(0353) 881235 pabojonegoro@gmail.com delegasi.pabojonegoro@gmail.com
Memuat jam...

Cita Kartini Dinilai Masih Jauh Terwujud di Bojonegoro, 91 Pengajuan Dispensasi Nikah Didominasi Perempuan

 

Reporter : Moch Arifianto

SuaraBojonegoro.com – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April menjadi momentum untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan emansipasi perempuan, kesetaraan gender, dan hak pendidikan bagi kaum wanita di Indonesia.

Namun, semangat tersebut dinilai masih belum sepenuhnya terwujud di Kabupaten Bojonegoro. Hal ini disampaikan Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro, Sholikhin Jamik, yang mengungkapkan tingginya angka pengajuan dispensasi nikah di wilayah tersebut.

Sejak 1 Januari hingga 21 April 2026, tercatat sebanyak 91 pengajuan dispensasi kawin. Dari jumlah tersebut, 88 di antaranya diajukan untuk perempuan dan hanya 3 untuk laki-laki. Angka ini menunjukkan bahwa praktik pernikahan usia dini masih cukup tinggi dan didominasi oleh perempuan.

Sholikhin menjelaskan, mayoritas pasangan yang mengajukan dispensasi nikah memiliki latar belakang pendidikan rendah dan belum memiliki pekerjaan tetap. Bahkan, sebagian besar belum bekerja atau hanya menggantungkan hidup dari pekerjaan informal seperti buruh harian dan penjaga toko, sehingga kondisi ekonomi mereka tergolong tidak stabil.

“Emansipasi perempuan hanya bisa maksimal bila pendidikannya tinggi, minimal lulus SMU,” ujar Sholikin Jamik. Selasa (21/04/2026)

Ia juga menegaskan bahwa pernikahan usia dini tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan serta keharmonisan rumah tangga. Pasangan yang menikah di usia muda dinilai lebih rentan mengalami konflik, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga perceraian.

Selain itu, risiko kesehatan bagi ibu dan anak juga meningkat akibat ketidaksiapan secara fisik maupun mental.

Dengan kondisi tersebut, peringatan Hari Kartini diharapkan tidak sekadar menjadi seremoni, tetapi juga menjadi refleksi bersama untuk terus mendorong peningkatan pendidikan perempuan serta menekan angka pernikahan usia dini, khususnya di Bojonegoro. (Rif/Red)

Sumber : https://suarabojonegoro.com/cita-kartini-dinilai-masih-jauh-terwujud-di-bojonegoro-91-pengajuan-dispensasi-nikah-didominasi-perempuan/

Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro memegang piala penghargaan Juara Umum PTA Surabaya Awards 2025 usai penyerahan penghargaan dalam Rapat Koordinasi Pengadilan Agama se-Jawa Timur di Hotel Harris Surabaya (Istimewa/kedungademmu.id)

Kedungademmu.idPrestasi membanggakan kembali diraih oleh Pengadilan Agama Bojonegoro setelah berhasil meraih Juara Umum dalam ajang PTA Surabaya Awards 2025 yang diselenggarakan oleh Pengadilan Tinggi Agama Surabaya. Penghargaan tersebut diberikan dalam kegiatan Rapat Koordinasi Percepatan Penyelesaian Perkara Pengadilan Agama se-Jawa Timur yang digelar di Hotel Harris Surabaya, Kamis (12/3/2026).

Kegiatan tersebut diikuti oleh pimpinan serta aparatur Pengadilan Agama dari seluruh wilayah Jawa Timur. Selain menjadi ajang evaluasi kinerja, kegiatan ini juga menjadi sarana apresiasi bagi satuan kerja yang menunjukkan kinerja terbaik dalam pelayanan peradilan kepada masyarakat.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Surabaya, Zulkarnain, menegaskan bahwa PTA Awards bukan sekadar seremoni pemberian penghargaan, melainkan juga sebagai motivasi bagi seluruh satuan kerja untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan peradilan.

PTA Awards ini bukan sekadar pemberian penghargaan, tetapi juga menjadi motivasi bagi seluruh satuan kerja untuk terus meningkatkan kinerja, inovasi, serta pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan,” ujarnya.

Selain pemberian penghargaan, kegiatan rapat koordinasi tersebut juga diisi dengan pembinaan dari pimpinan Pengadilan Tinggi Agama Surabaya. Materi yang disampaikan antara lain hasil rapat koordinasi Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, sosialisasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP), serta penguatan bidang pengawasan, kepaniteraan, dan kesekretariatan.

Agenda tersebut menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi sekaligus memperkuat tata kelola lembaga peradilan agama yang modern, transparan, dan akuntabel.

Dalam ajang PTA Surabaya Awards 2025, Pengadilan Agama Bojonegoro Kelas IA berhasil meraih berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya:

  • Peringkat 5 Kinerja Satuan Kerja Triwulan II Tahun 2025 kategori Pengadilan Agama Kelas IA se-Indonesia dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI.
  • Peringkat 4 Kinerja Satuan Kerja Triwulan III Tahun 2025 kategori Pengadilan Agama Kelas IA se-Indonesia dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI.
  • Juara I Kinerja Penyelesaian Perkara kategori 2.500–5.000 perkara.
  • Juara I Kinerja E-Court Tingkat Pertama kategori 2.500–5.000 perkara.
  • Juara I Kinerja Kinsatker Laporan Keuangan Perkara (E-Keuangan).
  • Juara I Kinerja Penerimaan Hibah Terbesar dari Pemerintah Kabupaten.
  • Juara Harapan Kinerja Pelayanan Publik ? 2.500 perkara.
  • Juara III Kategori Agen Perubahan atas nama M. Tantowi Nur Ansori, 

Berkat capaian tersebut, Pengadilan Agama Bojonegoro dinobatkan sebagai Juara Umum PTA Surabaya Awards 2025.

Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro, Sholikhin Jamik, mengungkapkan rasa syukur atas prestasi yang diraih lembaganya. Ia menyebut keberhasilan tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa bagi keluarga besar Pengadilan Agama Bojonegoro.

Menurutnya, sepanjang sejarah berdirinya Pengadilan Agama Bojonegoro, lembaga tersebut belum pernah meraih penghargaan sebesar ini.

“Bagi kami, penghargaan ini seperti mendapatkan Lailatulqadar di siang hari. Sepanjang sejarah Pengadilan Agama Bojonegoro, kami belum pernah meraih pengakuan seperti ini. Jangankan menjadi juara umum, masuk nominasi saja sebelumnya belum pernah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa selama ini penghargaan serupa lebih sering diraih oleh pengadilan agama yang berada di kota besar seperti Surabaya atau Malang. Namun, keberhasilan Pengadilan Agama Bojonegoro menunjukkan bahwa lembaga yang berada di daerah pun mampu bersaing dan menunjukkan kinerja terbaik.

Menurut Sholikhin, keberhasilan tersebut tidak lepas dari upaya membangun budaya organisasi yang kuat di lingkungan kerja. Seluruh pegawai didorong untuk disiplin, fokus pada tujuan, serta terus berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Selain itu, motivasi internal serta rasa kebanggaan terhadap lembaga juga menjadi faktor penting dalam mendorong peningkatan kinerja. Ia menegaskan bahwa bagi Pengadilan Agama Bojonegoro, prestasi bukan hanya soal kemenangan, melainkan bentuk pengakuan atas dedikasi, integritas, dan kerja keras seluruh aparatur.

Keberhasilan meraih Juara Umum PTA Surabaya Awards 2025 menjadi bukti nyata komitmen Pengadilan Agama Bojonegoro dalam menghadirkan pelayanan hukum yang profesional, transparan, dan terpercaya bagi masyarakat.

Diharapkan prestasi ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh aparatur peradilan untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan serta memperkuat kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan agama.

Sumber : https://www.kedungademmu.id/2026/03/pengadilan-agama-bojonegoro-raih-juara.html

Drs Sholikin Jamik SH MH, Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro (Istimewa/kedungademmu.id)
Oleh:  Drs Sholikin Jamik SH MH, Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro
 

Kedungademmu.idBanyak orang memilih kembali tidur setelah sahur dengan alasan menghemat energi untuk bekerja sepanjang hari. Padahal, waktu setelah salat Subuh hingga matahari terbit merupakan golden hour atau waktu emas yang sangat berharga.

Pada saat itu, pikiran berada dalam kondisi paling jernih dan segar. Secara biologis, setelah sahur tubuh baru saja mendapatkan asupan energi sehingga otak bekerja secara optimal. Di sisi lain, suasana pagi masih relatif tenang dan minim gangguan, termasuk notifikasi dari gawai yang biasanya belum terlalu ramai. Kondisi ini menjadikan waktu setelah sahur sebagai momen terbaik untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan fokus dan kedalaman.

Sayangnya, kesempatan emas ini sering terlewatkan begitu saja karena kebiasaan tidur kembali setelah sahur.

Padahal, waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas yang bermakna dan mendalam, baik dalam bentuk ibadah maupun pengembangan diri. Tadarus Al-Qur’an dengan penuh kekhusyukan, berzikir, atau merenung dalam keheningan pagi dapat menghadirkan kedalaman spiritual yang sulit diperoleh pada waktu lain.

Bahkan, aktivitas spiritual selama tiga puluh menit pada waktu yang hening ini sering kali terasa lebih menyentuh hati dibandingkan ibadah yang dilakukan lebih lama pada siang hari ketika tubuh sudah mulai lelah.

Selain memberikan ketenangan batin, memanfaatkan waktu emas ini juga membantu menjaga ritme energi sepanjang hari. Sebaliknya, tidur kembali setelah sahur sering kali menimbulkan sleep inertia, yaitu rasa lemas dan berat saat bangun tidur yang justru membuat tubuh kurang bersemangat menjalani aktivitas.

Dengan mengisi waktu setelah sahur dengan kegiatan yang positif, seseorang dapat menjaga stabilitas energi sekaligus menyiapkan suasana hati yang lebih tenang dalam menghadapi berbagai aktivitas.

Bekerja sebagai Ibadah yang Berkelanjutan

Ramadan juga menjadi kesempatan untuk menata kembali cara pandang kita tentang makna ibadah. Ibadah tidak berhenti ketika seseorang selesai melaksanakan salat atau menutup mushaf Al-Qur’an.

Ketika seseorang bekerja dengan jujur, membantu rekan kerja, menjaga profesionalitas, serta menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, maka semua aktivitas tersebut juga bernilai ibadah.

Dalam perspektif ini, pekerjaan dapat dipandang sebagai ibadah yang berkelanjutan (extended worship). Setiap aktivitas—baik mengetik di komputer, berdiskusi dalam rapat, maupun mengajar di ruang kelas—dapat menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah apabila dilakukan dengan niat yang tulus dan cara yang benar.

Dengan cara pandang seperti ini, Ramadan tidak hanya menjadi bulan peningkatan ibadah ritual, tetapi juga menjadi sekolah spiritual yang melatih integritas, kesabaran, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Ramadan sebagai Momentum Perubahan

Ramadan seharusnya tidak sekadar menjadi pergantian kalender tahunan atau hanya identik dengan kemeriahan berbuka puasa. Lebih dari itu, Ramadan adalah momentum untuk memperbaiki cara kita memaknai waktu, pekerjaan, dan kehidupan.

Banyak orang menunggu waktu luang untuk beribadah secara lebih berkualitas. Padahal, bagi mereka yang produktif, waktu luang sering kali menjadi sesuatu yang sulit ditemukan. Karena itu, yang diperlukan bukanlah menunggu waktu luang, tetapi meluangkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Kesibukan kerja tidak seharusnya menjadi penghalang kesalehan. Justru di tengah kesibukan itulah nilai-nilai spiritual diuji dan dibuktikan. Ramadan menjadi ruang latihan agar seseorang mampu menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam setiap aktivitasnya.

Ketika seseorang mampu menghadirkan kesadaran penuh dalam setiap ibadah dan pekerjaannya, maka kelelahan yang dirasakan tidak lagi sekadar menjadi beban, tetapi berubah menjadi pengabdian yang bernilai.

Pada akhirnya, Ramadan yang berhasil adalah Ramadan yang mampu mengubah cara kita memandang kehidupan. Setiap detik waktu menjadi kesempatan untuk kembali mengingat Allah, bahkan di tengah kesibukan pekerjaan dan berbagai tenggat waktu yang harus diselesaikan.

Ramadan mengajarkan bahwa kualitas hidup tidak diukur dari banyaknya waktu yang kita miliki, tetapi dari seberapa besar ruang dalam hati yang kita sediakan untuk mengingat-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Sumber : https://www.kedungademmu.id/2026/03/mengoptimalkan-waktu-emas-setelah-sahur.html

Pengadilan Agama Bojonegoro Catat 44 Diska Perkawinan pada Malam Sanga,Ilustrasi Nikah (Ainur Ochiem/RDR.BJN)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pengadilan agama (PA) mencatat sebanyak 44 dispensasi kawin (diska) untuk pernikahan di malam sanga. Angka ini lebih banyak dibanding catatan kantor kementerian agama (kankemenag).

Berdasar data PA, ada 76 diska diputuskan selama Januari hingga 17 Maret. 44 diska di antaranya untuk melangsungkan pernikahan di malam sanga. Malam yang dipercaya penuh kebaikan. ‘’Diska malam sanga ada 44 perkara,’’ kata Panitera PA Bojonegoro, Sholikin Jamik, kemarin (18/3).

Sholikin Jamik melanjutkan, 44 perkara itu diajukan mulai Februari sampai 10 Maret. Dan, diputus terakhir pada 17 Maret. Menurutnya, keputusan mengabulkan diska karena hakim berkeyakinan sudah memenuhi alasan mendesak.

Alasan tersebut, lanjut dia, karena sudah hamil, berzina, dan menghindari perzinahan. ‘’Alasan ketiga masih bisa dicegah, yakni orang tua takut anak melakukan perzinahan. Indikasinya bertemu setiap hari,’’ terangnya.

Sehingga, kata dia, saat hakim bertanya kesanggupan orang tua namun dijawab tidak sanggup maka diska dikabulkan. ‘’Hakim berkeyakinan kalau tidak diputus (diska disetujui, red) berpotensi zina, untuk hindari ini maka diska dikabulkan. Terkait malam sanga akomodatif dari tiga masalah tadi,’’ beber dia.

Sementara itu, data PA menyebut dari 76 permohonan diska, 45 pemohon di antaranya berusia 18 tahun; 16 pemohon berusia 17 tahun; 11 pemohon berusia 16 tahun; dan empat pemohon berusia 15 tahun.

Sedangkan, berdasar faktor pengabulan, menghindari zina sebanyak 32 pemohon; zina ada 24 pemohon; dan hamil sejumlah 20 pemohon. Mayoritas belum bekerja. (yna/msu)

 

Editor : Yuan Edo Ramadhana

Sumber : https://radarbojonegoro.jawapos.com/hukum-kriminal/2603190004/pengadilan-agama-bojonegoro-catat-44-diska-perkawinan-pada-malam-sanga

BOJONEGORO – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh  Pengadilan Agama Bojonegoro setelah berhasil meraih Juara Umum dalam ajang PTA Surabaya Awards 2025 yang digelar oleh  Pengadilan Tinggi Agama Surabaya.. Penghargaan tersebut diberikan dalam Rapat Koordinasi Percepatan Penyelesaian Perkara Pengadilan Agama se-Jawa Timur yang berlangsung di Hotel Harris Surabaya pada Kamis, (12/3/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan serta aparatur Pengadilan Agama dari seluruh wilayah Jawa Timur sebagai ajang evaluasi sekaligus apresiasi terhadap kinerja terbaik satuan kerja peradilan agama.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Surabaya, Zulkarnain, menegaskan bahwa PTA Awards bukan sekadar seremoni pemberian penghargaan, melainkan sarana untuk mendorong peningkatan kualitas pelayanan peradilan kepada masyarakat.

“PTA Awards ini bukan sekadar pemberian penghargaan, tetapi juga menjadi motivasi bagi seluruh satuan kerja untuk terus meningkatkan kinerja, inovasi, serta pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan,” ujarnya.

Rakor Bahas Percepatan Penyelesaian Perkara

Selain pemberian penghargaan, kegiatan juga diisi dengan pembinaan pimpinan PTA Surabaya. Materi yang disampaikan antara lain hasil rapat koordinasi dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, sosialisasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP), serta penguatan bidang pengawasan, kepaniteraan, dan kesekretariatan.

Agenda ini menjadi momentum strategis untuk menyamakan persepsi serta memperkuat tata kelola lembaga peradilan agama yang modern, transparan, dan akuntabel.

Panitera PA Bojonegoro saat menerima PTA Awards 2025 di Surabaya

Deretan Prestasi PA Bojonegoro

Dalam ajang penghargaan tersebut, Pengadilan Agama Bojonegoro berhasil meraih sejumlah prestasi membanggakan, di antaranya:

  • Peringkat 5 Kinerja Satker Triwulan II Tahun 2025 kategori  Pengadilan Agama Kelas IA  dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama
  • Peringkat 4 Kinerja Satker Triwulan III Tahun 2025 kategori Pengadilan Agama Kelas IA
  • Juara I Kinerja Kinsatker (E-Keuangan)
  • Juara Harapan Kinerja Pelayanan Publik ? 2.500 Perkara
  • Juara I Kinerja Penerimaan Hibah Terbesar

Berkat capaian tersebut, Pengadilan Agama Bojonegoro dinobatkan sebagai Juara Umum dalam ajang PTA Surabaya Awards 2025.

Suasana kegiatan berlangsung penuh semangat dan kebersamaan. Para peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang tidak hanya menjadi ajang penghargaan, tetapi juga sarana memperkuat sinergi antar satuan kerja Pengadilan Agama di wilayah Jawa Timur.

Melalui penyelenggaraan PTA Surabaya Awards 2025 ini, diharapkan seluruh Pengadilan Agama di Jawa Timur semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas kinerja, memperkuat integritas aparatur, serta memberikan pelayanan peradilan yang cepat, transparan, dan berkeadilan bagi masyarakat.

Keberhasilan Pengadilan Agama Bojonegoro meraih Juara Umum menjadi bukti nyata komitmen lembaga tersebut dalam menghadirkan pelayanan hukum yang profesional dan terpercaya bagi masyarakat Bojonegoro dan sekitarnya. [pta/red]

Sumber : https://kabarpasti.com/pa-bojonegoro-raih-juara-umum-pta-awards-2025-bukti-kinerja-unggul-peradilan-agama-di-jawa-timur/

Drs. Sholikin Jamik, M.H., Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro (Istimewa/Kedungademmu.id)
Oleh: Drs. Sholikhin Jamik, M.H.Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro
 
Kedungademmu.id— Salah satu bentuk rasa syukur yang mendalam ketika Allah Swt. mempertemukan kita kembali dengan bulan Ramadan 1447 H/2026 M adalah dengan bertekad meningkatkan kualitas ibadah puasa dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah proses pendidikan spiritual yang dirancang langsung oleh Allah Swt. untuk membentuk pribadi yang lebih bertakwa.

Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan, yaitu puasa orang awam (shaumul umum)puasa khusus (shaumul khusus), dan puasa khusus dari yang khusus (shaumul khususil khusus). Pemahaman ini mengajarkan bahwa puasa tidak cukup hanya sah secara hukum, tetapi harus membawa perubahan dalam perilaku dan kualitas spiritual seseorang.

Karena itu, Ramadan seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk meninggalkan puasa pada tingkat paling dasar menuju puasa yang lebih bermakna dan lebih mendalam.

Keistimewaan puasa sangat besar di sisi Allah Swt. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada wangi minyak kasturi. Rasulullah saw. juga mengajarkan agar orang yang berpuasa mampu menahan diri dari pertengkaran dengan mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Keutamaan puasa juga dijelaskan dalam hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

Setiap amal anak Adam dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (H.R. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa dibandingkan ibadah lainnya.

Dalam realitas sosial, tingkat kualitas puasa seseorang dapat digambarkan sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali berikut ini.

Pertama Puasa Umum (Puasa yang Benar)

Puasa umum adalah puasa pada tingkat paling dasar. Pada tingkatan ini, seseorang hanya menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri pada siang hari. Secara hukum fikih, puasa ini sah dan tidak batal.

Namun puasa seperti ini sering kali hanya menjadi rutinitas formal untuk menggugurkan kewajiban. Ia benar secara hukum, tetapi belum tentu membawa perubahan moral dan sosial dalam kehidupan seseorang.

Rasulullah saw. pernah mengingatkan:

Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.”(H.R. Ibnu Majah)

Puasa jenis ini menunjukkan bahwa seseorang mungkin telah menjalankan ibadah secara benar, tetapi belum sepenuhnya tepat dalam memahami maknanya.

Kedua Puasa Khusus (Puasa yang Tepat)

Puasa khusus adalah puasa yang tidak hanya benar secara hukum, tetapi juga tepat dalam pelaksanaannya. Pada tingkatan ini, seseorang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuhnya dari perbuatan dosa.

Penglihatan dijaga dari hal-hal yang haram, pendengaran dijauhkan dari ghibah dan fitnah, lisan dijaga dari kata-kata yang menyakiti, serta tangan dan kaki dihindarkan dari perbuatan maksiat.

Orang yang berada pada tingkatan ini berusaha menjaga kesucian puasanya agar tidak rusak oleh perbuatan yang dapat mengurangi pahala. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, puasa seperti ini disebut sebagai puasa orang-orang saleh.

Ketiga Puasa Khusus dari yang Khusus (Puasa yang Paling Sempurna)

Tingkatan tertinggi adalah puasa khusus dari yang khusus. Pada tingkat ini, hati ikut berpuasa dari segala keinginan duniawi yang melalaikan dari mengingat Allah.

Hati sepenuhnya tertuju kepada Allah Swt. Pikiran dijaga dari hal-hal yang sia-sia, dan seluruh orientasi hidup diarahkan untuk mencari ridha-Nya.

Puasa pada tingkatan ini adalah puasa para nabi, orang-orang shiddiq, dan para hamba yang dekat dengan Allah (al-muqarrabin). Mereka tidak hanya menahan diri secara fisik, tetapi juga menjaga kesucian hati dan pikiran.

Penutup

Puasa yang ideal bukan sekadar puasa yang benar secara hukum, tetapi puasa yang tepat dalam makna dan pelaksanaannya. Puasa yang benar sekaligus tepat akan melahirkan perubahan dalam diri manusia, baik secara spiritual maupun sosial.

Ramadan seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas diri, dari sekadar menjalankan ibadah secara formal menuju ibadah yang mampu membentuk akhlak dan memperbaiki kehidupan.

Semoga puasa yang kita jalani tidak hanya benar secara fikih, tetapi juga tepat dalam membentuk ketakwaan dan menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : https://www.kedungademmu.id/2026/03/puasa-tidak-cukup-benar-harus-benar-dan.html

 

Kasus Diska di Bojonegoro Alami Tren Menurun dalam Tiga Tahun TerakhirIlustrasi diska
 
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Jumlah pengajuan dispensasi kawin (diska) di Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. Data PA mencatat perkara diska yang diterima pada 2023 sebanyak 448 kasus, turun menjadi 394 kasus pada 2024, dan kembali menurun menjadi 325 kasus pada 2025.
 

Panitera PA Bojonegoro, Solikin Jamik, menilai penurunan tersebut tidak lepas dari peran berbagai pihak dalam menekan praktik pernikahan usia anak. Ia menyebut upaya edukasi harus terus dilakukan secara kolaboratif.

"Menurunkan angka pernikahan anak itu perlu kerja sama semua pihak," ujarnya.

Lebih lanjut, narasi yang mencerahkan dari berbagai pihak, seperti ormas, institusi terkait, hingga keluarga, secara perlahan membuat masyarakat paham mengenai dampak diska.

Menurutnya, peningkatan pemahaman menjadi faktor penting. Solikin menegaskan bahwa pernikahan pada usia dini memiliki banyak risiko, mulai dari kesehatan hingga kondisi ekonomi.

"Harus disadarkan bahwa pernikahan di bawah umur itu tidak baik. Dari sisi kesehatan sangat rawan, dan dari sisi ekonomi karena rata-rata belum bekerja," tambahnya.

Sementara itu, Koordinator Aliansi Peduli Perempuan dan Anak (APPA), Nafidatul Himah, menyebut penurunan angka pengajuan belum bisa sepenuhnya dimaknai sebagai meningkatnya kesadaran masyarakat. Namun, ia mengakui ada indikasi ke arah tersebut.

"Bisa jadi masyarakat mulai paham dampak pernikahan dini. Apalagi sekarang informasi mudah diakses lewat media sosial," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa generasi muda saat ini, terutama yang berada di usia sekolah, mulai memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan dan risiko pernikahan dini.

Tren penurunan ini menjadi sinyal positif, meski tetap memerlukan pemantauan lebih lanjut untuk memastikan apakah hal itu berbanding lurus dengan meningkatnya kesadaran masyarakat atau disebabkan faktor lain, seperti pengetatan syarat pengajuan. (kam/zim)

Sumber : https://radarbojonegoro.jawapos.com/politik-pemerintahan/2604130004/kasus-diska-di-bojonegoro-alami-tren-menurun-dalam-tiga-tahun-terakhir?page=2

BOJONEGORO – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh Pengadilan Agama Bojonegoro setelah berhasil meraih Juara Umum dalam ajang PTA Surabaya Awards 2025 yang digelar oleh Pengadilan Tinggi Agama Surabaya

Penghargaan tersebut diberikan dalam Rapat Koordinasi Percepatan Penyelesaian Perkara Pengadilan Agama se-Jawa Timur yang berlangsung di Hotel Harris Surabaya pada Kamis, (12/3/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan serta aparatur Pengadilan Agama dari seluruh wilayah Jawa Timur sebagai ajang evaluasi sekaligus apresiasi terhadap kinerja terbaik satuan kerja peradilan agama.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Surabaya, Zulkarnain, menegaskan bahwa PTA Awards bukan sekadar seremoni pemberian penghargaan, melainkan sarana untuk mendorong peningkatan kualitas pelayanan peradilan kepada masyarakat.

“PTA Awards ini bukan sekadar pemberian penghargaan, tetapi juga menjadi motivasi bagi seluruh satuan kerja untuk terus meningkatkan kinerja, inovasi, serta pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan,” ujarnya.

Rakor Bahas Percepatan Penyelesaian Perkara Selain pemberian penghargaan, kegiatan juga diisi dengan pembinaan pimpinan PTA Surabaya. Materi yang disampaikan antara lain hasil rapat koordinasi dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, sosialisasi Sistem Manajemen Anti  Penyuapan (SMAP), serta penguatan bidang pengawasan, kepaniteraan, dan kesekretariatan.

Agenda ini menjadi momentum strategis untuk menyamakan persepsi serta memperkuat tata kelola lembaga peradilan agama yang modern, transparan, dan akuntabel.

Deretan Prestasi PA Bojonegoro
Dalam ajang penghargaan tersebut,

Pengadilan Agama Bojonegoro kelas 1A berhasil meraih sejumlah prestasi membanggakan, di antaranya:

  1. Peringkat 5 Kinerja Satker Triwulan II Tahun 2025 kategori Pengadilan Agama Kelas IA  Se indonesia dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama MARI
  2. Peringkat 4 Kinerja Satker Triwulan III Tahun 2025 kategori Pengadilan Agama Kelas IA Se indonesia dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama MARI
  3. Juara I Kinerja penyelesaian perkara ( katagori perkara 2.500-5000 perkara)
  4. Juara 1 Kinerja E-Court tingkat pertama ( katagori perkara 2.500-5000 perkara)
  5. Juara 1 Kinerja Kinsatker laporan keuangan perkara (E-Keuangan)
  6. Juara 1 Kinerja  penerimaan hibah terbesar dari Penkab
  7. Juara Harapan Kinerja Pelayanan Publik ? 2.500 Perkara
  8. Juara 3 Dalam Katagori Agen Perubahan atas nama M.TANTOWI NUR ANSORI,SH.MH. (Pengadilan Agama Bojonegoro)

Berkat capaian tersebut, Pengadilan Agama Bojonegoro dinobatkan sebagai Juara Umum dalam ajang PTA Surabaya Awards 2025.

Suasana kegiatan berlangsung penuh  semangat dan kebersamaan. Para peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang tidak hanya menjadi ajang penghargaan, tetapi juga sarana memperkuat sinergi antar satuan kerja Pengadilan Agama di wilayah Jawa Timur.

Melalui penyelenggaraan PTA Surabaya Awards 2025 ini, diharapkan seluruh Pengadilan Agama di Jawa Timur semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas kinerja, memperkuat integritas aparatur, serta memberikan pelayanan peradilan yang cepat, transparan, dan berkeadilan bagi masyarakat.

Panitera pengadilan Agama Bojonegoro, Sholikhin Jamik menyampaikan bahwa Pengadilan Agama  Bojonegoro kayak dapat lailatul Qodar di siang hari, sepanjang sejarah Pengadilan Agama Bojonegoro belum pernah mendapatkan pengakuan ini, jangankan juara umum, masuk nominasi saja tidak pernah.

Dan tiap tahun yang dapat penghargaan adalah Pengadilan Agama yang ada di ring satu seperti Pengadilan Agama Surabaya, Pengadilan Agama Malang, sementara Pengadilan Agama Bojonegoro yang secara geografi Pengadilan pinggiran dan sering tidak di lirik dan di perhitungkan ternyata bisa.

Dan ini membuktikan Keberhasilan Pengadilan Agama Bojonegoro meraih Juara Umum menjadi bukti nyata komitmen lembaga tersebut dalam menghadirkan pelayanan hukum yang profesional dan terpercaya bagi masyarakat Bojonegoro dan sekitarnya. Bagi kami keluarga besar Pengadilan Agama  Bojonegoro arti sebuah juara ini bukan sekadar kemenangan dalam kompetisi fisik, melainkan simbol keunggulan strategis dan kualitas karakter yang mendalam.

Ketika di minta testimoni rahasia keberhasilan sehingga bisa menjadi juara umum  Sholikin Jamik menuturkan .

“Setelah kami  terpuruk karena perkara e court yang tidak sesuai kebijakan Mahkamah Agung RI yang menyebabkan pejabatnya di mutasi, maka:

1. Kami tumbuhkan Budaya Organisasi (Culture of Excellence) merubah kelemahan menjadi peluang dengan membangun ekosistem yang mendorong setiap anggotanya untuk disiplin. fokus pada tujuan, dan memiliki daya juang tinggi. untuk berusaha menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

2. Kami menumbuhkan Motivasi dan Kebanggaan Internal
kami menyakinkan bahwa kemenangan membuahkan kebanggaan luar biasa bagi seluruh pegawai Pengadilan Agama Bojonegoro. Hal ini menjadi katalisator semangat untuk terus mempertahankan standar tinggi dan mengabdikan diri lebih baik lagi bagi kemajuan bersama.

3. Kami menyakinkan perlu Penguatan Branding dan Reputasi

Prestasi (juara) adalah bentuk Branding terbaik. Juara meningkatkan reputasi Pengadilan Agama Bojonegoro di mata masyarakat, memberikan kebanggaan, dan membangun kepercayaan publik. Kemenangan berfungsi sebagai pengakuan publik terhadap dedikasi dan keunggulan lembaga. Hal ini meningkatkan kepercayaan stakeholder (pemangku kepentingan), seperti mitra kerja atau masyarakat luas.

4. Kami tumbuhkan selalu berfikir proses bukan hasil

Juara sejati bagi Pengadilan Agama Bojonegoro bukan hanya tentang hasil akhir, melainkan cerminan dari dedikasi, integritas, dan kerja keras yang konsisten dalam proses pembinaan talenta pegawai. maka dengan kesungguhan semua pihak dan keberhasilan bersama  maka Juara adalah Indikator Keberhasilan Pembinaan,  Menjadi juara menandakan Pengadilan Agama Bojonegoro memiliki kemampuan atau karakter “anomali”—artinya lebih unggul dibandingkan rata-rata/standar biasa. Ini menunjukkan bahwa Pengadilan Agama Bojonegoro  tersebut mampu menghasilkan talenta atau produk terbaik, serta .sebagai kontributor positif yang membawa manfaat dan kebanggaan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Secara singkat, juara bagi Pengadilan Agama Bojonegoro adalah prestasi, kehormatan, dan pengakuan atas budaya unggul yang selama ini sudah kami diterapkan.

Sumber : https://upwarta.com/pengadilan-agama-bojonegoro-mandapat-lailatul-qodar-di-siang-hari/

Drs. Sholikin Jamik, M.H., Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro 
Oleh: Drs. Sholikin Jamik, M.H.; Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro
 

Kedungademmu.idPuasa sering disebut sebagai ibadah yang paling privat dalam Islam. Ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Berbeda dengan salat, sedekah, atau ibadah lainnya yang dapat terlihat oleh orang lain, puasa adalah bentuk kejujuran spiritual yang hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah Swt.


Seseorang bisa saja tampak berpuasa di hadapan manusia, tetapi sesungguhnya ia dapat membatalkannya secara sembunyi-sembunyi. Namun seorang mukmin yang benar-benar berpuasa akan tetap menjaga ibadahnya karena kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatannya.
Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah saw. menyampaikan sabda Allah Swt.:
Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan bentuk hubungan langsung antara hati seorang hamba dengan Tuhannya.
Allah Swt. juga menegaskan tujuan puasa dalam Al-Qur’an:
??? ???????? ????????? ??????? ?????? ?????????? ?????????? ????? ?????? ????? ????????? ???? ?????????? ??????????? ??????????
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 183)
 
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan, yaitu kesadaran hati bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan Allah Swt.
 
Pertama Puasa sebagai Ibadah Milik Allah
 
Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa puasa adalah ibadah yang secara khusus dinisbatkan kepada Allah. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat personal antara hamba dan Tuhannya. Balasan puasa pun menjadi hak prerogatif Allah yang tidak dibatasi oleh ukuran manusia.
Kedua Melatih Kejujuran Batin
 
Puasa mendidik manusia untuk jujur kepada dirinya sendiri. Saat sendirian, tidak ada yang mengawasi kecuali Allah. Namun seorang yang berpuasa tetap menjaga diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa. Inilah yang disebut dengan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui setiap perbuatan manusia.
Ketiga Membersihkan dan Menyucikan Jiwa
 
Puasa juga menjadi sarana pembersihan jiwa. Dengan menahan hawa nafsu fisik, hati menjadi lebih tenang dan lebih mudah merasakan kedekatan dengan Allah. Hambatan-hambatan spiritual yang sering muncul akibat kesibukan duniawi perlahan berkurang, sehingga hati menjadi lebih peka terhadap nilai-nilai kebaikan.
Keempat Waktu Mustajab untuk Berdoa
 
Salah satu keistimewaan puasa adalah adanya waktu-waktu yang sangat dekat dengan pengabulan doa, terutama saat menjelang berbuka. Rasulullah saw. bersabda:
Tiga golongan yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi.” (H.R. At-Tirmidzi)
 
Momen menjelang berbuka puasa menjadi waktu yang sangat istimewa untuk bermunajat kepada Allah, karena hati sedang berada dalam kondisi yang lembut dan penuh harap.
Penutup
 
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan perjalanan spiritual yang mempererat hubungan hati dengan Allah Swt. Ia melatih kejujuran, kesabaran, serta kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.
Ketika puasa dijalankan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, ia menjadi jembatan yang menghubungkan hati manusia dengan rahmat Allah. Di situlah puasa menemukan maknanya yang terdalam: bukan hanya menahan diri dari yang halal pada siang hari, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah sepanjang waktu.
Wallahu a’lam bish-shawab.
 

BOJONEGORO – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh Pengadilan Agama Bojonegoro setelah berhasil meraih Juara Umum dalam ajang PTA Surabaya Awards 2025 yang diselenggarakan oleh Pengadilan Tinggi Agama Surabaya. Penghargaan tersebut diserahkan dalam kegiatan Rapat Koordinasi Percepatan Penyelesaian Perkara Pengadilan Agama se-Jawa Timur yang berlangsung di Harris Hotel & Conventions Surabaya, Kamis minggu  lalu.

Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan dan aparatur Pengadilan Agama dari seluruh wilayah Jawa Timur. Selain menjadi ajang evaluasi kinerja lembaga peradilan agama, forum ini juga menjadi momentum pemberian apresiasi kepada satuan kerja yang menunjukkan kinerja terbaik dalam pelayanan hukum kepada masyarakat.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Surabaya, Zulkarnain menegaskan bahwa PTA Awards bukan sekadar seremoni penghargaan. Menurutnya, penghargaan ini merupakan instrumen penting untuk memacu peningkatan kualitas pelayanan peradilan kepada masyarakat pencari keadilan.

“PTA Awards ini bukan sekadar pemberian penghargaan, tetapi juga menjadi motivasi bagi seluruh satuan kerja untuk terus meningkatkan kinerja, inovasi, serta pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan,” ujarnya.

Selain penyerahan penghargaan, kegiatan rakor juga diisi dengan pembinaan pimpinan oleh jajaran PTA Surabaya. Materi yang disampaikan meliputi hasil koordinasi dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, sosialisasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP), serta penguatan bidang pengawasan, kepaniteraan, dan kesekretariatan guna memperkuat tata kelola lembaga yang modern dan akuntabel.

Dalam ajang penghargaan tersebut, Pengadilan Agama Bojonegoro Kelas IA berhasil meraih sejumlah prestasi penting, di antaranya Juara I Kinerja Penyelesaian Perkara kategori 2.500–5.000 perkara, Juara I Kinerja E-Court tingkat pertama, Juara I Kinerja Kinsatker Laporan Keuangan Perkara (E-Keuangan), serta Juara I Penerimaan Hibah Terbesar dari Pemerintah Kabupaten. Selain itu, PA Bojonegoro juga meraih Juara Harapan Kinerja Pelayanan Publik dan Juara III kategori Agen Perubahan atas nama M. Tantowi Nur Ansori.

Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro, Sholikhin Jamik, menyampaikan bahwa capaian tersebut terasa seperti “meraih  Lailatul Qodar di siang hari.

“Sepanjang sejarah, PA Bojonegoro belum pernah meraih penghargaan sebesar ini. Bahkan, untuk masuk nominasi saja sebelumnya jarang terjadi, karena penghargaan biasanya didominasi pengadilan agama di kota besar seperti Surabaya atau Malang,” ungkap Sholikin Jamik, Senin (16/3/2026).

Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pengadilan agama di daerah yang sering dianggap “pinggiran” juga mampu menunjukkan kinerja unggul. Capaian ini sekaligus menjadi simbol kebanggaan bagi seluruh keluarga besar Pengadilan Agama Bojonegoro dalam menghadirkan pelayanan hukum yang profesional, transparan, dan terpercaya bagi masyarakat. [BK/red]

Sumber : https://kabarpasti.com/pa-bojonegoro-juara-umum-pta-surabaya-awards-2025-sholikin-jamik-seperti-meraih-lailatul-qodar-di-siang-hari/

Drs Sholikin Jamik SH MH, Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro (Istimewa/kedungademmu.id)
 
Oleh:  Drs Sholikin Jamik SH MH, Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro

Kedungademmu.idMenjelang berakhirnya bulan Ramadan, setiap Muslim seharusnya berhenti sejenak untuk bercermin pada diri sendiri. Sudah sejauh mana kualitas puasa yang kita jalani? Apakah puasa kita hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, atau sudah sampai pada makna spiritual yang lebih dalam?

Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan tertinggi adalah shaumul khushusil khushus, yaitu puasa orang-orang yang sangat khusus, sebagaimana puasa para nabi, rasul, dan orang-orang shiddiq.

Puasa pada tingkatan ini tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menjaga hati, pikiran, serta seluruh anggota tubuh dari segala hal yang dapat menjauhkan seseorang dari Allah.

Penyucian Hati dan Pikiran

Pada tingkat puasa tertinggi, seseorang memurnikan niat dan tujuan hidupnya hanya kepada Allah. Hati dan pikiran tidak lagi dipenuhi oleh kepentingan duniawi yang berlebihan, tetapi difokuskan sepenuhnya untuk mencari keridaan-Nya.

Puasa seperti ini menjadikan hati lebih bersih dan pikiran lebih jernih dalam memandang kehidupan.

Menahan Diri dari Selain Allah

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa pada tingkat ini bukan sekadar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara lahiriah. Lebih dari itu, hati juga dijaga agar tidak larut dalam keraguan terhadap kekuasaan Allah atau terlalu tenggelam dalam urusan dunia.

Bagi orang yang mencapai tingkat ini, puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga latihan spiritual yang menjaga hubungan hati dengan Allah secara terus-menerus.

Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga

Puasa orang awam hanya berfokus pada menahan lapar dan dahaga. Puasa orang-orang saleh menjaga anggota tubuh dari perbuatan maksiat.

Namun puasa pada tingkat tertinggi melibatkan kesadaran batin secara total. Hati dijaga dari kesombongan, pikiran dijauhkan dari prasangka buruk, dan seluruh kehidupan diarahkan untuk mendekat kepada Allah.

Totalitas Ikhlas

Para nabi dan rasul memberikan teladan tentang puasa dalam makna yang paling mendalam. Mereka mengorbankan jiwa, raga, dan harta semata-mata untuk mencari keridaan Allah.

Keikhlasan yang total inilah yang menjadi inti dari puasa tertinggi. Ibadah tidak lagi sekadar kewajiban, tetapi menjadi wujud cinta seorang hamba kepada Tuhannya.

Bercermin di Akhir Ramadan

Kini Ramadan hampir berlalu. Pertanyaan pentingnya adalah: di tingkat manakah puasa kita berada?

Apakah puasa kita masih sebatas menahan lapar dan dahaga? Ataukah sudah mampu menjaga lisan, pandangan, dan perilaku? Atau bahkan telah sampai pada tingkat menjaga hati dan pikiran agar selalu dekat dengan Allah?

Ramadan adalah sekolah spiritual yang mengajarkan manusia untuk memperbaiki diri. Jika setelah Ramadan kita menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah, maka puasa kita telah memberikan makna yang sebenarnya.

Namun jika Ramadan berlalu tanpa perubahan apa pun dalam diri kita, maka mungkin kita hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga.

Semoga puasa yang kita jalani tidak berhenti pada formalitas ibadah, tetapi mampu membawa kita menuju nilai puasa tertinggi, yaitu puasa yang memurnikan hati, menumbuhkan keikhlasan, dan mendekatkan diri sepenuhnya kepada Allah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Sumber : https://www.kedungademmu.id/2026/03/nilai-puasa-tertinggi-bercermin-di.html

 
Oleh: Drs. Sholikin Jamik, SH MH, Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro
 

Kedungademmu.idPernahkah seseorang berada dalam posisi rukuk saat salat, tetapi pikirannya justru sibuk menghitung perkiraan waktu kedatangan pesanan makanan untuk berbuka puasa? Atau ketika melaksanakan salat tarawih, perhatian tidak tertuju pada bacaan imam, melainkan melayang pada pekerjaan, rapat, atau tugas yang menunggu esok hari.

Fenomena seperti ini bukanlah hal yang jarang terjadi. Ramadan datang dengan semangat meningkatkan ibadah dan meraih pahala sebanyak-banyaknya. Namun, di sisi lain, aktivitas dunia tidak berhenti. Pekerjaan tetap menuntut penyelesaian, tanggung jawab keluarga tetap berjalan, dan berbagai urusan sehari-hari tetap harus ditunaikan.

Keadaan tersebut sering membuat seseorang menjalani puasa secara fisik, tetapi pikirannya tetap dipenuhi kesibukan duniawi. Tanpa disadari, ibadah dilakukan sekadar untuk memenuhi kewajiban, bukan untuk menghadirkan kesadaran spiritual. Ibadah menjadi serba cepat, sekadar selesai dan sah, tanpa penghayatan yang mendalam.

Terjebak dalam Mode “Auto-Pilot”

Dalam psikologi, istilah auto-pilot menggambarkan kondisi ketika seseorang melakukan aktivitas secara otomatis tanpa kesadaran penuh. Hal ini sering terjadi pada aktivitas yang sudah sangat sering dilakukan.

Banyak umat Islam telah menjalankan puasa sejak kecil. Karena sudah terbiasa, puasa terkadang dijalankan hanya sebagai rutinitas tahunan. Salat dilakukan dengan gerakan yang sudah dihafal, doa dibaca dengan cepat, tetapi hati dan pikiran tidak benar-benar hadir.

Akibatnya, ibadah terasa seperti kegiatan mekanis. Ramadan pun berlalu tanpa meninggalkan bekas perubahan dalam jiwa. Padahal, tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan sebagaimana firman Allah Swt.:

??? ???????? ????????? ??????? ?????? ?????????? ?????????? ????? ?????? ????? ????????? ???? ?????????? ??????????? ??????????

 “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sarana pembaruan spiritual yang menghidupkan kesadaran kepada Allah.

Strategi Menjaga Kesadaran Ibadah

Agar ibadah tidak terjebak dalam mode auto-pilot, diperlukan upaya untuk menghadirkan kesadaran penuh dalam setiap amal ibadah. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan.

Pertama, memberi jeda sebelum memulai salat.
Jangan langsung berdiri untuk salat setelah menyelesaikan pekerjaan atau meletakkan telepon genggam. Beri waktu beberapa menit untuk menenangkan diri, mengatur napas, dan menghadirkan niat bahwa salat adalah pertemuan spiritual dengan Allah.

Allah Swt. berfirman:

???????? ?????????? ?????????

 “Dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” (Q.S. Taha: 14)

Salat seharusnya menjadi ruang untuk mengingat Allah dengan penuh kesadaran, bukan sekadar rutinitas yang dilakukan tergesa-gesa.

Kedua, memvariasikan bacaan dalam salat.
Sering kali seseorang membaca surah yang sama setiap hari sehingga bacaan menjadi otomatis. Dengan mencoba membaca surah lain atau memahami maknanya, pikiran akan kembali fokus pada bacaan yang dilafalkan.

Ketiga, memahami makna ibadah.
Ketika seseorang mengetahui makna dari setiap gerakan dan bacaan salat, maka ibadah tidak lagi terasa kosong. Ia akan merasakan kedekatan spiritual dengan Allah.

Ramadan sebagai Momentum Transformasi

Ramadan sejatinya bukan hanya tentang perubahan jadwal makan dan tidur. Bulan suci ini adalah kesempatan untuk melakukan pembaruan spiritual dan memperbaiki kualitas hubungan dengan Allah.

Jika ibadah dijalankan dengan kesadaran penuh, Ramadan akan menjadi momentum untuk menenangkan jiwa di tengah kesibukan dunia. Namun jika dijalani tanpa penghayatan, Ramadan hanya akan meninggalkan rasa lapar, haus, dan kelelahan tanpa membawa perubahan dalam diri.

Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk menjaga kesadaran dalam beribadah. Jangan sampai ibadah terjebak dalam mode auto-pilot. Hadirkan hati, pikiran, dan niat yang tulus dalam setiap amal. Dengan demikian, Ramadan benar-benar menjadi bulan pembaruan jiwa dan penguatan iman menuju derajat takwa.

Sumber : https://www.kedungademmu.id/2026/03/jangan-terjebak-auto-pilot-menemukan.html

ZONA INTEGRITAS WBK Wilayah Bebas dari Korupsi
Logo WBK
Logo BerAKHLAK
Logo Bangga Melayani Bangsa
SURVEI KEPUASAN MASYARAKAT IKM 3,98 / 4,00 Sangat Baik Lihat Hasil Survey