah dan simbolik yang dalam di dalamnya.

1. Makna secara hukum dan praktik

Waktu: Setelah Maghrib dan Isya tanggal 9 Dzulhijjah, jamaah berangkat dari Arafah ke Muzdalifah.
Amalan: Jamaah jama’ dan qashar Maghrib-Isya, lalu mabit sampai lewat tengah malam.
Minimal mabit = lewat tengah malam sampai sebelum fajar.
Nabi ? mabit sampai subuh, baru sholat Subuh di awal waktu, lalu berangkat ke Mina.

Tujuannya: Mengambil batu untuk lempar jumrah dan mempersiapkan diri fisik-mental untuk hari Nahr.

2. Makna spiritual mabit di Muzdalifah

a. Simbol kerendahan dan persamaan manusia
Muzdalifah itu tanah lapang tanpa tenda mewah. Semua tidur di tanah, beralaskan langit.
Kaya, miskin, pejabat, rakyat biasa tidur berdampingan.
Maknanya: di hadapan Allah semua sama. Yang membedakan cuma takwa.

b. Istirahat setelah ujian berat
Sebelum Muzdalifah ada wukuf di Arafah seharian, berdiri, doa, panas, capek.
Muzdalifah adalah jeda. Allah kasih waktu istirahat fisik tapi hati tetap hidup dengan dzikir dan doa.
Maknanya: setelah berjuang, Allah beri ketenangan. Tapi jangan lupa dzikir.
Allah berfirman: _”Apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram”_ [QS. Al-Baqarah: 198]

c. Persiapan untuk perang melawan setan
Di Muzdalifah jamaah mengambil 7 batu kecil untuk lempar Jumrah Aqabah.
Batu = simbol melawan hawa nafsu dan godaan setan.
Malam di Muzdalifah adalah malam mempersiapkan diri secara mental untuk “perang” itu.

d. Menghidupkan sunnah dan mengikuti Nabi
Nabi ? mabit di Muzdalifah dan memerintahkan sahabat untuk melakukannya.
Ibnu Umar bilang: “Nabi ? sholat Maghrib dan Isya di Muzdalifah dengan satu iqamat, lalu beliau tidur sampai subuh”.

Meninggalkan mabit tanpa udzur = wajib bayar dam.

3. Yang dilakukan saat mabit

Nggak ada ritual khusus yang ribet. Yang dianjurkan:

1. Sholat Maghrib dan Isya jamak qashar begitu sampai.
2. Tidur untuk istirahat supaya kuat untuk ibadah besok.
3. Bangun malam untuk dzikir, doa, istighfar. Ini waktu mustajab.
4. Sholat Subuh di awal waktu, lalu wukuf kecil di Masy’aril Haram sebelum berangkat ke Mina.
5. Mengambil batu untuk lempar jumrah, boleh juga ambil di Mina.

4. Bedanya dengan mabit di Mina
Muzdalifah Mina
1 malam saja, malam 10 Dzulhijjah 2-3 malam, 11-13 Dzulhijjah
Wajib untuk mayoritas ulama Wajib untuk mayoritas ulama
Fokus: istirahat, dzikir, ambil batu Fokus: lempar jumrah, dzikir, takbir
Tanah terbuka, tanpa tenda khusus Ada tenda, lebih ramai

Singkatnya:
Mabit di Muzdalifah itu malam peralihan. Malam turunnya derajat dari kemuliaan wukuf, ke kesiapan menghadapi ujian lempar jumrah.

Malam untuk merendahkan diri, tidur di tanah, ingat bahwa kita semua sama di hadapan Allah, dan mengisi waktu dengan dzikir karena besok adalah hari paling besar: Hari Nahr.

Mabit ini ngajarin: ibadah itu ada capeknya, ada tenangnya, ada persiapannya. Semua diatur Allah biar hati nggak kosong.

Sumber : https://upwarta.com/makna-mabit-di-musdzalifah/

ZONA INTEGRITAS WBK Wilayah Bebas dari Korupsi
Logo WBK
Logo BerAKHLAK
Logo Bangga Melayani Bangsa
SURVEI KEPUASAN MASYARAKAT IKM 3,98 / 4,00 Sangat Baik Isi Survei Sekarang
LIVE CCTV