Oleh: Sholikin Jamik, Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro
Kedungademmu.id— Menjalankan puasa dengan baik memerlukan latihan dan proses pengendalian diri. Seorang Muslim dituntut mampu menahan berbagai godaan yang dapat mengurangi pahala puasa. Kesadaran bahwa manusia adalah hamba yang diciptakan untuk beribadah dan bersyukur kepada Sang Khalik menjadi modal penting agar ibadah puasa dijalani dengan khusyuk dan penuh makna.
Memahami Makna Mindfulness dalam Puasa
Sebelum memahami puasa secara mindfulness, terlebih dahulu perlu dipahami makna dari istilah tersebut. Mindfulness adalah kondisi psikologis ketika seseorang mampu menyadari secara utuh situasi dan momen yang sedang dijalani.
Dalam konteks ibadah, mindfulness berarti hadir sepenuhnya—baik jiwa maupun raga—dengan perhatian yang tenang, fokus, dan tidak reaktif secara emosional. Kesadaran ini membuat seseorang menjalani puasa dengan penuh penghayatan, bukan sekadar rutinitas ibadah.
Kesadaran spiritual tersebut meliputi beberapa hal penting. Pertama, kesadaran bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Swt.
“Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami dan menuruti hawa nafsunya.” (Q.S. Al-Kahfi: 28)
Kesadaran-kesadaran tersebut menjadi motivasi sekaligus refleksi dalam membangun sikap mindfulness selama menjalankan ibadah puasa.
Puasa dengan Kesadaran Penuh
Puasa secara mindful berarti menjalani puasa dengan kesadaran penuh terhadap tata cara dan tujuan ibadah tersebut. Puasa tidak hanya dipahami sebagai kewajiban syariat, tetapi juga sebagai bentuk penghambaan dan rasa syukur kepada Allah Swt.
Orang yang berpuasa secara mindful akan memulai puasanya dengan niat yang tulus karena Allah. Ia juga berusaha memperhatikan setiap gerak pikiran, ucapan, dan tindakannya. Ketika muncul dorongan untuk melakukan hal yang tidak baik, hati dan pikirannya segera memberi peringatan untuk kembali kepada nilai-nilai kebaikan.
Dengan kesadaran seperti ini, seseorang menjadikan Allah sebagai tujuan utama dalam ibadah puasanya. Ia menyadari bahwa Allah adalah Maha Pengawas yang mengetahui setiap niat dan perbuatan manusia.
Melatih Mindfulness dalam Puasa
Sikap mindfulness dapat dilatih melalui beberapa langkah sederhana selama menjalankan ibadah puasa.
Pertama, menata niat dan memfokuskan orientasi puasa hanya untuk Allah Swt. Niat yang ikhlas akan membuat ibadah terasa ringan dan indah.
Kedua, senantiasa memohon perlindungan kepada Allah agar diberi kekuatan menjalani puasa dengan baik dan penuh makna.
Ketiga, mengelola pikiran dan emosi selama berpuasa. Jika muncul dorongan emosi negatif, seseorang dianjurkan menenangkan diri, berwudu, atau menarik napas sejenak agar hati kembali tenang.
Keempat, mensyukuri setiap nikmat Allah, seperti kesempatan sahur, berbuka puasa, shalat tarawih, dan membaca Al-Qur’an selama Ramadan. Rasulullah saw. bersabda bahwa orang yang berpuasa memiliki kebahagiaan ketika berbuka.
Kelima, tetap melakukan aktivitas positif agar puasa tidak menjadi alasan untuk bermalas-malasan. Menjaga kesehatan, kebersihan, serta produktivitas adalah bagian dari ibadah.
Keenam, memupuk empati sosial dengan memperbanyak sedekah, infak, dan berbagi kepada sesama.
Ketujuh, melakukan refleksi diri secara terus-menerus. Jika menyadari kesalahan selama berpuasa, hendaknya segera beristigfar dan memperbaiki diri.
Menjadikan Puasa Lebih Bermakna
Puasa yang dijalani dengan kesadaran penuh akan menghadirkan kedamaian batin dan kedekatan dengan Allah Swt. Ibadah ini tidak lagi sekadar rutinitas tahunan, tetapi menjadi sarana transformasi spiritual yang memperbaiki kualitas iman.
Dengan menjalankan puasa secara mindfulness, seorang Muslim dapat merasakan keindahan iman dan syariat Islam. Semoga melalui puasa yang penuh kesadaran ini, Allah Swt. meningkatkan kualitas keimanan kita hingga mencapai derajat takwa. Aamiin.
Drs. H. Sholikin Jamik, SH.MH. Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro
Oleh : H. Sholikin Jamik Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro
Puasa merupakan madrasah ruhani yang melatih kepekaan sosial secara berkelanjutan. Selama bulan Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal sosial seperti sedekah, infak, dan memberi makan orang yang berbuka puasa. Rasulullah SAW memberikan teladan terbaik dalam hal ini. Ibnu Abbas r.a. berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kedermawanan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa puasa seharusnya meningkatkan kepedulian sosial, bukan justru melahirkan sikap individualistis. Ibadah puasa mendidik umat Islam agar senantiasa berbagi dan memperhatikan kebutuhan sesama, terutama mereka yang kurang mampu.
Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun” (HR. At- Tirmidzi).
Hadits ini menunjukkan bahwa Islam sangat mendorong terbentuknya solidaritas sosial melalui ibadah puasa.
Salah satu bukti nyata bahwa puasa memiliki dimensi sosial yang kuat adalah kewajiban zakat fitrah. Zakat fitrah diwajibkan kepada setiap Muslim yang mampu sebagai bentuk kepedulian terhadap fakir miskin. Tujuan zakat fitrah bukan hanya menyucikan jiwa orang yang berpuasa, tetapi juga memastikan bahwa kaum dhuafa dapat merasakan kebahagiaan di hari raya.
Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin” (HR. Abu Dawud).
Hadits ini menegaskan bahwa puasa yang sempurna adalah puasa yang disertai kepedulian sosial dan perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat.
Perbuatan yang merusak atau menggugurkan pahala puasa meski secara hukum fikih puasanya sah, ternyata sangat terkait dengan penyakit hati dan lisan.
Ada 5.Hal yang Membatalkan Pahala Puasa
Dalam menjalankan ibadah puasa tidak hanya sekedar menahan lapar saja, tetapi kita harus menghindari hal yang membatalkan pahala puasa. Sebab, salah satu tujuan berpuasa adalah untuk mendapatkan pahala.
Puasa dapat menjadi momentum untuk memperbaiki diri dengan tidak melakukan kemaksiatan. Namun, tanpa sadar kita terkadang sering melakukan hal yang dapat menggugurkan pahala puasa. Apa saja?
Hal yang Membatalkan Pahala Puasa Perlu kita ketahui, pahala puasa itu tidak terbatas tetapi mungkin masih banyak dari kita yang belum mengetahuinya. Agar pahala puasa tidak hilang, sebaiknya jauhi hal hal yang membatalkan pahala puasa berikut ini:
1. Berkata Dusta Seseorang yang sering berkata bohong atau dusta, maka pahala puasanya tidak akan mereka terima. Hal ini sebagaimana hadits Imam Bukhari yang menjelaskan:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalan dusta serta kebodohannya, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari).
2. Gunjing atau Ghibah Gunjing atau ghibah adalah perbuatan tercela. Selain itu, perbuatan ini juga dapat merusak pahala puasa. Hal ini tertuang dalam hadist yang menjelaskan:
“Lima hal yang membatalkan pahala berpuasa, yaitu: ghibah, mengadu domba, berdusta, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu.” (HR. Ad Dailami).
3. Mengadu Domba Hal-hal yang dapat merusak pahala puasa adalah adu domba sesama manusia. Adu domba merupakan perbuatan yang tercela karena berakibat fatal memicu terjadi perpecahan sehingga dilarang dalam Islam.
Oleh karena itu, jangan mengadu domba apabila tidak ingin pahala puasa hilang dan mengalami kerugian lainnya, baik dari segi materi maupun moral.
4. Pengumbar Syahwat Bagi mereka yang suka melihat dengan syahwat atau pengumbar syahwat, maka mereka termasuk golongan yang tidak mendapat hikmah dan pahala puasa.
Dasarnya, puasa seharusnya menjadi perisai dan pelindung diri dari kemaksiatan. Hal yang membatalkan pahala puasa ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan yang harus bisa menjaga syahwat saat berpuasa.
5. Bersumpah Palsu Tindakan yang dapat menggugurkan pahala puasa selanjutnya adalah bersumpah palsu. Artinya, seseorang yang berkata bohong atas kesaksiannya yang merugikan orang lain, demi keuntungan satu pihak tertentu.
Apalagi bersumpah palsu atas nama Allah SWT, maka ini termasuk perilaku dengan dosa besar. Oleh karena itu, senantiasa kita selalu berkata jujur.Jika ingin meraih pahala saat berpuasa. (Udin)
KEGELISAHAN EKSISTENSIAL NABI DAN FONDASI PERADABAN ISLAM
Oleh Drs. Aunur Rofiq, MH.*
I. PENDAHULUAN
Setiap peradaban besar lahir dari sebuah kegelisahan. Ia tidak lahir dari stabilitas dan kemapanan, melainkan dari retakan batin yang mempertanyakan makna dunia. Demikian pula Islam. Sebelum menjadi agama yang mengubah arah sejarah, ia muncul oleh kegelisahan seorang manusia yang menyaksikan dunia di sekelilingnya kehilangan orientasi.
"Risau" yang menyelimuti Nabi Muhammad SAW bukanlah kecemasan tanpa arah, melainkan sebuah kegelisahan yang terstruktur secara logis. Ini adalah hasil dari observasi mendalamnya terhadap kondisi masyarakat Mekah—penyembahan berhala, ketidakadilan sosial, dekadensi moral—yang bertolak belakang dengan fitrah manusia dan tatanan alam semesta yang ia saksikan. Logikanya, ada ketidaksesuaian fundamental antara realitas yang ia amati dan kebenaran yang ia yakini secara intuitif. Kegelisahan ini adalah motor penggerak bagi pencarian kebenaran, sebuah dorongan intrinsik yang tak terelakkan bagi jiwa yang murni. Secara logis, ketika ada diskrepansi besar (ketimpangan yang mencolok) antara realitas dan ideal, risau muncul sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang harus dipecahkan, dicari jawabannya. Nabi tidak pasif menerima, melainkan aktif mencari. Risau ini membawanya ke Gua Hira, ke tempat sunyi di mana logika duniawi meredup, membuka jalan bagi logika ilahi. Risau ini adalah bukti kematangan intelektual dan spiritual, sebuah langkah logis menuju pencerahan.
Pada abad ke-6 M, Jazirah Arab mengalami krisis moral, spiritual, dan sosial. Masyarakat Arab berada dalam situasi yang oleh literatur klasik disebut sebagai masajahiliyah. Istilah ini tidak semata-mata menunjuk pada “ketiadaan pengetahuan”, tetapi lebih pada “ketiadaan orientasi moral-transendental”. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa “jahiliyah adalah kondisi ketika hukum Tuhan ditinggalkan dan digantikan oleh hawa nafsu serta fanatisme kesukuan.” Penyembahan berhala merajalela, kesenjangan sosial melebar, perempuan terpinggirkan, dan hukum tunduk pada tribalitas (fanatisme kesukuan). Di tengah situasi ini, seorang lelaki bernama Muhammad memilih menyepi di Gua Hira. Ia tidak membawa manifesto politik. Ia tidak merancang revolusi sosial. Ia hanya membawa kerisauan dan kegelisahan yang tidak terpecahkan.
Kegelisahan ini bukanlah bentuk pelarian, melainkan refleksi kritis atas realitas. Riwayat sahih menyebutkan bahwa Nabi sering menyendiri dan melakukan tahannuts (kontemplasi) di Gua Hira sebelum turunnya wahyu. Praktik kontemplatif ini menunjukkan adanya proses pencarian makna yang intens.
Secara filosofis, fase ini dapat dipahami sebagai krisis eksistensial yang produktif. Ia bukan kehampaan nihilistik, tetapi ruang transisi menuju kesadaran profetik (kenabian).
Di sinilah letak filosofi mendalam: kesadaran akan Tuhan lahir dari keheningan, tetapi kesadaran itu harus dihidupkan dalam keramaian. Gua adalah rahim tempat benih tauhid dikandung, lalu Makkah adalah dunia tempat ia dilahirkan dan diperjuangkan.
II. KRISIS MAKNA ARAB PRA-ISLAM DAN KEGELISAHAN DI HIRA
1. 1. Krisis Makna dan Disorientasi Peradaban Arab Pra-Islam
Masyarakat Arab pra-Islam hidup dalam apa yang oleh tradisi Islam disebut jahiliyah. Namun jahiliyah bukan semata kebodohan intelektual; ia adalah krisis kesadaran. Manusia telah kehilangan kendali moral. Tuhan direduksi menjadi berhala bisu. Dalam bukunya, Al-Mufradat fi Gharib al-Quran (Kosa kata Langka dalam Al Quran), Al-Raghib al-Asfahani menjelaskan bahwa “jahl” bukan hanya tidak tahu, tetapi sikap melampaui batas karena “ketidakteraturan batin”.
Secara sosiologis, sebuah nilai ditentukan oleh kekuatan kabilah/suku. Secara moral, yang kuat menindas yang lemah. Secara spiritual, langit terasa jauh. Kondisi ini melahirkan disonansi batin (kondisi ketidaknyamanan mental atau konflik batin) yang dialami Nabi. Ia menyaksikan ketidakadilan dan merasakannya sebagai luka personal. Kegelisahan itu bukan eskapisme (pelarian), melainkan kesadaran kritis terhadap realitas. Dalam konteks sosial Arab abad ke-6 M, jahiliyah mencerminkan krisis makna kolektif. Nilai hidup tidak lagi bersandar pada prinsip Ilahiah, melainkan pada struktur kekuasaan kesukuan. Kabilah menjadi pusat loyalitas tertinggi. Keadilan tunduk pada kekuatan dan kemudian yang kuat selalu menjadi tuan bagi yang lemah.
Beberapa karakter utama krisis tersebut dapat diidentifikasi, seperti dari sisi politeisme teologis, Ka‘bah di Makkah dipenuhi ratusan berhala. Tuhan dipersempit menjadi representasi simbolik suku-suku tertentu. Dari sisi ketimpangan sosial, perdagangan berkembang, tetapi distribusi kekayaan tidak merata. Kaum lemah—terutama budak dan perempuan—mengalami marginalisasi sistemik, dan tidak kalah perahnya adalah perilaku relativisme moral, praktik penguburan bayi perempuan hidup-hidup menjadi simbol paling tragis dari disorientasi etika.
Dalam situasi seperti ini, manusia hidup dalam “kebisingan sosial, tetapi sepi secara spiritual”. Kondisi "kebisingan sosial" berbanding terbalik dengan "kesunyian spiritual" telah menciptakan sebuah paradoks yang menyakitkan.
2. Gua sebagai Ruang Kontemplasi: Simbol Sunyi dan Pencarian
Gua Hira bukan sekadar lokasi geografis; ia adalah simbol ruang eksistensial. Dalam tradisi spiritual, gua melambangkan rahim perenungan. Di sanalah manusia berjumpa dengan dirinya sendiri.
Di tengah lanskap tersebut, Muhammad tumbuh sebagai pribadi yang dikenal al-Amin (yang tepercaya). Integritas moralnya menjadi kontras dengan dekadensi sosial di sekitarnya. Praktik ini bukan tradisi umum masyarakat Quraisy, melainkan ekspresi personal seorang Muhammad atas kegelisahannya yang mendalam. Kegelisahan terhadap ketidakadilan sosial, gelisah atas penolakan batin terhadap politeisme, dan dalam dimensi eksistensial adalah munculnya pertanyaan tentang makna hidup dan tujuan penciptaan.
Namun penting dicatat, kegelisahan Nabi bukan pemberontakan ideologis. Ia tidak membentuk gerakan oposisi politik. Ia memilih jalan sunyi—kontemplasi.
Sunyi adalah medium transformasi. Dalam kesunyian, hiruk-pikuk dunia mereda, dan suara nurani menjadi jelas. Hira adalah ruang di mana Nabi berdialog dengan keheningan, mengolah keresahan menjadi doa yang tak terucap.
Secara filosofis, ini adalah fase negasi—penarikan diri dari struktur sosial yang rusak untuk menemukan fondasi baru.
Dalam perspektif antropologi religius, ruang seperti gua adalah ruang ambang antara dua dunia. Ia bukan sepenuhnya sosial, tetapi juga belum sepenuhnya transenden. Ia adalah wilayah peralihan.
Di Hira, Nabi menjaga jarak dari masyarakatnya, tetapi belum meninggalkannya. Ia menyendiri, namun tidak memutus tanggung jawab. Sunyi menjadi medium pemurnian kesadaran.
Sunyi bukan kekosongan; ia adalah ruang resonansi (getaran batin). Dalam kesunyian, kegelisahan tidak lagi teredam oleh hiruk-pikuk sosial. Ia menjadi suara yang jelas dan menuntut jawaban.
Dalam kesendirian di Gua Hira, kegelisahan itu mencapai puncaknya, hingga “langit” menjawabnya dengan satu kata yang menggetarkan sejarah: “Iqra” sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an (QS. Al-‘Alaq: 1–5).
Riwayat sahih dari al-Bukhari menggambarkan ketika malaikat Jibril datang dan memerintahkan “Iqra”, Nabi menjawab: “Ma ana bi qari’” (Aku tidak bisa membaca).
Dialog ini sangat simbolik. Perintah membaca di tengah pengakuan ketidakmampuan, tidak ada obyek yang dibaca, menunjukkan bahwa wahyu bukan sekadar transfer informasi, tetapi transformasi eksistensial. Ia mengguncang struktur kesadaran lama.
Getar dan ketakutan Nabi setelah peristiwa itu menandakan bahwa pengalaman wahyu bukan romantisme spiritual, melainkan beban tanggung jawab sejarah. Dalam QS. al-Muzzammil [73]: 5, disebutkan “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.”
Secara fenomenologis, pengalaman ini adalah momen rupture—pecahnya horizon lama dan lahirnya horizon baru. Kegelisahan menemukan arah tujuan. Pencarian menemukan jawaban. Kegelapan pecah oleh cahaya.
3. Dari Krisis Personal ke Kesadaran Profetik
Apa yang membedakan kegelisahan Nabi dengan kegelisahan manusia biasa? Jawabannya terletak pada orientasi dan respons. Banyak orang resah terhadap realitas, tetapi memilih apatisme atau pelarian. Nabi memilih kontemplasi. Kegelisahan Nabi bukan depresi personal, melainkan kesadaran moral. Ia adalah kegundahan yang lahir dari empati terhadap kemanusiaan.
Eksistensialisme modern menyebut kegelisahan sebagai ciri kesadaran diri, namun dalam konteks profetik/kenabian, kegelisahan melampaui diri; ia menjadi jembatan antara manusia dan wahyu. Kegelisahan kadang sebagai “guru yang membawa manusia kepada lompatan iman, setelah tersadar dari keterlemparannya ke dunia.”
Jika dikontekstualisasikan, kegelisahan Nabi di Hira dapat dipahami sebagai momen keterjagaan eksistensial. Ia menyadari ketidakseimbangan dunia dan meresponsnya dengan pencarian spiritual.
Ketika wahyu turun dalam Al-Qur'an (QS. al-‘Alaq [96]: 1–5), ia bukan sekadar jawaban atas kegelisahan personal, melainkan mandat universal: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan…” Kalimat ini menyatukan tiga dimensi: Epistemologis – Membaca sebagai aktivitas intelektual, Teologis – Dengan nama Tuhan sebagai orientasi, dan Ontologis – Tuhan sebagai Pencipta, sebagai dasar keberadaan.
Dari sini kegelisahan berubah menjadi kesadaran profetik. Dari kesunyian dan kesenyapan di Hira, telah melahirkan suara yang menggema ke seluruh jazirah.
Saat malaikat Jibril datang dengan perintah “Iqra”, respons Nabi bukan euforia, melainkan ketakutan dan gemetar. Getaran itu menandai lahirnya tanggung jawab sejarah.
Menarik bahwa pengalaman paling sunyi dalam sejarah Islam justru menjadi awal gerakan sosial terbesar. Ini menunjukkan dialektika yang unik: sunyi bukan antitesis aksi, melainkan justru menjadi fondasi.
Hira bukan eskapisme (pelarian kosong). Ia adalah laboratorium kesadaran. Tanpa fase sunyi, aksi mudah terjebak pada ambisi ego. Tanpa kontemplasi, gerakan sosial kehilangan kedalaman spiritual.
Kegelisahan Nabi di Hira menjadi contoh bahwa perubahan peradaban tidak dimulai dari luar, tetapi dari revolusi batin.
4. “Iqra” sebagai Fondasi Kesadaran Peradaban
Kata pertama wahyu bukan “sembahlah”, bukan “takluklah”, tetapi “bacalah”. Ini adalah deklarasi epistemologis (pernyataan tentang kebenaran hakiki).
Menarik bahwa kata Iqra diulang dua kali. Pengulangan dalam retorika Arab menunjukkan penekanan. Pesan pertama yang ditegaskan wahyu bukan ritual, bukan hukum, melainkan aktivitas intelektual.
Lebih dalam lagi, “Iqra” tidak berdiri sendiri. Ia disertai frasa bismi rabbika—“dengan nama Tuhanmu”. Artinya, secara nilai, membaca obyek itu tidak netral. Ia harus berorientasi transendental/Ketuhanan. Frasa bismi rabbika mengikat aktivitas intelektual pada kesadaran tauhid/Ilahiah.
Paradigma ini unik. Dalam sejarah Barat, konflik antara gereja dan sains melahirkan sekularisasi. Dalam Islam, wahyu pertama justru mendorong aktivitas intelektual, yang mengintegrasikan iman dan rasio. Ia menolak dikotomi sakral-profan. Ia menegaskan bahwa membaca adalah ibadah.
Dari sini kemudian lahir tradisi keilmuan Islam—perpustakaan, observatorium, sains dan filsafat. Satu kata di Hira mengguncang struktur epistemologi dunia. Sejarah membuktikan bahwa dalam waktu kurang dari dua abad, dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan global. Baghdad dan Cordoba menjadi mercusuar peradaban. Semua itu bermula dari satu kata “Iqra”. Ini menunjukkan transformasi peradaban dimulai dari transformasi kesadaran. Sebuah perintah yang menyentuh dimensi batin mampu melahirkan struktur sosial baru. “Iqra” melahirkan budaya bertanya. Budaya bertanya melahirkan budaya meneliti. Budaya meneliti melahirkan peradaban ilmu.
Dalam perspektif filosofis, Hira dapat dipahami sebagai fondasi peradaban. Ia melambangkan tiga tahap transformasi: Kegelisahan, Kontemplasi dan Wahyu atau Pencerahan. Setiap peradaban besar melewati fase ini. Tanpa kesadaran krisis, tidak ada refleksi. Tanpa refleksi, tidak ada paradigma baru. Islam memberikan contoh historis bahwa kebangkitan sejati dimulai dari revolusi kesadaran, bukan dominasi kekuasaan.
5. Transformasi Kesadaran: Dari Individu ke Peradaban
Peristiwa Hira adalah transformasi personal yang berujung pada transformasi sosial. Kesadaran tauhid membongkar hierarki palsu. Semua manusia setara di hadapan Tuhan.
Revolusi ini tidak dimulai dengan pedang, tetapi dengan kesadaran. Ia mengubah paradigma: dari politeisme ke monoteisme, dari tribalitas ke universalitas, dari kebodohan ke pencarian ilmu.
Kegelisahan Nabi menjadi rahim lahirnya peradaban. Tanpa risau itu, tidak ada Iqra. Tanpa Iqra, tidak ada kebangkitan intelektual.
“Iqra” hari ini berarti membaca ulang dunia dengan kesadaran tauhid—mengintegrasikan ilmu dan etika, teknologi dan tanggung jawab moral.
Kegelisahan bukan bayang-bayang yang menakutkan, tetapi bisikan halus yang mengajak hati menempuh perjalanan menuju kedalaman dirinya sendiri. Jika dari dada Nabi yang resah lahir “sabda langit” yang mengubah arah sejarah, maka manusia modern dapat mengubah kegelisahan menjadi kesadaran kritis.
Perintah membaca “dengan nama Tuhan” mengingatkan bahwa ilmu tanpa moral, berpotensi destruktif. Teknologi tanpa etika, melahirkan alienasi. Maka, “Iqra” bukan hanya seruan abad ke-7, tetapi mandat sepanjang zaman menuju peradaban.
Setiap pengalaman mistis tidak otomatis melahirkan perubahan sosial. Banyak pengalaman spiritual berhenti pada kesalehan personal. Namun pengalaman di Gua Hira justru menjadi titik balik sejarah. Setelah menerima wahyu pertama melalui malaikat Jibril, Muhammad tidak mendirikan sekte eksklusif atau komunitas esoterik. Ia kembali ke masyarakatnya. Ia membawa pesan yang tidak hanya menenangkan batin, tetapi menggugat struktur sosial.
Di sinilah letak keunikan pengalaman profetik: ia bersifat transformatif. Wahyu tidak berhenti sebagai cahaya yang hanya menerangi jiwa secara pribadi, tetapi mengalir keluar menjadi terang dan menjalar menjadi cahaya yang membimbing peradaban; ia menjadi mandat historis. Peristiwa Hira adalah “sentuhan langit” yang memotong arus sejarah manusia, menghadirkan cahaya baru di tengah gelapnya zaman —ketika langit turun menyapa bumi dan mengubah kegelisahan menjadi petunjuk. Ia memecah kesinambungan jahiliyah dan membuka horizon baru.
6. Tauhid sebagai Fondasi Rekonstruksi Sosial
Inti pesan awal Islam adalah tauhid—pengakuan akan keesaan Tuhan. Namun tauhid bukan sekadar pernyataan teologis; ia memiliki implikasi sosial yang radikal.
Jika Tuhan Esa, maka tidak ada legitimasi absolut bagi kekuasaan manusia. Jika semua manusia diciptakan oleh Tuhan yang sama, maka hierarki berbasis nasab menjadi tidak relevan. Tauhid meruntuhkan tiga pilar utama jahiliyah, Absolutisme Suku – digantikan oleh persaudaraan iman, Eksploitasi Sosial – digugat dengan prinsip keadilan dan zakat, Politeisme Moral – digantikan oleh kesatuan nilai, sehingga pengalaman spiritual di Hira melahirkan paradigma sosial yang egaliter. Kesadaran tauhid menjadi fondasi pembentukan masyarakat baru.
Transformasi berikutnya adalah pembentukan komunitas beriman (ummah). Ini bukan sekadar kumpulan individu religius, tetapi entitas sosial dengan visi etis bersama. Peristiwa hijrah ke Madinah menjadi fase institusionalisasi nilai wahyu, yakni wahyu diwujudkan secara nyata dalam sistem kehidupan. Di sana, Nabi membangun tatanan sosial yang menegaskan supremasi hukum moral, solidaritas lintas suku, kontrak sosial yang inklusif. Dokumen yang dikenal sebagai “Piagam Madinah” menunjukkan bahwa wahyu melahirkan sistem sosial yang plural dan berkeadilan, yang kemudian berakibat bahwa kegelisahan di Hira tidak hanya menyembuhkan krisis batin Nabi, tetapi juga krisis sosial masyarakatnya.
Menarik bahwa wahyu turun secara gradual selama 23 tahun (demikian tercatat dalam sejarah). Ini menunjukkan adanya dialog dinamis antara teks dan konteks. Al-Qur'an tidak hadir sebagai kitab hukum yang selesai dalam satu malam. Ia turun mengikuti perkembangan situasi sosial. Ini menunjukkan bahwa kesadaran peradaban bersifat prosesual (suatu proses yang terus berlangsung dan berkembang). Ini menegaskan bahwa wahyu bukan teks beku, tetapi sumber inspirasi yang harus dibaca dalam dinamika sejarah. Transformasi peradaban Islam bukan hasil utopia instan, melainkan proses panjang internalisasi nilai dan pembentukan karakter kolektif
7. Revolusi Etika: Dari Kekerasan Menuju Keadilan
Salah satu perubahan paling mendasar yang dibawa Islam adalah revolusi etika. Masyarakat jahiliyah mengagungkan balas dendam, Islam memperkenalkan pemaafan. Masyarakat jahiliyah memarginalkan perempuan. Islam memberikan hak waris, marwah dan martabat perempuan. Masyarakat jahiliyah memuja kekuatan struktur, suku dan kebangsawanan, Islam memuliakan ilmu, ketakwaan dan kesetaraan. Semua perubahan ini berakar pada kesadaran yang lahir dari Hira.
Jika Iqra adalah perubahan besar dalam cara manusia memperoleh pengetahuan, maka tauhid adalah perubahan dalam cara manusia memahami hakikat kehidupan, dan keadilan adalah perubahan dalam cara manusia bertindak dan menata kehidupan. Ketiganya menjadi fondasi bagi lahirnya sebuah peradaban yang utuh.
8. Relevansi Transformasi Hira bagi Dunia Kontemporer
Dunia modern menghadapi paradoks: kemajuan material yang luar biasa, tetapi fragmentasi moral yang tajam. Manusia terkoneksi secara digital, tetapi terasing secara eksistensial.
Transformasi Hira mengajarkan beberapa hal penting: Perubahan sosial harus diawali transformasi batin, ilmu harus terintegrasi dengan nilai, dan kesunyian kontemplatif penting di tengah kebisingan global. Jika masyarakat modern ingin keluar dari krisis makna, ia membutuhkan “Hira”, sebagai simbolik bagi ruang refleksi untuk merekonstruksi orientasi. “Iqra” hari ini bukan hanya membaca teks suci, tetapi membaca realitas kompleks dengan kesadaran tauhid, melihat keterhubungan antara Tuhan, manusia, dan alam.
III. SIMPULAN
Di tengah risau Nabi di Hira, turunlah Iqra, sejarah kemudian menemukan titik baliknya. Kerisauan dan kegelisahan eksistensial Nabi bukan kelemahan, melainkan rahim kelahiran peradaban. Tanpa risau, tidak ada pencarian. Tanpa pencarian, tidak ada wahyu. Tanpa wahyu, tidak ada kesadaran peradaban.
Sejarah peradaban tidak selalu berubah oleh dentuman pedang, tetapi oleh getaran kata. Perintah “Iqra” bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca realitas secara integral—menghubungkan Tuhan, manusia, dan alam dalam satu kesadaran tauhid.
Peradaban besar lahir bukan dari kenyamanan, tetapi dari keberanian menghadapi kegelisahan. Hira mengajarkan sunyi adalah guru, risau adalah pintu, dan wahyu adalah cahaya. Maka, setiap zaman membutuhkan Hira-nya sendiri. Setiap jiwa membutuhkan Iqra-nya sendiri. Dan setiap kegelisahan, jika dikelola dengan kesadaran, dapat menjadi awal kebangkitan peradaban.
Semoga. Wallahu a’lamu bish shawab.
* Penulis adalah Hakim Pengadilan Agama Bojonegoro
Drs. H. Sholikin Jamik, SH.MH. Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro
Oleh : Drs. H. Sholikin Jamik, SH. MH. Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro.
Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan sangat penting dalam pembinaan spiritual dan moral umat Islam. Ibadah ini tidak hanya berorientasi pada hubungan antara manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengandung dimensi sosial yang sangat kuat. Puasa menjadi sarana pendidikan jiwa yang efektif dalam membentuk karakter, mengendalikan hawa nafsu, serta menumbuhkan kepekaan sosial terhadap sesama manusia. Oleh karena itu, puasa tidak dapat dipahami semata-mata sebagai aktivitas menahan lapar dan dahaga, melainkan sebagai proses pembentukan manusia yang berakhlak mulia dan peduli terhadap kondisi sosial di sekitarnya.
Allah SWT mewajibkan puasa dengan tujuan yang sangat jelas, yaitu agar manusia mencapai derajat ketakwaan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”(QS. Al-Baqarah: 183).
Ketakwaan dalam Islam bersifat komprehensif, mencakup ketaatan individu kepada Allah serta kepedulian sosial terhadap sesama manusia. Dengan demikian, puasa menjadi ibadah yang mengintegrasikan dimensi spiritual dan sosial secara seimbang.
Makna Puasa dalam Perspektif Sosial
Secara bahasa, puasa berarti menahan diri. Dalam konteks syariat, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari disertai niat karena Allah SWT. Namun, makna menahan diri ini tidak hanya terbatas pada aspek fisik, melainkan juga mencakup pengendalian sikap, ucapan, dan perilaku sosial.
Puasa melatih manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, termasuk sifat egoisme, keserakahan, dan ketidakpedulian terhadap orang lain. Dalam kehidupan sosial, banyak konflik
dan ketimpangan muncul akibat dominasi hawa nafsu dan kepentingan pribadi. Melalui puasa, seorang Muslim dididik untuk mengutamakan nilai kesabaran, empati, dan kepedulian sosial.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa harus berdampak pada perbaikan akhlak dan perilaku sosial. Beliau bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum” (HR. Al-Bukhari). Hadits ini menegaskan bahwa puasa yang tidak membentuk akhlak dan kepekaan sosial merupakan puasa yang kehilangan esensinya.
Salah satu hikmah terbesar dari puasa adalah memberikan pengalaman langsung kepada orang yang berpuasa tentang rasa lapar dan haus. Pengalaman ini menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan empati terhadap orang-orang yang hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Jika orang yang berkecukupan saja merasa berat menahan lapar selama beberapa jam, maka seharusnya ia mampu membayangkan betapa sulitnya kehidupan mereka yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengecam sikap orang-orang yang tidak peduli terhadap kaum lemah dan miskin: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” (QS. Al-Ma’un: 1–3).
Ayat ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kaum miskin merupakan bagian integral dari keimanan. Puasa berfungsi sebagai sarana pendidikan agar seseorang tidak menjadi pribadi yang abai terhadap penderitaan sosial.
SuaraBojonegoro.com – Para ulama membagi puasa dalam tiga kategori, shaum al-syarî’ah (puasa syariat), shaum al-tharîqah (puasa tarekat) dan shaum al-haqiqah (puasa hakikat).
Definisi puasa syariat adalah: Menahan diri dari makanan, minuman, dan bersetubuh di waktu siang.
Dari sudut pandang fiqih (Syariat), yang membatalkan puasa secara umum hanyalah makan, minum dan bersetubuh di siang hari. Selama bisa menahan diri dari tiga hal tersebut, puasa kita sah dalam sudut pandang fiqih. Hal ini berbeda dengan puasa tarekat yaitu
Menahan seluruh anggota tubuhnya dari melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan dan dilarang, menjauhi sifat-sifat tercela seperti ujub, sombong, kikir dan selainnya secara lahir dan batin. Maka setiap melakukan hal-hal tersebut akan membatalkan puasa tarekatnya.
Puasa ahli thoriqoh berbeda dengan puasa secara syariat yang hanya menahan makan minum. Puasa ahli thoriqah menahan seluruh anggota tubuh dan panca indra. membersihkan diri dari hal yang tidak bagus. Menghentikan dari hal yang tidak berfaedah. Menjaga batin dari sifat-sifat tercela yang dapat menyebabkan penyakit hati.
PERBEDAAN PUASA SYARIAT DAN PUASA THARIKAT
Perbedaan adalah perihal
1. Waktu. Puasa syariat ditentukan waktunya atau mempunyai waktu tertentu, muwaqqat. Misalnya pada bulan Ramadhan saja. Atau puasa-puasa sunnah seperti senin kamis, puasa Dawud dan Ayyamul bidh seperti yang biasa diamalkan ahlu Zawiyah. Sedangkan puasa tarekat tidak mempunyai batasan waktu tertentu muabbad fi jamî’i ‘umrih, sepanjang hidup manusia.Berbukanya puasa syariat saat maghrib, sedangkan berbukanya ahli thoriqah saat meninggal. Puasa tarekat itu sepanjang hayat. Menahan dan menghentikan segala perbuatan yang tidak layak dan tidak pantas secara akhlak.
2. Yang membatalkan puasa.Dalam puasa syareat, selama seseorang berhasil memenuhi syarat dan rukunnya, tidak melanggar tiga larangan seperti yang disebutkan di atas, puasanya sah secara fiqih, meskipun dia menggunjing, marah, pelit, dan sombong. Tapi tetap saja, dia mendapatkan dosa dari perbuatannya itu. Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah saw. sampai beliau bersabda:
“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar, dan betapa banyak orang yang bangun malam (untuk beribadah) yang tidak mendapatkan dari bangun malamnya kecuali begadang.” (HR Imam Ibnu Majah)
Karena itu disebutkan, betapa banyak orang berpuasa tetapi ia justru berbuka, dan betapa banyak orang yang berbuka (tidak puasa) namun ia berpuasa. Yakni menahan anggota badannya dari dosa-dosa, menahan diri dari menyakiti sesama manusia.
3. Wilayah puasa. Puasa Syariat itu wilayahnya di shodr (dada), yang dibelenggu adalah nafsu amarah. Puasa tarekat wilayahnya qolb (hati). yang dibelenggu adalah nafsu lawwamah.( bersambung ke puasa hakekat)
H. Sholikin Jamik, Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro (Istimewa/kedungademmu.id)
Oleh: H. Sholikin Jamik, Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro
Kedungademmu.id— Puasa merupakan ibadah fundamental dalam Islam yang tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga sarat makna spiritual dan sosial. Selama Ramadan, umat Islam menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, hakikat puasa tidak berhenti pada aspek lahiriah. Puasa adalah proses pendidikan jiwa yang menyentuh kedalaman iman sekaligus membentuk kepedulian sosial.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al-qur'an surah al-Baqarah ayat 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Ketakwaan tidak hanya bermakna ketaatan individu kepada Allah, tetapi juga kesadaran moral dalam kehidupan sosial. Orang yang bertakwa akan menjaga hubungan vertikal dengan Tuhannya sekaligus memperbaiki hubungan horizontal dengan sesama manusia.
Secara bahasa, puasa berarti menahan diri. Dalam perspektif syariat, menahan diri mencakup pengendalian hawa nafsu, amarah, dan segala bentuk perilaku tercela. Puasa melatih kesabaran, kejujuran, serta keikhlasan. Ia menjadi sarana untuk menundukkan egoisme dan menumbuhkan empati.
Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum.” (H.R. Al-Bukhari). Hadis ini menegaskan bahwa puasa harus berbuah pada perubahan akhlak dan perilaku sosial.
Dalam dimensi sosial, puasa menghadirkan pengalaman nyata tentang rasa lapar dan haus. Pengalaman tersebut mengajarkan kepekaan terhadap kaum fakir dan miskin. Al-Qur’an mengecam mereka yang mengabaikan tanggung jawab sosialnya:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (al-qur'an surah al-Ma’un ayat 1–3)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ibadah tidak dapat dipisahkan dari kepedulian sosial. Kesalehan spiritual harus melahirkan tindakan nyata dalam membantu sesama.
Dengan demikian, puasa sejatinya merupakan integrasi antara spiritualitas dan solidaritas sosial. Ia membentuk pribadi yang taat, sabar, serta peduli. Jika nilai-nilai puasa benar-benar dihayati dan diamalkan, maka Ramadan akan menjadi momentum transformasi diri sekaligus perbaikan sosial yang berkelanjutan.
Drs. H. Sholikin Jamik, SH.MH. Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro
Oleh : Drs. H. Sholikin Jamik, SH.MH. Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro
Puasa Syariat itu di shodr (dada), yang dibelenggu adalah nafsu amarah. Puasa tarekat wilayahnya qolb (hati). yang dibelenggu adalah nafsu lawwamah. Puasa hakikat, tidak hanya shodr dan qolbnya yang berpuasa tapi ia telah meresap kedalam Fuad hamba. Ini adalah perjalanan puasa hamba dari maqam ma’rifat kepada maqam hakikat.
Puasa hakikat adalah puasanya para ahlul muthma’innah. Para hamba Allah yang telah sampai pada nafsul muthma’innah, jiwanya senantiasa tenang dalam ketaatan kepada Allah. Sepanjang hari mereka menahan kerinduan dan kecintaan kepada Allah.
Sampai di sini kita dapat memahami bahwa maksud hadits Rasulullah saw. tentang setan-setan yang dibelenggu ketika datang bulan ramadhan maksudnya juga dibelenggunya bala tentara setan yang ada didalam diri kita. Dalam aliran darah kita. Yaitu nafsu dan syahwat.
Hakikat puasa sendiri baik secara syariat maupun tarekat adalah jalan seorang hamba meneladani dan meresapi sifat-sifat Ketuhanan. Allah tidak makan minum, tidak beristri. Allah juga tidak berbuat zalim dan tercela karena Allah adalah Pemilik sifat-sifat kesempurnaan. Inilah maksud firman Allah Ta’ala dalam hadits Qudsy:
?????????? ??? ??????? ??????? ???? “Puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”. (HR. Imam Ahmad)
Kemudian Syeikh Abdul Qadir al-Jilani mengutip hadits Qudsi dalam kitabnya, Sirr al-Asrâr, yang mengatakan:
??????? ?????????? ???????????: ???????? ?????? ???????????? ?????????? ?????? ???????? ???????? “Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: (1). Ketika berbuka, dan (2). Ketika melihat Ke-Maha Indah-an Allah.”
Bagi Ulama syariat yang dimaksud dengan berbuka adalah makan ketika matahari tenggelam diwaktu maghrib, dan melihat hilal di malam Idul Fitri tanda ramadhan telah berakhir. Sedangkan ahli thoriqoh menegaskan bahwa berbuka itu akan diraih ketika masuk syurga dengan memakan kenikmatan syurga, dan kegembiraan ketika memandang Allah swt. Yaitu ketika bertemu dengan Allah Ta’ala di hari qiyamat nanti, dengan pandangan rahasia batin secara nyata.
Bagi kita para salik minimal harus masuk dalam puasa Thariqah. Puasa yang tidak hanya menahan makan dan minum saja. Namun juga menahan juga segala maksiat lahir dan batin. Jika sudah puasa, shalat jamaah, wirid, namun masih maksiat, berarti belum ada istihya’ (memiliki rasa malu) dan muroqobah (merasa diawasi). Masih berproses menuju manusia paripurna. Introspeksi diri lagi. Apakah ibadah kita hanya untuk memenuhi kewajiban? Karena kebutuhan? Atau sedang menuju jalan cinta?.
Puncak Puasa Hakikat adalah puasa menahan hati paling dalam (Lubb) dari segala hal selain Allah Ta’ala, menahan rahasia batin (sirr) dari mencintai memandang selain Allah Ta’ala seperti disampaikan dalam hadits Qudsy:
??????? ??? ???? ??? “Manusia itu rahasiaKu dan Aku rahasianya.”
Rahasia itu bermula dari Nurnya Allah swt, hingga ia tidak berpaling kepada selain Allah Ta’ala. Selain Allah Ta’ala, tidak ada yang dicintai atau disukai dan tak ada yang dicari baik di dunia maupun di akhirat. Bila terjadi rasa cinta kepada selain Allah gugurlah puasa hakikatnya. Ia harus segera mengqodho puasanya, yaitu dengan cara kembali kepada Allah swt dan bertemu denganNya. Sebab balasan Puasa Hakikat adalah bertemu Allah Ta’ala di akhirat.
Ramadhan kita seharusnya bukan hanya mengejar pahala tapi mencari ridha dan Mahabbah. Puasa kita harusnya tidak hanya karena Allah tapi juga harus masuk dalam keterlibatan dan kebersamaan dalam perbuatan-Nya. Tenggelam dalam tauhidul Af’aal. Semoga kita diberikan cicipan ma’rifat dan mahabbah oleh Allah ta’ala. Aamiin
SuaraBojonegoro.com – Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan sangat penting dalam pembinaan spiritual dan moral umat Islam. Ibadah ini tidak hanya berorientasi pada hubungan antara manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengandung dimensi sosial yang sangat kuat. Puasa menjadi sarana pendidikan jiwa yang efektif dalam membentuk karakter, mengendalikan hawa nafsu, serta menumbuhkan kepekaan sosial terhadap sesama manusia. Oleh karena itu, puasa tidak dapat dipahami semata-mata sebagai aktivitas menahan lapar dan dahaga, melainkan sebagai proses pembentukan manusia yang berakhlak mulia dan peduli terhadap kondisi sosial di sekitarnya.
Allah SWT mewajibkan puasa dengan tujuan yang sangat jelas, yaitu agar manusia mencapai derajat ketakwaan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”(QS. Al-Baqarah: 183).
Ketakwaan dalam Islam bersifat komprehensif, mencakup ketaatan individu kepada Allah serta kepedulian sosial terhadap sesama manusia. Dengan demikian, puasa menjadi ibadah yang mengintegrasikan dimensi spiritual dan sosial secara seimbang.
Makna Puasa dalam Perspektif Sosial
Secara bahasa, puasa berarti menahan diri. Dalam konteks syariat, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari disertai niat karena Allah SWT. Namun, makna menahan diri ini tidak hanya terbatas pada aspek fisik, melainkan juga mencakup pengendalian sikap, ucapan, dan perilaku sosial.
Puasa melatih manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, termasuk sifat egoisme, keserakahan, dan ketidakpedulian terhadap orang lain. Dalam kehidupan sosial, banyak konflik
dan ketimpangan muncul akibat dominasi hawa nafsu dan kepentingan pribadi. Melalui puasa, seorang Muslim dididik untuk mengutamakan nilai kesabaran, empati, dan kepedulian sosial.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa harus berdampak pada perbaikan akhlak dan perilaku sosial. Beliau bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum” (HR. Al-Bukhari). Hadits ini menegaskan bahwa puasa yang tidak membentuk akhlak dan kepekaan sosial merupakan puasa yang kehilangan esensinya.
Salah satu hikmah terbesar dari puasa adalah memberikan pengalaman langsung kepada orang yang berpuasa tentang rasa lapar dan haus. Pengalaman ini menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan empati terhadap orang-orang yang hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Jika orang yang berkecukupan saja merasa berat menahan lapar selama beberapa jam, maka seharusnya ia mampu membayangkan betapa sulitnya kehidupan mereka yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengecam sikap orang-orang yang tidak peduli terhadap kaum lemah dan miskin: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” (QS. Al-Ma’un: 1–3).
Ayat ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kaum miskin merupakan bagian integral dari keimanan. Puasa berfungsi sebagai sarana pendidikan agar seseorang tidak menjadi pribadi yang abai terhadap penderitaan sosial. (**)
Sholikin Jamik, Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro (Istimewa/Kedungademmu.id)
Oleh: Sholikin Jamik;Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro
Kedungademmu.id—Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan ruhani seorang hamba menuju pengenalan yang lebih dalam kepada Allah Swt. Dalam khazanah tasawuf, puasa dipahami dalam beberapa tingkatan: syariat, tarekat, hingga hakikat. Puncaknya adalah puasa orang-orang ma’rifat, yakni mereka yang telah mengenal Allah dengan hati yang jernih dan jiwa yang tenang.
Puasa syariat bersemayam di wilayah shadr (dada). Pada tahap ini, yang dibelenggu adalah nafsu amarah, dorongan kasar yang mengajak kepada keburukan. Seseorang menahan makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa sesuai ketentuan hukum Islam.
Naik satu tingkat, puasa tarekat memasuki wilayah qalb (hati). Di sini, yang dikendalikan adalah nafsu lawwamah, jiwa yang masih berbolak-balik antara taat dan maksiat. Puasa tidak hanya menahan yang lahiriah, tetapi juga menahan diri dari dosa batin seperti riya, hasad, dan ujub. Hamba mulai menghadirkan rasa diawasi (muraqabah) dan malu kepada Allah (istihya’).
Adapun puasa hakikat meresap hingga ke fuad, relung terdalam jiwa. Inilah puasanya para ahlul muthma’innah, jiwa-jiwa yang tenang dalam ketaatan. Mereka tidak sekadar menahan lapar, tetapi menahan hati dari berpaling kepada selain Allah. Kerinduan dan cinta kepada-Nya justru semakin menyala di tengah lapar dan dahaga.
Dalam hadis qudsi, Allah Swt. berfirman:
????????? ??? ??????? ??????? ????
“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Imam Ahmad)
Sabda ini menegaskan bahwa puasa memiliki dimensi ketuhanan yang sangat dalam. Puasa adalah ibadah rahasia antara hamba dan Tuhannya.
Dalam kitab Sirr al-Asrâr, Syeikh Abdul Qadir Jailani mengutip hadis qudsi:
“Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika melihat keindahan-Ku.”
Ulama syariat memahami berbuka sebagai saat matahari terbenam dan kegembiraan Idulfitri. Namun ahli tarekat memaknainya lebih dalam: berbuka sejati adalah saat seorang hamba masuk surga dan menikmati karunia Allah, sedangkan kebahagiaan tertinggi adalah saat bertemu dengan-Nya di akhirat.
Puasa hakikat mencapai puncaknya ketika hati paling dalam (lubb) terjaga dari selain Allah. Rahasia batin (sirr) tidak lagi mencintai dunia secara berlebihan. Dalam hadis qudsi disebutkan:
“Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya.”
Artinya, ruh manusia berasal dari cahaya Ilahi. Jika hati masih berpaling kepada selain-Nya sebagai tujuan utama, maka hakikat puasa belum sempurna. Ia harus kembali, bertobat, dan memperbarui niatnya.
Ramadan seharusnya tidak hanya menjadi arena mengejar pahala, tetapi momentum mencari rida dan mahabbah Allah. Puasa bukan hanya kewajiban, melainkan kebutuhan ruhani. Ia adalah jalan meneladani sifat-sifat kesempurnaan Ilahi: tidak zalim, tidak tercela, dan senantiasa dalam kebaikan.
Bagi para salik (penempuh jalan spiritual), minimal puasa harus mencapai derajat tarekat: menjaga lahir dan batin dari maksiat. Jika masih rajin beribadah namun tetap gemar berbuat dosa, berarti perjalanan menuju manusia paripurna masih panjang.
Akhirnya, puasa orang ma’rifat adalah puasa cinta. Puasa yang menahan diri dari segala yang menjauhkan dari Allah, dan mendekatkan diri kepada-Nya dalam setiap detik kehidupan. Semoga Ramadan kita tidak berhenti pada lapar dan dahaga, tetapi berlanjut pada ketenangan jiwa dan kedekatan dengan-Nya.
Drs. H. Sholikin Jamik, SH.MH. Ketua KBIHU Masyarakat Madani Bojonegoro
Oleh : Drs. H. Sholikin Jamik, SH.MH. Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro
Para ulama membagi puasa dalam tiga kategori, shaum al-syarî’ah (puasa syariat), shaum al-tharîqah (puasa tarekat) dan shaum al-haqiqah (puasa hakikat).
Definisi puasa syariat adalah: Menahan diri dari makanan, minuman, dan bersetubuh di waktu siang.
Dari sudut pandang fiqih (Syariat), yang membatalkan puasa secara umum hanyalah makan, minum dan bersetubuh di siang hari. Selama bisa menahan diri dari tiga hal tersebut, puasa kita sah dalam sudut pandang fiqih.
Hal ini berbeda dengan puasa tarekat yaitu Menahan seluruh anggota tubuhnya dari melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan dan dilarang, menjauhi sifat-sifat tercela seperti ujub, sombong, kikir dan selainnya secara lahir dan batin. Maka setiap melakukan hal-hal tersebut akan membatalkan puasa tarekatnya.
Puasa ahli thoriqoh berbeda dengan puasa secara syariat yang hanya menahan makan minum. Puasa ahli thoriqah menahan seluruh anggota tubuh dan panca indra. membersihkan diri dari hal yang tidak bagus. Menghentikan dari hal yang tidak berfaedah. Menjaga batin dari sifat-sifat tercela yang dapat menyebabkan penyakit hati..
PERBEDAAN PUASA SYARIAT DAN PUASA THARIKAT
Perbedaan adalah perihal Waktu. Puasa syariat ditentukan waktunya atau mempunyai waktu tertentu, muwaqqat. Misalnya pada bulan Ramadhan saja. Atau puasa-puasa sunnah seperti senin kamis, puasa Dawud dan Ayyamul bidh seperti yang biasa diamalkan ahlu Zawiyah.
Sedangkan puasa tarekat tidak mempunyai batasan waktu tertentu muabbad fi jamî’i ‘umrih, sepanjang hidup manusia. Berbukanya puasa syariat saat maghrib, sedangkan berbukanya ahli thoriqah saat meninggal. Puasa tarekat itu sepanjang hayat. Menahan dan menghentikan segala perbuatan yang tidak layak dan tidak pantas secara akhlak.
2. Yang membatalkan puasa.Dalam puasa syareat, selama seseorang berhasil memenuhi syarat dan rukunnya, tidak melanggar tiga larangan seperti yang disebutkan di atas, puasanya sah secara fiqih, meskipun dia menggunjing, marah, pelit, dan sombong. Tapi tetap saja, dia mendapatkan dosa dari perbuatannya itu. Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah saw. sampai beliau bersabda:
“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar, dan betapa banyak orang yang bangun malam (untuk beribadah) yang tidak mendapatkan dari bangun malamnya kecuali begadang.” (HR Imam Ibnu Majah)
Karena itu disebutkan, betapa banyak orang berpuasa tetapi ia justru berbuka, dan betapa banyak orang yang berbuka (tidak puasa) namun ia berpuasa. Yakni menahan anggota badannya dari dosa-dosa, menahan diri dari menyakiti sesama manusia.
3. Wilayah puasa. Puasa Syariat itu wilayahnya di shodr (dada), yang dibelenggu adalah nafsu amarah. Puasa tarekat wilayahnya qolb (hati). yang dibelenggu adalah nafsu lawwamah.( bersambung ke puasa hakekat)
SuaraBojonegoro.com – Puasa Syariat itu di shodr (dada), yang dibelenggu adalah nafsu amarah. Puasa tarekat wilayahnya qolb (hati). yang dibelenggu adalah nafsu lawwamah. Puasa hakikat, tidak hanya shodr dan qolbnya yang berpuasa tapi ia telah meresap kedalam Fuad hamba. Ini adalah perjalanan puasa hamba dari maqam ma’rifat kepada maqam hakikat.
Puasa hakikat adalah puasanya para ahlul muthma’innah. Para hamba Allah yang telah sampai pada nafsul muthma’innah, jiwanya senantiasa tenang dalam ketaatan kepada Allah. Sepanjang hari mereka menahan kerinduan dan kecintaan kepada Allah.
Sampai di sini kita dapat memahami bahwa maksud hadits Rasulullah saw. tentang setan-setan yang dibelenggu ketika datang bulan ramadhan maksudnya juga dibelenggunya bala tentara setan yang ada didalam diri kita. Dalam aliran darah kita. Yaitu nafsu dan syahwat.
Hakikat puasa sendiri baik secara syariat maupun tarekat adalah jalan seorang hamba meneladani dan meresapi sifat-sifat Ketuhanan. Allah tidak makan minum, tidak beristri. Allah juga tidak berbuat zalim dan tercela karena Allah adalah Pemilik sifat-sifat kesempurnaan. Inilah maksud firman Allah Ta’ala dalam hadits Qudsy:
?????????? ??? ??????? ??????? ????
“Puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”. (HR. Imam Ahmad)
Kemudian Syeikh Abdul Qadir al-Jilani mengutip hadits Qudsi dalam kitabnya, Sirr al-Asrâr, yang mengatakan:
“Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: (1). Ketika berbuka, dan (2). Ketika melihat Ke-Maha Indah-an Allah.”
Bagi Ulama syariat yang dimaksud dengan berbuka adalah makan ketika matahari tenggelam diwaktu maghrib, dan melihat hilal di malam Idul Fitri tanda ramadhan telah berakhir. Sedangkan ahli thoriqoh menegaskan bahwa berbuka itu akan diraih ketika masuk syurga dengan memakan kenikmatan syurga, dan kegembiraan ketika memandang Allah swt. Yaitu ketika bertemu dengan Allah Ta’ala di hari qiyamat nanti, dengan pandangan rahasia batin secara nyata.
Bagi kita para salik minimal harus masuk dalam puasa Thariqah. Puasa yang tidak hanya menahan makan dan minum saja. Namun juga menahan juga segala maksiat lahir dan batin. Jika sudah puasa, shalat jamaah, wirid, namun masih maksiat, berarti belum ada istihya’ (memiliki rasa malu) dan muroqobah (merasa diawasi). Masih berproses menuju manusia paripurna. Introspeksi diri lagi. Apakah ibadah kita hanya untuk memenuhi kewajiban? Karena kebutuhan? Atau sedang menuju jalan cinta?.
Puncak Puasa Hakikat adalah puasa menahan hati paling dalam (Lubb) dari segala hal selain Allah Ta’ala, menahan rahasia batin (sirr) dari mencintai memandang selain Allah Ta’ala seperti disampaikan dalam hadits Qudsy:
??????? ??? ???? ???
“Manusia itu rahasiaKu dan Aku rahasianya.”
Rahasia itu bermula dari Nurnya Allah swt, hingga ia tidak berpaling kepada selain Allah Ta’ala. Selain Allah Ta’ala, tidak ada yang dicintai atau disukai dan tak ada yang dicari baik di dunia maupun di akhirat. Bila terjadi rasa cinta kepada selain Allah gugurlah puasa hakikatnya. Ia harus segera mengqodho puasanya, yaitu dengan cara kembali kepada Allah swt dan bertemu denganNya. Sebab balasan Puasa Hakikat adalah bertemu Allah Ta’ala di akhirat.
Ramadhan kita seharusnya bukan hanya mengejar pahala tapi mencari ridha dan Mahabbah. Puasa kita harusnya tidak hanya karena Allah tapi juga harus masuk dalam keterlibatan dan kebersamaan dalam perbuatan-Nya. Tenggelam dalam tauhidul Af’aal. Semoga kita diberikan cicipan ma’rifat dan mahabbah oleh Allah ta’ala. Aamiin (**)