MAKKAH – Wakil Kementerian Haji dan Umrah(Wamenhaj) RI, Dr.Dahnil Anzar Simanjuntak,S.E.,M.E., melakukan kunjungan langsung ke Hotel Royal Makkah,Kamis(21/5/2026) Pagi,Tempat menginap jamaah haji asal Kabupaten Bojonegoro yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Masyarakat Madani.
Kunjungan penuh kehangatan tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi para jamaah. Selain sebagai bentuk perhatian kepada tamu Allah dari Indonesia, kunjungan ini juga dilandasi hubungan baik dengan jamaah Bojonegoro, terlebih salah satu ajudan beliau, Asril, diketahui merupakan putra asli Bojonegoro.
Dalam suasana penuh kekeluargaan, Mas Dahnil menyampaikan dua pesan penting kepada seluruh jamaah yang tengah mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), yang diperkirakan berlangsung pada 25 Mei 2026 hingga 27 Mei 2026 mendatang.
Pesan pertama yang ditekankan adalah pentingnya menjaga kondisi fisik. Mengingat suhu udara di Kota Makkah pada siang hari saat ini mencapai 46 derajat Celsius, jamaah diminta untuk benar-benar menjaga stamina agar tetap prima.
“Persiapkan fisik sebaik mungkin. Konsumsi makanan bergizi, cukup istirahat, dan jangan sampai kelelahan. Puncak haji membutuhkan tenaga dan daya tahan yang kuat,” pesan Mas Danil kepada jamaah.
Menurutnya, kesehatan menjadi modal utama agar seluruh rangkaian ibadah, khususnya saat Armuzna, dapat dijalankan dengan lancar dan khusyuk.
Selain kesiapan fisik, Mas Dahnil juga mengingatkan pentingnya menjaga niat selama berada di Tanah Suci. Ia menegaskan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan panggilan suci untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Ibadah haji adalah ibadah yang sangat istimewa karena merangkum seluruh unsur pengorbanan baik materi (maliyah), hati (qolbiyah), maupun fisik (badaniyah),” ujarnya.
Ia pun mengingatkan agar jamaah tidak teralihkan oleh hal-hal di luar esensi ibadah.
“Kita datang ke tanah suci ini bukan untuk rekreasi atau belanja. Jaga niat itu agar tetap menyala di dalam dada, bahwa perjalanan ini semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT,” tegasnya.
Mas Dahnil menambahkan, jika niat sudah kuat dan lurus karena Allah, maka apa pun tantangan yang dihadapi selama menjalankan ibadah harus diterima dengan ikhlas dan dijalani dengan penuh kesabaran serta senyuman.
Sholikin Jamik selaku ketua KBIHU Masyarakat Madani Bojonegoro yang mewakili bertemu dengan wamen menteri haji dan umroh saat di hotel, mengucapkan terima kasih, Kunjungan Wakil Kementerian Haji dan Umrah tersebut disambut hangat oleh seluruh jamaah asal Bojonegoro. Mereka mengaku bersyukur atas perhatian dan motivasi yang diberikan menjelang fase terpenting dalam pelaksanaan ibadah haji.
Dari Tanah Suci, para jamaah juga memohon doa restu dari seluruh masyarakat Kabupaten Bojonegoro agar seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar, diberikan kesehatan, serta mampu menuntaskan seluruh rukun, wajib, dan sunnah haji dengan sempurna.
Harapannya, seluruh jamaah dapat kembali ke tanah air dengan membawa predikat Haji Mabrur,"Amin Ya Rabbal Alamin".(***/Red).
Idul Adha adalah hari raya pengorbanan yang menahbiskan peristiwa paling paradoksal dalam sejarah keimanan: seorang ayah yang mengangkat pisau ke leher putranya justru karena cinta—kepada Allah dan kepada sang putra itu sendiri. Ini adalah sebuah kisah dalam sejarah keimanan umat manusia yang tak pernah selesai diceritakan—bukan karena kata-kata tidak mampu meriwayatkannya, melainkan karena kedalamannya melampaui setiap generasi yang mencoba memahaminya. Sebuah pergulatan antara cinta yang meluap dan kepatuhan yang tak terbatas. Kisah itu terjadi ribuan tahun lalu di sebuah lembah gersang di tanah Mina, ketika seorang ayah tua berjalan bersama putra remajanya menuju sebuah tempat penyembelihan—dan yang hendak disembelih bukanlah seekor hewan, melainkan sang putra itu sendiri. Ayah itu bernama Ibrahim, putranya bernama Ismail, dan perintah itu datang dari Allah, Tuhan semesta alam.
"Maka ketika anak itu telah mencapai usia untuk berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: 'Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, pikirkanlah apa pendapatmu.' Ia (Ismail) menjawab: 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan mendapatiku, insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Al-Shaffat [37]: 102)
Bayangkan momen itu dengan seluruh kapasitas imaginasi yang kita miliki. Seorang ayah yang telah menunggu kehadiran anak selama puluhan tahun—Ibrahim baru dikaruniai Ismail di usia yang sangat lanjut, setelah penantian panjang yang nyaris tanpa harapan. Ismail bukan sekadar anak; ia adalah mukjizat, jawaban doa seumur hidup, buah dari kesabaran yang melampaui batas manusiawi. Dan justru ketika buah itu telah matang, ketika Ismail telah tumbuh menjadi remaja yang mampu bekerja bersama ayahnya, ketika hubungan ayah-anak itu mencapai puncak keindahannya—justru di momen itulah perintah datang: sembelihlah dia.
Di sinilah paradoks itu muncul. Pisau dan pelukan bertemu dalam satu tangan yang sama. “Cinta” dan “kehilangan” berdiri di ambang pintu yang sama. “Ketaatan” dan “kesakitan” melebur dalam satu air mata yang sama. Paradoks yang paling fundamental dalam eksistensi manusia: bahwa ada bentuk kepemilikan yang hanya bisa dicapai melalui pelepasan, bahwa ada pelukan yang hanya bisa dirasakan melalui pisau, bahwa ada penerimaan yang hanya datang setelah penyerahan, yang inti filosofis terdalam dari peristiwa pengorbanan itu adalah bahwa melepaskan adalah memiliki, bahwa menyerahkan adalah menerima, bahwa kematian ego adalah kelahiran jiwa. Dan dari paradoks inilah seluruh makna Idul Adha lahir—sebuah makna yang seperti sumber air yang tak pernah kering, terus memancarkan hikmah bagi setiap generasi berikutnya.
ANALISIS
Agar tidak disalahpahami, maksud Paradoks di sini adalah suatu pernyataan, situasi, atau fenomena yang sekilas tampak mustahil, bertentangan, atau berlawanan dengan logika atau akal sehat, namun setelah diteliti lebih dalam, ternyata mengandungkebenaran, jadi hakikat Paradoks, adalah sesuatu yang tampak kontradiktif atau absurd pada permukaan, namun menyimpan kebenaran yang lebih dalam di baliknya. Paradoks adalah sebuah tegangan kreatif antara dua kebenaran yang tampak saling bertentangan, namun sesungguhnya saling melengkapi pada level pemahaman yang lebih tinggi.
Peristiwa qurban Ibrahim adalah paradokspar excellence—paradoks yang paling murni, paling tajam, dan paling kaya dalam seluruh tradisi keagamaan umat manusia. Dan dari paradoks ini, seluruh makna Idul Adha memancar.
Pisau dan Pelukan— Kehilangan dan Penerimaan Kembali
Dimensi paradoks yang paling menggugah dalam peristiwa qurban Ibrahim adalah pertemuan antara pisau dan pelukan dalam satu narasi yang sama.
Secara fenomenologis, pisau adalah instrumen pemisahan. Ia memotong, membelah, memisahkan yang satu dari yang lain. Dalam konteks qurban, pisau adalah simbol dari kehilangan total—kehilangan yang paling menakutkan yang bisa dibayangkan oleh seorang ayah: kehilangan anak. Pisau yang dipegang Ibrahim bukan sekadar alat fisik; ia adalah wujud dari segala ketakutan, kesakitan, dan keputusasaan yang mungkin dialami oleh seorang manusia yang diminta untuk melepaskan apa yang paling ia cintai.
Pada level permukaan, pisau dan cinta tampak sebagai dua hal yang saling bertentangan. Pisau melukai, cinta menyembuhkan. Pisau memisahkan, cinta menyatukan. Pisau adalah instrumen kekerasan, cinta adalah instrumen kelembutan. Bagaimana mungkin pisau menjadi instrumen cinta? Faktanya, pisau Ibrahim bukan pisau pembunuh; ia adalah pisau cinta—pisau yang memotong ikatan palsu agar ikatan sejati bisa terjalin. Yang dipotong bukan leher Ismail, melainkan rantai keterikatan yang membelenggu hati Ibrahim dari cinta yang lebih tinggi—cinta kepada Tuhan.
Pelukan, sebaliknya, adalah simbol dari penerimaan, kedekatan, kepemilikan yang penuh kasih. Ketika seseorang memeluk anaknya, ia mengekspresikan cinta mendalam, perlindungan, dan ikatan yang tak terputuskan. Pelukan Ibrahim kepada Ismail—sebelum, selama, dan terutama setelah peristiwa qurban—adalah representasi dari hubungan ayah-anak yang paling intim dan paling sakral.
Yang menakjubkan adalah Ibrahim rela mengangkat pisau, justru karena ia rela melepaskan Ismail demi Tuhannya, Allah, pelukan yang iaterima kembali menjaditak terkira, lebih bermakna, lebih dalam, dan lebih abadi. Ismail yang "dikembalikan" oleh Allah—melalui penggantian penyembelihan dengan seekor kibas yang besar—bukan lagi Ismail yang "dimiliki" oleh Ibrahim sebagai ayah biologis. Ia adalah Ismail yang merupakan karunia Allah, amanah Allah, tajalli (penampakan) kasih sayang Allah. Ibrahim tidak kehilangan Ismail—ia justru menemukan Ismail dalam level yang jauh lebih tinggi dan lebih sejati.
Al-Qur'an menggambarkan resolusi paradoks ini dalam QS. Al-Shaffat 103-107 : "Maka ketika keduanya telah berserah diri (aslamaa) dan Ibrahim telah membaringkannya di pelipisnya. Dan Kami panggil dia: 'Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.' Sesungguhnya demikian Kami memberi balasan kepada orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. Al-Shaffat [37]: 103-107)
Perhatikan kata ?????????—"keduanya telah berserah diri." Kata ini berasal dari akar kata yang sama dengan Islam: penyerahan diri total kepada Allah. Pada momen penyerahan total, benar-benar ikhlas—pada momen itulah justru datang penyelamatan. Pisau yang diangkat untuk memisahkan, justru menjadi sarana penyatuan kembali yang lebih tinggi. Ibrahim tidak "kehilangan" apa pun, ia justru mendapatkan segalanya: Ismail dikembalikan, iman diuji dan terbukti, dan gelar Khalilullah (Kekasih Allah) disematkan padanya sebagai penghargaan tertinggi.
Dalam bahasa Rumi dinyatakan : Ketika Ibrahim mengangkat pisau itu, seluruh alam semesta menahan napas. Para Malaikat menangis. Iblis tertawa, mengira ia telah menang. Tapi ketika pisau itu turun—dan Allah menggantikan Ismail dengan kibas—saat itulah seluruh alam semesta memahami sesuatu yang tak pernah dipahami sebelumnya, bahwa“cinta yang rela kehilangan, justru adalah cinta yang tak pernah bisa kalah."
Kepemilikan dan Keikhlasan—Memiliki dengan Melepaskan
Paradoks kedua yang terkandung dalam peristiwa qurban Ibrahim menyentuh salah satu pertanyaan paling fundamental dalam eksistensi manusia: Apa artinya "memiliki" sesuatu?
Dalam pemahaman umum, "memiliki" berarti menguasai, mengontrol, dan mempertahankan sesuatu untuk diri sendiri. Semakin erat genggaman kita pada sesuatu, semakin kita "memilikinya." Dalam logika ini, melepaskan adalah kebalikan dari memiliki—ia adalah kehilangan, kekalahan, kemiskinan. Budaya konsumeris modern memperkuat logika ini secara masif: identitas seseorang didefinisikan oleh apa yang ia miliki (you are what you own), kebahagiaan diukur oleh kuantitas kepemilikan, dan “ketakutan terbesar adalahkehilangan”.
Peristiwa qurban Ibrahim membalikkan seluruh logika ini secara radikal. Ibrahim "memiliki" Ismail dalam pengertian konvensional—Ismail adalah putranya, darah dagingnya, belahan jiwanya. Namun, justru karena kepemilikan konvensional ini, hubungan Ibrahim dengan Ismail mengandung potensi bahaya spiritual yang sangat serius: bahaya ta'alluq—keterikatan yang menjadikan makhluk sebagai saingan Pencipta dalam hati. Al-Ghazali dalam I?ya' 'Ulumuddin menjelaskan bahwa “setiap bentuk cinta kepada makhluk yang tidak disubordinasikan di bawah cinta kepada Allah berpotensi menjadi syirk khafi—kemusyrikan tersembunyi yang lebih halus dari jejak semut hitam di atas batu hitam di malam gelap”.
Perintah untuk menyembelih Ismail, dalam kerangka ini, bukanlah tindakan kekejaman Ilahi—ia adalah operasi pembebasan spiritual yang paling radikal. Allah tidak menginginkan Ismail mati; Allah menginginkan Ibrahim bebas—bebas dari keterikatan yang memperbudak, bebas dari kepemilikan yang mencekik, bebas dari cinta yang menyekutukan. Pisau yang diperintahkan untuk memotong leher Ismail sesungguhnya dimaksudkan untuk memotong rantai ta'alluq yang mengikat hati Ibrahim—dan dengan terputusnya rantai itu, Ibrahim justru mampu mencintai Ismail dengan cinta yang lebih murni, lebih suci, dan lebih abadi: cinta yang bersumber dari Allah dan kembali kepada Allah.
Ini adalah paradoks yang sangat dalam: Ibrahim baru benar-benar "memiliki" Ismail—dalam pengertian spiritual yang sejati—ketika ia rela melepaskannya. Selama Ismail masih "milik" Ibrahim dalam pengertian konvensional, Ismail adalah idol—berhala halus yang bersemayam di hati. Ketika Ibrahim melepaskan Ismail demi nama Allah, Ismail berubah status dari idol menjadi amanah—titipan ilahi yang dipercayakan untuk dijaga, bukan untuk digenggam. Dan hubungan dengan amanah jauh lebih indah, lebih ringan, dan lebih membahagiakan daripada hubungan dengan idol—karena amanah tidak membebani dan tidak memperbudak.
Erich Fromm, psikoanalis dan filsuf sosial Jerman, membedakan antara dua modus eksistensi: having (memiliki) dan being (mengada). Dalam modus having, manusia mendefinisikan dirinya melalui kepemilikan: “aku adalah apa yang aku punya”. Dalam modus being, manusia mendefinisikan dirinya melalui keberadaan dan hubungan autentiknya: “aku adalah apa yang aku alami, aku rasakan, aku berikan”. Fromm berargumen bahwa modus having pada akhirnya selalu menghasilkan kecemasan, karena segala yang dimiliki selalu bisa hilang. Sementara modus being menghasilkan ketenangan dan kebebasan, karena pengalaman dan keberadaan tidak bisa dirampas oleh siapa pun.
Peristiwa qurban Ibrahim, dalam kerangka ini adalah transisi ekstrim dari modus having ke modus being dalam hubungannya dengan anak. Ibrahim berpindah dari "aku memiliki Ismail" (modus having yang menghasilkan kecemasan, jika kehilangan) menjadi "aku mengalami kehadiran Ismail sebagai karunia Allah" (modus being yang menghasilkan syukur dan ketenangan). Dan perpindahan ini hanya dimungkinkan melalui kerelaan untuk melepaskan—karena selama seseorang masih menggenggam, ia tidak bisa membuka tangan untuk menerima.
Metafora di sini menggambarkan tangan yang menggenggam erat—tangan yang "memiliki" adalah tangan yang tertutup, tangan yang tidak bisa menerima apa pun, tangan yang melelahkan dan menyakitkan karena otot-ototnya terus menegang. Tangan yang terbuka—tangan yang telah "melepaskan"—adalah tangan yang siap menerima, tangan yang ringan dan bebas, tangan yang justru mampu menampung jauh lebih banyak, karena ia tidak dibatasi oleh genggaman. Ibrahim membuka tangannya—dan ke dalam tangan yang terbuka itulah, Allah menuangkan karunia yang tak terhingga: Ismail yang dikembalikan, iman yang teruji, keturunan yang menjadi pemimpin umat manusia, dan gelar Khalilullah yang abadi.
Kematian dan Kehidupan—Menyembelih untuk Menghidupkan
Secara literal, qurban adalah tindakan menyembelih—tindakan yang mengakhiri kehidupan biologis seekor hewan (atau dalam perintah awal, seorang manusia). Kematian, dalam pengalaman sehari-hari, adalah akhir—titik final, penghentian total, negasi absolut dari kehidupan. Namun, dalam peristiwa qurban Ibrahim, kematian justru menjadi pintu gerbang menuju kehidupan yang lebih tinggi. Yang "mati" dalam qurban bukan Ismail, yang "mati" adalah ego Ibrahim, keterikatan dan kepemilikan Ibrahim. Dan dari kematian ego itulah lahir kehidupan spiritual yang baru: kehidupan dalam kebebasan, kehidupan dalam keikhlasan, kehidupan dalam kedekatan dengan Allah.
Nabi Ibrahim, pada momen qurban, mengalami fana' dalam pengertian yang paling nyata dan paling dramatis. Ia "mati" dari keinginannya sendiri (keinginan untuk mempertahankan Ismail), "mati" dari ketakutannya sendiri (ketakutan akan kehilangan), "mati" dari logikanya sendiri (logika yang mengatakan bahwa menyembelih anak adalah gila). Dan dari "kematian" ini, ia "hidup kembali" dalam kualitas yang sama sekali baru—hidup sebagai Khalilullah, hidup dalam keintiman dengan Allah yang melampaui segala bentuk hubungan manusiawi.
Jadi Seruan Allah dan Rasul—termasuk seruan untuk berqurban—adalah seruan kepada kehidupan, bukan kepada kematian. Qurban bukan tindakan yang mematikan; ia adalah tindakan yang menghidupkan. Yang "disembelih" adalah ego yang membelenggu, keterikatan yang memperbudak, ketakutan yang melumpuhkan—dan dari penyembelihan itu lahir manusia baru yang hidup dalam kebebasan, kedamaian, dan cinta.
Ketundukan dan Kebebasan—Islam sebagai Liberasi Tertinggi
Paradoks keempat menyentuh inti dari makna Islam itu sendiri: hubungan antara ketundukan (khudlu’) dan kebebasan (?urriyyah).
Dalam pandangan dunia sekuler-liberal modern, kebebasan diidentikkan dengan otonomi tanpa batas, dengan kemampuan untuk melakukan apa pun yang diinginkan tanpa batasan dari otoritas eksternal. Ketundukan, sebaliknya, dipandang sebagai antitesis kebebasan—sebagai perbudakan, penindasan, Hilangnya kewenangan/daya tindak. Dalam kerangka ini, agama—dengan segala perintah dan larangannya—sering dipandang sebagai musuh kebebasan, dan "menyerahkan diri kepada Tuhan" dianggap sebagai bentuk tertinggi dari ketidakbebasan.
Peristiwa qurban Ibrahim menantang seluruh kerangka pemahaman ini. Pada momen penyerahan diri total itulah Ibrahim mencapai kebebasan yang paling radikal dan paling total: kebebasan dari perbudakan ego, dari tirani keinginan, dari diktator ketakutan, dan kebebasan dari penjara kepemilikan.
Selama Ibrahim masih "menyangka" bahwa Ismail "ada" secara independen dari Allah—sebagai "milik"-nya yang berdiri sendiri—maka Ismail, betapapun dicintainya, adalah hijab (tabir) yang menghalangi Ibrahim dari Allah. Ketika Ibrahim rela "menyembelih" persangkaan ini—rela mengakui bahwa Ismail bukan miliknya, melainkan milik Allah—maka tabir itu terangkat, dan Ibrahim menjadi bebas secara ontologis: bebas dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah. Dan inilah kebebasan tertinggi, karena siapa yang hanya menghamba kepada Allah tidak akan pernah menghamba kepada apa pun—tidak kepada harta, tidak kepada jabatan, tidak kepada manusia, tidak kepada ketakutan, dan tidak kepada keinginan.
Rabi'ah al-Adawiyyah (wafat pada 185 H/801 M), sufi perempuan agung, mengekspresikan kebebasan ini dengan puisinya yang terkenal:
"Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, maka halangilah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, maka janganlah Engkau sembunyikan Keindahan-Mu yang abadi dariku."
Ini adalah suara kebebasan yang paling murni: kebebasan dari segala motivasi selain cinta—termasuk kebebasan dari takut neraka dan harap surga, yang dalam pengertian tertentu juga bisa menjadi bentuk "perbudakan" (perbudakan oleh ketakutan dan keserakahan). Ibrahim, pada momen qurban, mencapai level kebebasan ini: ia tunduk bukan karena takut hukuman, bukan karena mengharap balasan, melainkan karena cinta yang melampaui segala kalkulasi—dan justru karena itulah ketundukannya adalah kebebasan tertinggi.
Relevansi Kontemporer: Qurban di Zaman Ketakutan akan Kehilangan
Setelah menganalisis empat dimensi paradoks dalam peristiwa qurban Ibrahim, kini memasuki pertanyaan yang paling urgen: apa relevansi paradoks ini bagi manusia kontemporer?
Kita hidup di sebuah era yang secara paradoksal ditandai oleh kelimpahan material dan kemiskinan makna. Di satu sisi, manusia modern memiliki lebih banyak barang, lebih banyak pilihan, lebih banyak informasi, dan lebih banyak koneksi daripada generasi mana pun dalam sejarah. Di sisi lain, tingkat kecemasan, depresi, kesepian, dan kehampaan eksistensial juga meningkat secara dramatis. Paradoks kelimpahan-kemiskinan ini bukan kebetulan—ia adalah konsekuensi logis dari “budaya keterikatan” yang menjadi fondasi masyarakat konsumeris.
Budaya konsumeris, pada dasarnya, adalah budaya yang mengajarkan manusia untuk menggenggam semakin erat—semakin banyak yang dimiliki, semakin baik; semakin banyak yang dikonsumsi, semakin bahagia; semakin erat genggaman, semakin aman. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh peristiwa qurban Ibrahim, genggaman yang semakin erat, justru menghasilkan kecemasan yang semakin besar—karena semakin banyak yang digenggam, semakin banyak yang ditakutkan akan hilang. Dan ketakutan akan kehilangan adalah salah satu sumber penderitaan yang paling fundamental dalam eksistensi manusia.
Filosofi qurban Ibrahim menawarkan terapi eksistensial yang sangat radikal untuk kondisi ini. Ia mengajarkan bahwa:
Pertama, segala yang kita "miliki" sesungguhnya adalah amanah. Anak, harta, kesehatan, jabatan, hubungan—semuanya adalah titipan yang diberikan untuk sementara dan akan diambil kembali pada waktunya. Bukan karena Allah kejam, melainkan karena segala sesuatu selain Allah memang bersifat fana (fana')—ia datang dan pergi, ia ada dan tiada, dan satu-satunya yang abadi adalah Allah sendiri: "?????????? ?????? ??????? ??? ????????? ???????????????. ????? ???? ????????? ??????"Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan."(QS. Al-Rahman: 26-27)
Kedua, keikhlasan dalam melepaskan justru menghasilkan kedamaian yang tak bisa diberikan oleh genggaman. Tangan yang terbuka lebih damai daripada tangan yang menggenggam. Hati yang ikhlas lebih tenteram daripada hati yang cemas. Jiwa yang pasrah lebih bahagia daripada jiwa yang meronta. Ini bukan nasihat moralistik yang klise—ini adalah hukum eksistensial yang telah dibuktikan oleh Ibrahim dan oleh setiap manusia yang berani mengikuti jejaknya.
Ketiga, yang diberikan kepada Allah tidak pernah hilang—ia dikembalikan dalam bentuk yang lebih indah. Ismail dikembalikan kepada Ibrahim. Harta yang disedekahkan dikembalikan dalam bentuk berkah dan ketenangan jiwa. Ego yang "disembelih" dalam proses spiritual dikembalikan dalam bentuk nafs mu?ma'innah—jiwa yang tenang dan damai. Ini adalah ekonomi ilahi yang logikanya terbalik dari ekonomi duniawi: dalam ekonomi duniawi, memberi berarti berkurang; dalam ekonomi ilahi, memberi berarti bertambah:
"Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakannya berlipat-lipat banyak." (QS. Al-Baqarah: 245).
Keempat, keterikatan (ta'alluq) pada makhluk justru merusak hubungan dengan makhluk itu sendiri. Orang tua yang terlalu possessive terhadap anaknya, justru merusak hubungan dengan anak. Suami yang terlalu cemburu justru menghancurkan pernikahannya. Manusia yang terlalu terobsesi dengan harta, justru diperbudak olehnya. Sebaliknya, ketika keterikatan ini dilepaskan—ketika hubungan dengan makhluk dibebaskan dari beban kepemilikan dan diserahkan kepada Allah—justru itulah hubungan menjadi indah, ringan, dan penuh berkah. Orang tua yang ikhlas membesarkan anaknya sebagai amanah Allah, justru memiliki hubungan yang paling indah dengan anaknya. Pasangan yang mencintai dengan tangan terbuka, justru memiliki pernikahan yang paling kuat.
Qurban sebagai narasi tandingan Budaya Konsumeris
Budaya konsumeris berkata: "Ambillah!"—ambil sebanyak-banyaknya, konsumsilah tanpa batas, genggamlah semakin erat, karena kamu adalah apa yang kamu miliki.
Qurban berkata: "Berikan!"—berikan yang terbaik, lepaskan yang paling dicintai, buka tanganmu, karena kamu adalah apa yang kamu korbankan.
Budaya konsumeris berkata: "Takutlah kehilangan!"—lindungi asetmu, asuransikan segalanya, bangun tembok di sekeliling kepemilikanmu, karena kehilangan adalah bencana.
Qurban berkata: "Jangan takut kehilangan!"—karena apa yang diberikan kepada Allah tidak pernah hilang, karena tangan yang terbuka lebih kaya daripada tangan yang menggenggam, karena kebebasan dari ketakutan akan kehilangan adalah kekayaan yang paling berharga.
Budaya konsumeris berkata: "Hidup adalah akumulasi!"—semakin banyak yang dikumpulkan, semakin bermakna hidupmu.
Qurban berkata: "Hidup adalah distribusi!"—semakin banyak yang dibagikan, semakin bermakna hidupmu.
Setiap manusia memiliki "Ismail"-nya masing-masing. Bagi seorang ibu, "Ismail" mungkin adalah anaknya. Bagi seorang pengusaha, "Ismail" mungkin adalah bisnisnya. Bagi seorang intelektual, "Ismail" mungkin adalah reputasinya. Bagi seorang pemuda, "Ismail" mungkin adalah mimpinya. Bagi seorang pecinta, "Ismail" mungkin adalah hubungannya. Bagi seorang pejabat, "Ismail" mungkin adalah jabatannya Dan bagi setiap manusia tanpa kecuali, "Ismail" paling mendasar adalah ego-nya sendiri—perasaan "aku" yang menjadi pusat dari segala keterikatan.
Idul Adha, setiap tahun, mengajukan pertanyaan eksistensial yang mengguncang: "Apa Ismail-mu? Dan sudahkah kamu siap menyerahkannya kepada Allah?"
Pertanyaan ini bukan pertanyaan teoretis yang bisa dijawab dengan mudah di atas kertas, jawabannya berbeda bagi setiap orang, di setiap momen kehidupannya. Bagi seseorang, menyerahkan "Ismail" mungkin berarti merelakan anak yang telah dewasa untuk hidup mandiri. Bagi yang lain, mungkin berarti merelakan jabatan yang sudah tidak amanah. Bagi yang lain lagi, mungkin berarti merelakan hubungan toxic (hubungan yang meracuni). Dan bagi yang paling berani, mungkin berarti merelakan seluruh konsep tentang diri sendiri untuk dilahirkan kembali sebagai manusia baru yang hidup sepenuhnya untuk Allah.
Bayangkan momen ketika Ibrahim membaringkan Ismail dan keduanya telah menyerah sepenuhnya. Di momen itu, tidak ada lagi pergulatan, tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi tarik-menarik antara kehendak dan perintah. Yang ada hanyalah kedamaian absolut—sakinah—yang turun ke hati yang telah kosong dari segala kecuali Allah. Dan kedamaian itu, bagi siapa pun yang pernah merasakannya—bahkan dalam dosis yang jauh lebih kecil, dalam momen-momen penyerahan diri yang kecil sehari-hari—adalah pengalaman yang paling indah yang bisa dialami oleh jiwa manusia.
Inilah puncak keindahan spiritual yang ditawarkan oleh filosofi qurban—keindahan yang justru tumbuh dari penderitaan dan pengorbanan. Tanpa kesakitan pisau, tidak ada keindahan pelukan. Tanpa keberanian melepaskan, tidak ada keajaiban menerima kembali. Tanpa kematian ego, tidak ada kelahiran jiwa. Paradoks ini bukan masalah yang harus dipecahkan, melainkan misteri yang harus dihayati—dan dalam penghayatan itulah terletak keindahan tertinggi dari pengalaman manusia.
Penutup
Perjalanan Nabi Ibrahim dan nabi Ismail telah membawa kita pada sebuah pemahaman yang melampaui logika linier: bahwa paradoks bukan kegagalan pikiran, melainkan gerbang menuju kebenaran yang lebih tinggi—dan peristiwa qurban Ibrahim adalah paradoks terbesar yang pernah dialami oleh keimanan manusia, sekaligus gerbang terluas menuju pemahaman tentang hakikat cinta, kepemilikan, kebebasan, dan kehidupan itu sendiri.
Ribuan tahun telah berlalu sejak pisau itu dihunus. Peradaban telah datang dan pergi, kekaisaran telah berdiri dan runtuh, teknologi telah mengubah wajah bumi berkali-kali. Namun kisah itu tetap hidup—selalu kontemporer, selalu relevan, dan selalu menantang.
Kisah itu bukan lagi tentang masa lalu. Kisah itu tentang sekarang—tentang setiap momen ketika manusia berdiri di persimpangan antara genggaman dan pelepasan, antara ego dan cinta, antara takut dan iman.
Idul Adha bukanlah hari raya yang hanya datang setahun sekali. Ia adalah undangan yang selalu terbuka—undangan untuk berdiri di tempat Ibrahim pernah berdiri, untuk merasakan apa yang Ibrahim pernah rasakan, untuk memilih apa yang Ibrahim pernah pilih. Dan tempat Ibrahim bukan di padang Mina ribuan tahun lalu—tempat Ibrahim ada di setiap momen kehidupan di mana seseorang dihadapkan pada pilihan antara menggenggam dan melepaskan, antara mempertahankan ego dan menyerahkan diri, antara memilih kenyamanan dan memilih kebenaran.
Setiap hari adalah Mina. Setiap momen adalah qurban. Setiap pilihan adalah pisau yang bisa diangkat atau diturunkan. Dan setiap kali seseorang memilih untuk melepaskan—dengan ikhlas, dengan berani, dengan cinta—ia akan menemukan bahwa yang dilepaskan tidak pernah benar-benar pergi—ia dikembalikan dalam bentuk yang lebih indah, lebih murni, dan lebih abadi. Karena beginilah hukum alam semesta yang ditetapkan oleh Yang Maha Pencipta.
“Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang seberapa banyak manusia berhasil memiliki, melainkan seberapa tulus ia mampu berbagi. Sebab harta yang disimpan hanya akan menjadi debu dan angka, sedangkan harta yang dikorbankan dengan ikhlas akan menjelma menjadi cahaya yang menerangi kehidupan dunia dan akhirat. Dan di antara gema takbir Idul Adha itu, Allah sedang mengajarkan kepada manusia bahwa tangan yang memberi sesungguhnya lebih mulia daripada hati yang terus menggenggam.”
Hakikat Lempar Jumrah Aqabah: Deklarasi Perang Melawan Bisikan Setan
Proses melempar Jumrah Aqabah itu bukan sekadar “main lempar batu ke setan". Melempar jumrah adalah simbol perlawanan, ikrar, dan pelepasan. Tanggal 10 Zulhijah sesungguhnya adalah Hari Nahr, hari pertama Iduladha.
Proses melempar Jumrah Aqabah itu bukan sekadar “main lempar batu ke setan". Melempar jumrah adalah simbol perlawanan, ikrar, dan pelepasan. Tanggal 10 Zulhijah sesungguhnya adalah Hari Nahr, hari pertama Iduladha.
Asal-usul peristiwa jumrah adalah kisah Nabi Ibrahim a.s. melawan Iblis. Makna filosofinya dar peristiwa ini adalah ketika Nabi Ibrahim a.s. diperintah menyembelih Ismail a.s., setan muncul tiga kali buat menggoda.
Godaan pertama di Jumrah Ula, “jangan sembelih anakmu, itu kejam”. Lalu ketika Jumrah Wustha, “kamu durhaka sama anak”. Terakhir ketika di Jumrah Aqabah, "ini cuma mimpi, jangan dituruti”.
Nabi Ibrahim a.s. diperintah Allah Swt. untuk melempar setan itu dengan tujuh batu setiap kali jumrah. Maka peristiwa melempar baru atau jumrah adalah kreka ulang adegan yang dilakukan Nabi Ibrahim a.s. tersebut.
Filosofinya peristiwa jumrah adalah, sejak awal manusia diciptakan, musuh utamanya satu: Iblis. Lempar jumrah hakekatnya deklarasi perang dengan bisikan setan. “Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh." sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Fathir ayat 6.
Kenapa cuma Jumrah Aqabah yang dilempar tanggal 10? Tanggal 10 Zulhijah itu hari “pembebasan”. Haji sudah selesak wukuf, sudah mabit di Muzdalifah, tinggal selesaikan puncak ibadah.
Jumrah Aqabah adalah yang paling dekat ke Makkah, paling besar, simbol setan terbesar yang menggoda manusia buat meninggalkan perintah Allah Swt. yang paling berat: menyembelih yang paling dicintai.
Maknanya adalah musuh terbesar itu bukan setan di luar, tapi setan yang bikin kamu berat ngelakuin perintah Allah. Lempar Aqabah adalah Aku lawan hawa nafsuku yang nggak mau taat”.
Tujuh batu bermakna tujuh pintu neraka dan tujuh anggota sujud. Ulama tafsir bilang angka tujuh itu simbol kesempurnaan.
Pertama, tujuh batu adalah simbol perlawanan total pakai semua potensi: mata, telinga, lisan, tangan, kaki, hati, akal.
Kedua, melempar adalah gerakan aktif. Iman itu bukan pasif. Kalau setan bisik, kamu harus “lempar” dengan zikir, ilmu, istikamah.
Ketiga, batu kecil sebesar kerikil hakikatnya senjata orang lemah. Kamu nggak butuh senjata hebat buat ngalahin setan. Cukup iman sebesar biji sawi dan tawakal.
Nabi saw. selalu membaca “Bismillah, Allahu Akbar” setiap melempar. Artinya: “Aku lempar bukan karena kuat, tapi karena nama-Mu ya Allah”.
Hakikat batin melempar jumrah adalah melempar kepada tkg musuh di dalam diri. Imam Ghazali dan ulama tasawuf memberikan makna lebih dalam.
Jumrah Ula adalah melempar setan yang bikin ragu sama Allah. “Apa bener ada surga neraka?” Jumrah Wustha adalah melempar setan yang bikin riya’, ujub, sombong. Jumrah Aqabah adalah melmpar setan yang bikin cinta dunia berlebihan dan berat berlaku taat.
Tanggal 10 Zulhijah kita fokus ke Jumrah Aqabah dulu, karena itu setan yang paling gampang menggoda setelah capek Wukuf dan Muzdalifah: “Sudah ah, tidak usah melempar, capek”.
Efek psikologis dan spiritual dari melempar Jumrah. Pertama, katarsis. Melempar batu adalah membuang amarah, dendam, beban dosa secara simbolis. Makanya banyak jamaah nangis pas lempar.
Kedua ikrar, artinya setiapiap melempar hakikatnya adalah: “Aku nggak akan menuruti setan lagi hari ini”. Itu janji yang diulang sebanyak tujuh kali.
Ketiga, peralihan status. Setelah melempar Junrah Aqabah, halal cukur rambut, ganti baju, boleh menemui istri. Artinya “tahap berat” selesai. Filosofinya adalah kalau kamu menang lawan setan, Allah Swt. memberi kemudahan.
Kesalahpahaman Jumrah Aqabah yang sering terjadi. Marah-marah, lempar sekuat tenaga, maki-maki tiang jumrah. Melempar Jumrah sebaiknya dilakukan dengan tenang, khusyuk, berniat melawan setan dalam diri.
Tiang yang dilempar itu cuma penanda, bukan setan beneran. Setan nggak tinggal di tiang itu. Kalau iya, udah hancur dilempar 3 miliar orang sejak zaman Nabi.
Kesalahan lainnya, yaitu berpkir “aku udah lempar setan, jadi aku suci.” Hal itu perlu dihindari karena sesungguhnya, “Aku baru mulai latihan. Setelah ini setan akan datang lagi lewat HP, uang, jabatan”. Melempar jumrah itu latihan, bukan akhir.
Lempar Jumrah Aqabah tanggal 10 Zulhijah adalah ikrar: “Ya Allah, aku pilih taat kepada-Mu walau berat. Aku musuhi setan dan hawa nafsuku. Mulai hari ini aku mau hidup baru.”
Itu sebabnya setelah lempar Jumrah, sunnahnya langsung menyembelih kurban. Hal ini sebagai smbol: “Aku siap menyembelih kecintaanku pada dunia, sebagaimana Ibrahim siap menyembelih Ismail”.
Jadi kalau nanti jemaah haji melempar Jumrah, jangan cuma gerakin tangan. Bisikin ke hati: "Ini batu buat syahwatku yang ngajak maksiat. Ini batu buat malas ibadahku. Ini batu buat ujubku.”
MAKKAH – Wakil Menteri Kementerian Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyambangi jamaah KBIHU Masyarakat Madani Bojonegoro yang menginap di Royal Hotel 213, Makkah, Arab Saudi, Kamis (21/5/2026). Kunjungan tersebut menjadi momen penuh kehangatan sekaligus penguatan spiritual bagi para jamaah haji asal Kabupaten Bojonegoro.
Dalam kesempatan tersebut, Dahnil Anzar Simanjuntak memberikan sejumlah pesan penting kepada para jamaah menjelang pelaksanaan ibadah puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Ia mengingatkan seluruh jamaah untuk menjaga kesehatan fisik agar dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan lancar dan khusyuk.
“Menjelang ibadah puncak, kesehatan harus benar-benar dijaga. Jangan sampai kelelahan, perbanyak istirahat, konsumsi makanan yang cukup, dan tetap mengikuti arahan petugas haji,” pesan Dahnil di hadapan jamaah KBIHU Masyarakat Madani Bojonegoro.
Selain kesehatan, Dahnil juga menekankan pentingnya menjaga niat dalam berhaji agar seluruh ibadah diterima Allah SWT dan memperoleh predikat haji mabrur. Ia mengajak jamaah untuk memperbanyak doa serta menjaga kekompakan selama berada di Tanah Suci.
“Luruskan niat semata-mata karena Allah SWT. Semoga seluruh jamaah diberikan kelancaran, kesehatan, dan menjadi haji yang mabrur,” ujarnya.
Tak hanya itu, Dahnil juga meminta para jamaah untuk turut mendoakan seluruh jamaah haji asal Bojonegoro agar senantiasa diberi keselamatan dan kemudahan selama menjalankan ibadah haji tahun 2026.
Kehadiran Wakil Menteri Kementerian Haji dan Umrah RI tersebut disambut antusias para jamaah.
“Kami merasa mendapat perhatian langsung dari pemerintah sekaligus motivasi spiritual menjelang pelaksanaan puncak ibadah haji di Tanah Suci,” ungkap Sholikin Jamik mewakili jemaah.
Kunjungan ini menjadi bentuk kepedulian pemerintah terhadap kondisi jamaah haji Indonesia, khususnya jamaah asal Bojonegoro yang tengah menunaikan rukun Islam kelima di Kota Suci Makkah. [*/red]
Ketiganya itu simbol perlawanan ke setan, tapi ada beda tingkat dan maknanya. Dilakukan tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah saat hari Tasyrik.
1. Jumrah Aqabah – Dilempar 10 Dzulhijjah
Lokasi : Paling dekat ke Mekah, paling besar Waktu: 10 Dzulhijjah, setelah wukuf & mabit di Muzdalifah Jumlah: 7 batu
Makna filosofis: Ini simbol perlawanan ke “setan besar” yang menggoda Nabi Ibrahim waktu diperintah menyembelih Ismail.
Filosofi batin: Melawan hawa nafsu terbesar yang bikin berat taat Allah. Contoh: malas ibadah, cinta dunia berlebihan, gengsi taubat.
Tanggal 10 itu hari kemenangan. Setelah lempar Aqabah, jamaah halal tahallul awal – boleh ganti baju, potong rambut. Artinya: “Kalau kamu menang lawan nafsu besar, Allah kasih keringanan.”
2. Jumrah Wustha – Dilempar 11, 12, 13 Dzulhijjah
Lokasia: Di tengah, antara Ula dan Aqabah Waktu: Setelah zawal/matahari tergelincir tanggal 11-13 Jumlah: 7 batu tiap hari
Makna filosofis: Melambangkan perlawanan ke bisikan setan level menengah. Kalau Aqabah itu godaan “tinggalkan perintah Allah”, Wustha itu godaan “lakukan setengah-setengah”.
Filosofi batin: Melawan riya’, ujub, sombong, dan ibadah yang nggak ikhlas. Contoh: “Udah haji, foto dulu biar orang tau.” Itu godaan Wustha. Setan bikin amal jadi kosong pahalanya.
Urutannya lempar Ula dulu, baru Wustha, baru Aqabah. Itu urutan dari godaan kecil ke besar.
3. Jumrah Ula – Dilempar 11, 12, 13 Dzulhijjah
Lokasi: Paling jauh dari Mekah, paling dekat ke Mina Waktu: Setelah zawal tanggal 11-13 Jumlah: 7 batu tiap hari
Makna filosofis: Simbol perlawanan ke godaan setan level awal/paling halus. Biasanya godaan ragu, was-was, dan bisikan kecil yang bikin ibadah nggak khusyuk.
Filosofi batin: Melawan was-was dan keraguan dalam iman.
Contoh: “Apa bener Allah nerima hajiku? Apa bener wudhuku sah?” Kalau dibiarin, was-was ini bikin ibadah nggak tenang. Kenapa 3 tempat ? Kenapa 7 batu ?
3 tempat: Ikut kisah Nabi Ibrahim yang digoda setan 3 kali di 3 lokasi berbeda. Kita ulang adegan itu sebagai ikrar: “Aku ikut Ibrahim, bukan ikut Iblis.”
7 batu: Angka 7 = kesempurnaan. Simbol perlawanan total pakai 7 anggota tubuh: mata, telinga, lisan, tangan, kaki, hati, akal. Nabi ? lempar sambil baca _“Bismillah, Allahu Akbar”_. Artinya: “Aku lawan setan bukan karena kuatku, tapi karena nama-Mu ya Allah.”
Perbedaan Urutan & Hukum Jumrah Waktu Lempar Urutan Hukum Ula 11-13 Dzulhijjah Pertama Wajib. Kalau tinggal, kena dam
Wustha 11-13 Dzulhijjah Kedua Wajib. Kalau tinggal, kena dam
Aqabah 10 Dzulhijjah Sendiri Wajib. Rukun haji. Kalau tinggal, haji batal Urutan wajib: Ula ? Wustha ? Aqabah. Nggak boleh dibalik.
Hakekatnya: 3 Musuh dalam Diri
Ulama tasawuf membagi jadi 3: 1. Jumrah Ula adalah Lawan setan yang bikin ragu sama Allah 2. Jumrah Wustha adalah Lawan setan yang bitin riya’ dan ujub 3. Jumrah Aqabah adalah Lawan setan yang bikin cinta dunia & berat taat
Jadi lempar jumrah itu latihan 3 hari: bersihkan hati dari ragu ? bersihkan niat dari riya’ ? bersihkan nafsu dari cinta dunia.
Yang penting diingat adalah Tiang jumrah itu cuma penanda. Setan nggak tinggal di situ. Kalau marah-marah, maki-maki, lempar sekuat tenaga, itu salah kaprah.
Nabi ? lempar dengan tenang, khusyuk, dan pendek. Fokusnya bukan ke tiang, tapi ke hati: “Ya Allah, aku lempar malas ibadahku, aku lempar ujubku, aku lempar cinta duniaku.”
Lempar Jumroh Aqobah, Hakekatnya Deklarasi Perang Dengan Bisikan Setan
Oleh: Sholikin Jamik
SuaraBojonegoro.com – Lempar Jumrah Aqabah itu bukan “main lempar batu ke setan”, Pak. Itu simbol perlawanan, ikrar, dan pelepasan. Tanggal 10 Dzulhijjah = Hari Nahr, hari pertama Idul Adha.
1. Asal-usul: Kisah Nabi Ibrahim vs Iblis*
Ini inti filosofinya. Waktu Nabi Ibrahim diperintah menyembelih Ismail, setan muncul 3 kali buat menggoda:
1. *Di Jumrah Ula*: “Jangan sembelih anakmu, itu kejam”
Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk melempar setan itu dengan 7 batu tiap kali. Maka kita ulang adegan itu.
Filosofinya*: Sejak awal manusia diciptakan, musuh utamanya satu: Iblis. Lempar jumrah hakekatnya deklarasi perang dengan bisikan setan.
_“Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh”_ [QS. Fathir: 6]
2. Kenapa cuma Jumrah Aqabah yang dilempar tanggal 10 ?*
Tanggal 10 Dzulhijjah itu hari “pembebasan”. Haji sudah wukuf, sudah mabit di Muzdalifah, tinggal selesaikan puncak ibadah.
Jumrah Aqabah adalah yang paling dekat ke Mekah, paling besar, simbol setan terbesar yang menggoda manusia buat meninggalkan perintah Allah yang paling berat: menyembelih yang paling dicintai.
Maknanya*: Musuh terbesar itu bukan setan di luar, tapi setan yang bikin kamu berat ngelakuin perintah Allah. Lempar Aqabah adalah Aku lawan hawa nafsuku yang nggak mau taat”.
3. 7 Batu = 7 Pintu Neraka, 7 Anggota Sujud*
Ulama tafsir bilang angka 7 itu simbol kesempurnaan.
1. *7 batu* adalah simbol perlawanan total pakai semua potensi: mata, telinga, lisan, tangan, kaki, hati, akal
2. *Melempar* adalah gerakan aktif. Iman itu bukan pasif. Kalau setan bisik, kamu harus “lempar” dengan zikir, ilmu, istiqamah
3. *Batu kecil sebesar kerikil* hakekatnya senjata orang lemah. Kamu nggak butuh senjata hebat buat ngalahin setan. Cukup iman sebesar biji sawi + tawakal
Nabi ? selalu baca _“Bismillah, Allahu Akbar”_ tiap lempar. Artinya: “Aku lempar bukan karena kuat, tapi karena nama-Mu ya Allah”.
4. Hakekat Batin: Lempar 3 Musuh dalam Diri*
Imam Ghazali & ulama tasawuf buka makna lebih dalam:
Jumrah Ula* adalah Lempar setan yang bikin ragu sama Allah. “Apa bener ada surga neraka?”
*Jumrah Wustha* adalah Lempar setan yang bikin riya’, ujub, sombong
*Jumrah Aqabah* adalah Lempar setan yang bikin cinta dunia berlebihan & berat taat
Tanggal 10 Dzulhijjah kita fokus ke Jumrah Aqabah dulu, karena itu setan yang paling gampang menggoda setelah capek wukuf & Muzdalifah: “Udah ah, nggak usah lempar, cape”.
5. Efek Psikologis & Spiritual*
1. *Catharsis*: Lempar batu adalah buang amarah, dendam, beban dosa secara simbolis. Makanya banyak jamaah nangis pas lempar
2. *Ikrar*: Tiap lempar hakekatnya “Aku nggak akan nurut setan lagi hari ini”. Itu janji yang diulang 7 kali
3. *Peralihan status*: Setelah lempar Aqabah, halal cukur rambut, ganti baju, boleh istri. Artinya “tahap berat” selesai. Filosofinya: Kalau kamu menang lawan setan, Allah beri kemudahan
Benar*: Tenang, khusyuk, niat lawan setan dalam diri. Tiang itu cuma penanda, bukan setan beneran
Setan nggak tinggal di tiang itu. Kalau iya, udah hancur dilempar 3 miliar orang sejak zaman Nabi.
Salah*: Mikir “aku udah lempar setan, jadi aku suci”
Benar*: “Aku baru mulai latihan. Setelah ini setan akan datang lagi lewat HP, uang, jabatan”. Lempar jumrah itu latihan, bukan akhir
Kesimpulan
Lempar Jumrah Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah adalah
*Ikrar: “Ya Allah, aku pilih taat kepada-Mu walau berat. Aku musuhi setan dan hawa nafsuku. Mulai hari ini aku mau hidup baru.”*
Itu sebabnya setelah lempar, sunnahnya langsung menyembelih kurban. Simbol: “Aku siap menyembelih kecintaanku pada dunia, sebagaimana Ibrahim siap menyembelih Ismail”.
Jadi kalau nanti jamaah haji lempar, jangan cuma gerakin tangan. Bisikin ke hati:
_“Ini batu buat syahwatku yang ngajak maksiat. Ini batu buat malas ibadahku. Ini batu buat ujubku.”_
‘’(Jemaah haji Bojonegoro) Sudah berangkat ke Makkah. Kondisi baik dan sehat semua,’’ ujar Kepala Kementerian Haji dan Umroh (Kemenhaj) Bojonegoro Abdullah Hafidz.
Amirul Hajj Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Masyarakat Madani Sholikin Jamik menyampaikan, seluruh jemaah hajiBojonegoro menjalankan haji tamattu.
Jadi, melaksanakan umrah dulu, baru haji. Ibadah umrah dilaksanakan hanya satu hari satu malam. Jarak antara Madinah ke Makkah ditempuh sekitar 7 hingga 8 jam.
Kemudian, jemaah istirahat, mampir di hotel. Berjalan dari hotel di Makkah menuju Masjidil Haram. Dan, melaksanakan ibadah umrah.
‘’Jemaah hajiBojonegoro tergabung dari kloter 37 sampai 42. KBIHU Masyarakat Madani masuk di kloter 42. Berangkat pukul 14.00 WAS, kemarin (11/5). Untuk memulai ibadah haji di Makkah,’’ terangnya.
Menurut Ketua KBIHU Masyarakat Madani tersebut, kondisi jemaah hajiBojonegoro dalam kondisi sehat dan kuat. Di sisi lain, imbauan selalu dilakukan agar jemaah menjaga fisik dan keselamatan. Tidak menghabiskan waktu untuk memforsir energi.
‘’Alhamdulillah, secara umum siap berangkat dari Madinah ke Makkah. Kalau ada sedikit flu, itu hal biasa. Tidak menjadi halangan untuk beribadah,’’ pungkasnya. (ewi/msu)
Sholat Maghrib-Isya pada 11 dan 12 Dzulhijjah saat Mabit di Mina
Oleh: Sholikin Jamik*)
SAAT malam bina iman dan taqwa (Mabit) di Mina tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah, sholat Maghrib dan Isya dilakukan sendiri-sendiri, tidak dijamak, tapi diqashar untuk Isya.
Ini sunnah Nabi ? waktu Haji Wada’. 1. Cara sholatnya
Maghrib: 3 rakaat, utuh. Tidak diqashar, tidak dijamak. Isya: 2 rakaat, diqashar. Tidak dijamak dengan Maghrib.
Jadi: – Masuk waktu Maghrib ? sholat Maghrib 3 rakaat – Masuk waktu Isya ? sholat Isya 2 rakaat
Waktu sholat tetap ikut waktu Mina. Nggak digabung jadi jamak taqdim/ta’khir.
Dalilnya: Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi ? salat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh di Mina. Beliau mengqashar sholat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat” [HR. Muslim 1218]
Nabi ? tidak menjamak Maghrib-Isya di Mina tanggal 11-12 Dzulhijjah.
2. Kenapa tidak dijamak?
Jamak itu keringanan untuk orang safar yang berpindah tempat atau ada kesulitan. Di Mina tanggal 11-12, jamaah sudah “mukim sementara”. Nabi ? dan sahabat menetap di tenda Mina 3 hari, jadi sholatnya dikembalikan ke asal: dikerjakan di waktunya masing-masing.
Berbeda dengan tanggal 9 Dzulhijjah di Arafah dan Muzdalifah, di sana Nabi ? menjamak taqdim Zhuhur-Ashar di Arafah, dan jamak ta’khir Maghrib-Isya di Muzdalifah.
3. Yang berlaku untuk jamaah Indonesia
1. Kalau sholat sendiri atau di tenda: Maghrib 3 rakaat, Isya 2 rakaat, di waktunya. Sunnah dikerjakan berjamaah di tenda.
2. Kalau ikut imam di masjid/mushola Mina: Ikuti imam. Kalau imam sholat 4 rakaat, makmum musafir ikut 4 rakaat. Setelah imam salam, niat qashar sudah gugur karena mengikuti imam mukim.
3. Waktu sholat: Lihat jadwal sholat Mina. Biasanya selisih 1-2 menit dengan Mekah. Jangan pakai jadwal Indonesia.
4. Kesalahan yang sering terjadi
Salah: Jamak taqdim Maghrib-Isya jam 8 malam karena capek Benar: Tunggu masuk waktu Isya, baru sholat Isya 2 rakaat
Salah: Isya tetap 4 rakaat karena merasa sudah nggak safar Benar: Tetap qashar 2 rakaat selama masih di Mina dan belum niat mukim 4 hari lebih
5. Hikmahnya
Nabi ? sengaja tidak menjamak di Mina biar jamaah istirahat, zikir, dan ibadah malam. Hari-hari Tasyrik itu hari makan, minum, dan dzikir [QS. Al-Baqarah: 203].
Jarak waktu antar sholat jadi momen untuk muhasabah: “Besok mau lempar jumrah lagi, hatiku sudah bersih belum?”
Intinya: Tanggal 11-12 Dzulhijjah di Mina ? Maghrib 3 rakaat, Isya 2 rakaat, dikerjakan di waktunya masing-masing. Tidak dijamak.
Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan cerai gugat yang diajukan pihak istri sebanyak 832 perkara, sementara cerai talak tercatat 271 perkara. Hal ini menunjukkan tren dominasi gugatan dari pihak perempuan.
Di balik tingginya angka tersebut, faktor perselisihan dan pertengkaran terus-menerus menjadi penyebab paling dominan, yakni mencapai 413 kasus. Angka ini melampaui faktor lain yang juga tercatat dalam data pengadilan.
Panitera PA Bojonegoro Sholikin Jamik menjelaskan, perselisihan dalam rumah tangga umumnya tidak berdiri pada satu sebab, melainkan akumulasi berbagai persoalan.
Sholikin sapaannya mencontohkan, persoalan nafkah masih menjadi salah satu pemicu, baik karena tidak terpenuhi maupun dianggap kurang mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, konflik juga kerap dipicu campur tangan pihak ketiga, terutama dari keluarga, yang memperkeruh hubungan suami istri. Namun, perselingkuhan menjadi salah satu faktor paling banyak.
“Tapi yang amat sangat banyak itu justru perselingkuhan, termasuk ada indikasi punya WIL (wanita idaman lain) maupun PIL (pria idaman lain),” terangnya.
Tidak hanya itu, lanjutnya, gaya hidup konsumtif hingga kebiasaan berutang tanpa sepengetahuan pasangan turut memperbesar potensi konflik dalam rumah tangga.
“Punya utang tanpa sepengetahuan istri atau laki-laki juga ada,” tambahnya.
Selain faktor perselisihan, data PA Bojonegoro juga mencatat penyebab lain seperti ekonomi, judi, meninggalkan pasangan, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), meski jumlahnya tidak sebesar konflik berkepanjangan. (ewi/msu)
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Calon jemaah haji (CJH) asal Bojonegoro mulai menjalani masa persiapan menuju puncak ibadah haji setelah menuntaskan umrah wajib di Kota Makkah. Di antaranya, menjalankan ibadah harian hingga menjaga kesehatan fisik.
Amirul Hajj Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Masyarakat Madani, Sholikin Jamik menyampaikan, kegiatan yang dilakukan jemaah saat ini adalah menjalankan sholat 5 waktu di Masjidil Haram. Dimana dipercaya, memiliki pahala 100 ribu kali lipat dibanding sholat di Tanah Air.
Namun, juga perlu penyikapan, melihat jarak yang cukup jauh dan cuaca panas. Maka, disarankan para jemaah menjalankan ibadah di Masjid hotel masing-masing. Untuk menjaga kondisi fisik agar tetap prima menghadapi rangkaian ibadah pada 7–13 dzulhijjah mendatang.
"Ini perlu disikapi karena cuaca sangat panas, jarak relatif jauh, dan kendaraan berjubel," ujarnya.
Sholikin menjelaskan, para ulama juga membolehkan jemaah salat di masjid hotel selama masih berada di tanah suci.
“Selama masih di masjid tanah suci, pahalanya sama. Yang penting kesehatan jemaah tetap terjaga,” katanya.
Dia menambahkan, menjaga fisik jauh lebih penting dibanding memaksakan diri mengejar ibadah sunnah yang berisiko menguras tenaga. Sebab, seluruh jemaah masih harus menghadapi rangkaian ibadah utama di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Lempar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah Lambang 3 Musuh Setan dalam Diri
Oleh: Sholikin Jamik
SuaraBojonegoro.com – Ketiganya merupakan simbol perlawanan terhadap setan, tetapi memiliki perbedaan tingkat dan makna. Ibadah ini dilakukan pada tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah saat hari Tasyrik.
1. Jumrah Ula (Dilempar pada 11, 12, dan 13 Zulhijah)
Lokasi: Paling jauh dari Makkah, paling dekat ke Mina.
Waktu: Setelah zawal (matahari tergelincir) tanggal 11–13 Zulhijah.
Jumlah: 7 butir batu setiap hari.
Makna Filosofis:
Simbol perlawanan terhadap godaan setan level awal atau yang paling halus. Biasanya berupa godaan ragu, waswas, dan bisikan kecil yang membuat ibadah tidak khusyuk.
Filosofi Batin:
Melawan waswas dan keraguan dalam iman.
Contoh: “Apakah benar Allah menerima hajiku? Apakah benar wudukku sah?” Jika dibiarkan, rasa waswas ini akan membuat ibadah menjadi tidak tenang.
2. Jumrah Wustha (Dilempar pada 11, 12, dan 13 Zulhijah)
Lokasi: Di tengah, antara Jumrah Ula dan Jumrah Aqabah.
Waktu: Setelah *zawal tanggal 11–13 Zulhijah.
Jumlah: 7 butir batu setiap hari.
Makna Filosofis:
Melambangkan perlawanan terhadap bisikan setan level menengah. Jika Aqabah adalah godaan untuk “meninggalkan perintah Allah”, maka Wustha adalah godaan untuk “melakukan ibadah secara setengah-setengah”.
Filosofi Batin:
Melawan sifat riya, ujub, sombong, dan ibadah yang tidak ikhlas.
Contoh: “Sudah haji, foto dulu biar orang tahu.” Itu adalah godaan Wustha. Setan membuat amal ibadah menjadi kosong pahalanya.
3. Jumrah Aqabah (Dilempar pada 10 Zulhijah)
Lokasi: Paling dekat ke Makkah, ukurannya paling besar.
Waktu: Tanggal 10 Zulhijah, setelah wukuf dan mabit di Muzdalifah.
Jumlah: 7 butir batu.
Makna Filosofis:
Ini adalah simbol perlawanan terhadap “setan besar” yang menggoda Nabi Ibrahim alaihissalam ketika diperintah untuk menyembelih Nabi Ismail alaihissalam.
Filosofi Batin:
Melawan hawa nafsu terbesar yang membuat seseorang berat untuk menaati Allah.
Contoh: Malas beribadah, cinta dunia secara berlebihan, dan gengsi untuk bertobat.
Tanggal 10 Zulhijah adalah hari kemenangan. Setelah melempar Jumrah Aqabah, jemaah diperbolehkan melakukan tahallul awal (boleh mengganti pakaian ihram dan memotong rambut). Artinya: “Jika kamu menang melawan nafsu besar, Allah akan memberikan keringanan.”
Kenapa Ada 3 Tempat? Kenapa Harus 7 Batu?
3 Tempat: Mengikuti kisah Nabi Ibrahim yang digoda oleh setan sebanyak 3 kali di 3 lokasi yang berbeda. Kita mengulang adegan tersebut sebagai ikrar: “Aku mengikuti Nabi Ibrahim, bukan mengikuti Iblis.”
7 Batu: Angka 7 melambangkan kesempurnaan. Ini adalah simbol perlawanan total yang melibatkan 7 anggota tubuh: mata, telinga, lisan, tangan, kaki, hati, dan akal.
Nabi Muhammad \small \text{SAW} melempar batu sambil membaca, “Bismillah, Allahu Akbar” (Dengan menyebut nama Allah, Allah Mahabesar). Artinya: “Aku melawan setan bukan karena kekuatanku, melainkan karena nama-Mu, ya Allah.”
Urutan dan Hukum Melaksanakan Jumrah
Pelaksanaan lempar jumrah pada hari Tasyrik harus dilakukan secara berurutan, yaitu dimulai dari Jumrah Ula sebagai urutan pertama, kemudian dilanjutkan ke Jumrah Wustha sebagai urutan kedua, dan diakhiri dengan Jumrah Aqabah sebagai urutan ketiga. Urutan ini bersifat wajib dan tidak boleh dibalik.
Mengenai hukumnya, melempar Jumrah Ula dan Jumrah Wustha pada tanggal 11 sampai 13 Zulhijah hukumnya adalah wajib haji, di mana jika ditinggalkan jemaah wajib membayar denda atau dam. Sementara itu, melempar Jumrah Aqabah yang dilakukan sendiri pada tanggal 10 Zulhijah memiliki hukum yang sangat kuat sebagai bagian dari rukun atau wajib haji inti, sehingga jika ditinggalkan dapat membuat ibadah haji menjadi tidak sah atau batal.
Hakikatnya: 3 Musuh dalam Diri
Ulama tasawuf membagi esensi lempar jumrah menjadi 3 bagian:
Jumrah Ula: Melawan setan yang membuat kita ragu kepada Allah.
Jumrah Wustha: Melawan setan yang membuat kita memelihara sifat riya dan ujub.
Jumrah Aqabah: Melawan setan yang membuat kita cinta dunia dan berat untuk taat.
Jadi, melempar jumrah adalah latihan selama 3 hari untuk: membersihkan hati dari keraguan \rightarrow membersihkan niat dari sifat riya \rightarrow membersihkan nafsu dari cinta dunia.
Hal Penting yang Harus Diingat:
Tiang jumrah itu hanyalah sebuah penanda, setan tidak tinggal di dalam tiang tersebut. Jika ada jemaah yang marah-marah, memaki-maki, hingga melempar batu sekuat tenaga, hal itu adalah salah kaprah.
Nabi Muhammad \small \text{SAW} melempar jumrah dengan tenang, khusyuk, dan penuh ketundukan. Fokusnya bukan pada tiangnya, melainkan pada hati kita: “Ya Allah, aku lempar rasa malas ibadahku, aku lempar sifat ujubku, dan aku lempar cinta duniaku.”
1.103 Pasutri di Bojonegoro Kandas, Selingkuh jadi Biang Kerok Utama
Ilustrasi perceraian akibat perselingkuhan (Foto: ChatGpt Ai)
Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Sebanyak 1.103 pasangan suami istri (Pasutri) di Kabupaten Bojonegoro memilih mengakhiri hubungan keluarganya di meja Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro. Rupanya, perselingkuhan menjadi biang kerok utama, hancurnya rumah tangga pasutri tersebut.
Berdasarkan data yang tercatat di PA Bojonegoro hingga April 2026 ini, perkara cerai gugat yang diajukan pihak istri mendominasi dengan 832 kasus. Sementara itu, cerai talak yang diajukan suami tercatat sebanyak 271 perkara.
Perselisihan dan pertengkaran berkepanjangan menjadi faktor paling dominan dalam kasus perceraian tersebut. Tercatat, sebanyak 413 perkara dipicu konflik rumah tangga yang terus terjadi tanpa penyelesaian. Faktor ini menjadi penyebab tertinggi dibanding persoalan lainnya.
Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro, Sholikin Jamik mengungkapkan, konflik rumah tangga biasanya dipicu oleh banyak persoalan yang saling berkaitan. Namun, yang terbanyak disebabkan oleh perselingkuhan yang menjadi konflik terus menerus.
“Yang amat sangat banyak itu perselingkuhan, termasuk ada indikasi punya WIL (wanita idaman lain) maupun PIL (pria idaman lain),” ungkap Sholikin, Jumat (15/5/2026).
Selain perselingkuhan, lanjut Sholikin, persoalan ekonomi juga masih menjadi pemicu utama dalam rumah tangga. Mulai dari nafkah yang dianggap kurang mencukupi hingga kebiasaan berutang tanpa sepengetahuan pasangan.
“Punya utang tanpa sepengetahuan istri atau laki-laki juga ada,” beber Sholikin sembari menunjukkan statistik angka perceraian.
Tak hanya itu, campur tangan pihak ketiga, terutama keluarga, juga disebut kerap memperkeruh hubungan pasangan suami istri hingga berujung perceraian.
Tak berhenti disitu, data pengadilan juga mencatat penyebab lain seperti perjudian, meninggalkan pasangan, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), meski jumlahnya tidak sebesar konflik berkepanjangan dan perselingkuhan. [riz/mad]