(0353) 881235 pabojonegoro@gmail.com delegasi.pabojonegoro@gmail.com
Memuat jam...

Makna Kisah Nabi Ibrahim & Ismail di Jumrah ula, wusta dan Aqabah di tanggal 11,12, dan 13 dzulhijah ( hari tasryik)

https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260523_002711-768x427.jpg 768w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260523_002711-250x140.jpg 250w" sizes="(max-width: 1279px) 100vw, 1279px" style="box-sizing: border-box; vertical-align: middle; height: auto; max-width: 100%; width: 683.328px;">

Oleh Sholikin Jamik

Kisah ini jadi asal usul melempar jumrah saat haji. Peristiwanya terjadi saat Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih putranya, Ismail. Di tengah perjalanan itu, setan 3 kali mencoba menggoda Ibrahim supaya membatalkan perintah Allah.

1. Di Jumrah Ula – yang paling jauh dari Mekah

Saat Ibrahim, Ismail, dan Hajar berangkat dari Mina menuju tempat penyembelihan di Mina, setan muncul pertama kali di tempat yang sekarang disebut Jumrah Ula.

Setan membisik ke Ibrahim: “Ini cuma mimpi, jangan bunuh anakmu. Sayang, dia anak tunggalmu yang sudah tua baru dapat.”

Nabi Ibrahim sadar itu godaan setan. Dia mengambil 7 batu kecil dan melemparnya ke setan itu sambil mengucapkan “Allahu Akbar”. Setan pun lari.

Makna: Tolak was-was dan bisikan yang menjauhkanmu dari perintah Allah. Jangan dituruti, lawan dengan tegas.

2. Di Jumrah Wusta – yang di tengah
Setan tidak menyerah.

Dia muncul lagi di tempat yang sekarang disebut Jumrah Wusta saat Ibrahim jalan menuju tempat penyembelihan.

Kali ini setan membisik ke Siti Hajar: “Suamimu mau menyembelih anakmu. Cegah dia!”

Lalu ke Ismail: “Bapakmu mau bunuh kamu, jangan mau!”

Hajar dan Ismail juga sadar itu setan. Ibrahim kembali melempar 7 batu ke tempat itu. Setan lari lagi.

Makna: Godaan sering datang lewat orang terdekat dan emosi. Tapi kalau kita yakin itu perintah Allah, tetap taat. Hajar dan Ismail justru menguatkan Ibrahim.

3. Di Jumrah Aqabah – yang paling dekat dengan Mekah

Setan muncul untuk ketiga kalinya di Jumrah Aqabah, tempat terdekat dengan Mekah. Dia membisik lagi ke Ibrahim supaya ragu dan membatalkan perintah Allah.

Ibrahim kembali melempar 7 batu ke jumrah itu. Setelah itu setan tidak muncul lagi.

Makna: Godaan terakhir biasanya paling berat, karena datang saat kita hampir sampai. Tapi kalau kita istiqamah sampai akhir, Allah akan beri jalan keluar.

Setelah lemparan itu

Setelah dilempar, setan putus asa dan pergi. Ibrahim sampai ke tempat penyembelihan di Mina. Saat pisau diletakkan di leher Ismail, Allah gantikan Ismail dengan seekor domba besar dari surga.

Allah berfirman:
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [QS. As-Saffat: 107]

Peristiwa itu yang kita peringati saat Idul Adha dan saat melempar jumrah saat haji.

Hikmah untuk kita sekarang

Melempar jumrah bukan menyakiti setan secara fisik. Batu itu simbol:

1. Penolakan terhadap hawa nafsu dan bisikan setan – 3 jumrah = 3 level godaan: godaan ke diri sendiri, keluarga, dan saat hampir berhasil.
2. Ikut sunnah Nabi Ibrahim – kita ikut jejaknya dalam ketaatan total ke Allah.
3. Pengakuan kelemahan diri – kita lempar batu karena kita butuh Allah untuk melawan setan. Sendiri kita lemah.

Makanya saat lempar jumrah disunnahkan baca “Bismillah, Allahu Akbar”. Bukan marah-marah ke batu.

Jadi Jumrah Ula, Wusta, Aqabah itu jejak perjuangan Ibrahim, Hajar, dan Ismail melawan godaan setan sebelum ujian terbesar penyembelihan terjadi.

Sumber : https://upwarta.com/makna-kisah-nabi-ibrahim-ismail-di-jumrah-ula-wusta-dan-aqabah-di-tanggal-1112-dan-13-dzulhijah-hari-tasryik/

 
 

Oleh: Sholikin Jamik*)

TAHALUL itu titik balik dalam ibadah haji dan umrah. Setelah tahalul, status “ihram” yang bikin banyak hal haram jadi halal lagi.

1. Arti bahasa & istilah

Tahalul = ????, artinya “lepas”, “halal”, “bebas”.
Lawan katanya _ihram_ = mengharamkan diri dari hal-hal tertentu.

Jadi tahalul = melepaskan diri dari larangan ihram, kembali ke keadaan normal.

2. Ada 2 jenis tahalul

a. Tahalul Awal / Tahalul Ashghar
Terjadi kalau kamu sudah melakukan 2 dari 3 amalan ini pada 10 Dzulhijjah:
1. Lempar Jumrah Aqabah
2. Cukur/gundul rambut
3. Tawaf Ifadhah

Setelah tahalul awal, yang halal kembali adalah:
– Pakai baju biasa, wangi-wangian, potong kuku
– Hubungan suami istri *masih haram*

Makanya disebut _ashghar_ = kecil. Masih ada yang belum halal.

b. Tahalul Tsani / Tahalul Akbar
Terjadi kalau ketiga amalan di atas sudah selesai: lempar jumrah, cukur, tawaf ifadhah.

Setelah tahalul tsani, semua larangan ihram hilang total. Termasuk hubungan suami istri. Ini disebut akbar= besar, karena benar-benar kembali seperti sebelum ihram.

Urutannya yang paling afdhal sesuai sunnah Nabi ? di 10 Dzulhijjah:
Lempar jumrah ? Sembelih kurban ? Cukur ? Tawaf Ifadhah ? Sa’i

3. Makna tahalul yang lebih dalam

Tahalul bukan cuma soal lepas baju ihram. Ada 3 makna besar:

a. Lulus ujian ketaatan
Selama ihram kamu dilarang banyak hal yang tadinya halal: wangi, jima’, buru hewan.
Tahalul datang setelah kamu lulus ujian menahan diri.
Artinya: Allah kasih “hadiah” berupa kehalalan lagi karena kamu taat.
Hidup juga gitu, nikmat yang halal itu lebih nikmat kalau didapat setelah sabar dan taat.

b. Simbol lahir kembali
Cukur rambut saat tahalul simbol “membuang” dosa dan memulai lembaran baru.
Nabi ? mendoakan: _“Ya Allah ampunilah orang yang menggundul, ya Allah ampunilah orang yang menggundul.”_ diulang 3x.
Rambut rontok = dosa rontok, insyaAllah.

c. Kembali ke dunia dengan aturan baru
Tahalul bukan berarti bebas sebebasnya. Kamu halal pakai wangi, tapi nggak boleh sombong.
Halal hubungan suami istri, tapi tetap ada adabnya.
Maknanya: ibadah itu ngubah kamu, bukan cuma ngubah status. Keluar dari haji harusnya jadi orang yang lebih terkontrol nafsunya.

4. Kesalahan paham tentang tahalul

1. Kira tahalul selesai haji. Belum. Kalau belum tawaf ifadhah, masih ada kewajiban. Pulang ke negara asal sebelum tawaf = haji nggak sah.
2. Asal cukur sedikit aja*l. Untuk laki-laki, sunnahnya gundul. Untuk perempuan, potong ujung rambut sepanjang ujung jari.
3. Langsung halal semua setelah cukur. Ingat, kalau belum tawaf ifadhah, jima’ masih haram.

Singkatnya:
Tahalul maknanya “dibebaskan” dari larangan ihram karena sudah taat.
Maknanya: kamu lulus ujian, dosa rontok, dan kembali ke dunia dengan hati yang lebih terkontrol.

Tahalul itu bukan akhir, tapi awal. Awal jadi manusia yang lebih taqwa setelah haji.

Sumber : https://kabarpasti.com/tahalul-simbol-lahir-kembali-titik-balik-haji-dan-umroh/

Selama di Tenda Mina, Nabi Muhammad Tidak Mencontohkan Shalat Sunnah Rawatib

 

 
 

Oleh: Sholikin Jamik

SuaraBojonegoro.com – Nabi \text{Selection} ? memang meninggalkan shalat sunnah rawatib selama di Mina dan Arafah pada saat Haji Wada’. Keputusan beliau ini tentu memiliki dalil dan hikmah yang mendalam.

1. Amalan yang Dikerjakan Nabi ? di Mina

Hal ini bersandar pada hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu:

“Aku pernah shalat bersama Nabi ? di Mina. Beliau shalat Dzuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat, Maghrib 3 rakaat, Isya 2 rakaat, dan Subuh 2 rakaat.”

1. Amalan yang Dikerjakan Nabi ? di Mina

Hal ini bersandar pada hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu:

“Aku pernah shalat bersama Nabi ? di Mina. Beliau shalat Dzuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat, Maghrib 3 rakaat, Isya 2 rakaat, dan Subuh 2 rakaat.”

Berdasarkan hadits tersebut, beliau menjamak dan meng-qashar shalat Dzuhur, Ashar, dan Isya menjadi 2 rakaat. Shalat Maghrib tetap dikerjakan 3 rakaat karena tidak bisa di-qashar, begitu pula Subuh tetap 2 rakaat.

Catatan penting dari para sahabat: Beliau tidak melaksanakan shalat sunnah qabliyah maupun ba’diyah selama 4 hari berada di Mina dan Arafah.

2. Alasan dan Hikmah

Status sebagai Musafir

Nabi ? berada di Mina dalam status sebagai musafir. Syariat Islam memberikan keringanan (rukhshah) bagi musafir untuk meringkas shalat fardhu (qashar) dan memperbolehkan mereka meninggalkan shalat sunnah rawatib agar ibadah terasa lebih ringan.

Ibnu Umar berkata:

“Aku menemani Nabi ?, Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka tidak pernah menambah (shalat sunnah) lebih dari 2 rakaat fardhu di masa safar.”

Agenda Manasik dan Dzikir yang Padat

Waktu di Mina pada tanggal 8–13 Dzulhijjah sangatlah padat dengan rangkaian ibadah:

Malam 8 Dzulhijjah: Mabit (menginap) di Mina dan persiapan menuju Arafah.

Siang 9 Dzulhijjah: Wukuf di Arafah seharian.

Malam 10 Dzulhijjah: Mabit di Muzdalifah dan mengambil batu kerikil.

Siang 10 Dzulhijjah: Melempar Jumrah Aqabah, menyembelih kurban, bercukur (tahallul), dan Thawaf Ifadhah.

11–13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik): Melempar tiga jumrah setiap hari setelah waktu zawal (matahari tergelincir), mabit, dan memperbanyak dzikir.

Nabi ? mengisi seluruh waktu tersebut dengan talbiyah, dzikir, doa, serta membimbing para sahabat mengenai tata cara manasik haji. Oleh karena itu, beliau tidak menyibukkan diri dengan shalat sunnah rawatib yang memang diberi kelonggaran untuk ditinggalkan.

3. Pengecualian: Shalat Sunnah yang Tetap Dikerjakan

Meskipun meninggalkan rawatib, Nabi ? tetap konsisten mengerjakan beberapa shalat sunnah berikut:

Shalat Witir: Beliau tidak pernah meninggalkan shalat witir, baik saat mukim (di rumah) maupun saat safar (perjalanan).

Shalat Tahajjud: Beliau tetap menjaga ibadah qiyamul lail (shalat malam).

Shalat Dhuha: Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa beliau menyempatkan shalat Dhuha saat di Mina.

Shalat Sunnah Fajar: Dua rakaat sebelum Subuh ini tetap beliau jaga dengan ketat.

Jadi, yang ditinggalkan oleh Nabi ? hanyalah shalat sunnah rawatib 12 rakaat yang biasanya mengiringi shalat fardhu lima waktu.

4. Pelajaran untuk Jamaah Haji

Islam itu Mudah: Ketika sedang safar dan disibukkan oleh ibadah inti (seperti manasik haji), shalat sunnah rawatib boleh ditinggalkan. Jangan memaksakan diri hingga kelelahan yang justru dapat mengganggu kekhusyukan ibadah wajib.

Memprioritaskan Amalan Utama: Fokus utama di Mina adalah berdzikir, bertakbir, melempar jumrah, dan berdoa. Amalan-amalan ini lebih utama dan lebih kontekstual pada momen tersebut daripada memaksakan shalat sunnah rawatib.

Mengikuti Petunjuk Rasulullah: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan: “Ini menunjukkan bahwa safar adalah kondisi yang mendapatkan rukhshah (keringanan). Meninggalkan shalat sunnah rawatib saat safar jauh lebih utama, kecuali shalat witir dan dua rakaat fajar (Subuh).”

Sumber : https://suarabojonegoro.com/selama-di-tenda-mina-nabi-muhammad-tidak-mencontohkan-shalat-sunnah-rawatib/

Makna Mabit di Muzdalifah

Oleh: Sholikin Jamik

SuaraBojonegoro.com – Mabit di Muzdalifah artinya bermalam di Muzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah, setelah melaksanakan wukuf di Arafah dan sebelum melempar Jumrah Aqabah. Amalan ini hukumnya wajib haji, bukan sekadar istirahat biasa. Ada makna ibadah dan simbolik yang sangat dalam di dalamnya.

1. Makna secara Hukum dan Praktik

Waktu: Setelah Maghrib dan Isya pada tanggal 9 Dzulhijjah, jemaah berangkat dari Arafah menuju Muzdalifah.

Amalan: Jemaah melaksanakan shalat jamak dan qasar Maghrib-Isya, lalu mabit sampai lewat tengah malam.

Durasi Minimal: Batas minimal mabit adalah berada di Muzdalifah sejak lewat tengah malam sampai sebelum terbit fajar. Rasulullah ? sendiri mabit hingga waktu subuh, lalu melaksanakan shalat Subuh di awal waktu sebelum kemudian berangkat ke Mina.

Tujuan: Mengambil batu kerikil untuk melempar jumrah serta mempersiapkan fisik dan mental menghadapi Hari Nahr (10 Dzulhijjah).

2. Makna Spiritual Mabit di Muzdalifah

a. Simbol Kerendahan dan Persamaan Manusia

Muzdalifah adalah tanah lapang terbuka tanpa fasilitas tenda mewah. Semua jemaah tidur di atas tanah dan beralaskan langit. Kaya, miskin, pejabat, maupun rakyat biasa semuanya tidur berdampingan. Maknanya: di hadapan Allah, semua manusia setara. Yang membedakan hanyalah kualitas takwanya.

b. Istirahat Setelah Ujian Berat

Sebelum ke Muzdalifah, jemaah telah melalui wukuf di Arafah seharian penuh—berdiri, berdoa, berpanas-panasan, dan menguras energi. Muzdalifah hadir sebagai jeda. Allah memberikan waktu untuk mengistirahatkan fisik, namun hati harus tetap hidup dengan zikir dan doa.

Maknanya: setelah perjuangan yang berat, Allah pasti memberikan ketenangan. Namun, dalam ketenangan itu jangan sampai melupakan zikir. Allah SWT berfirman:

“Apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram.” (QS. Al-Baqarah: 198)

c. Persiapan untuk “Perang” Melawan Setan

Di Muzdalifah, jemaah mengumpulkan 7 batu kerikil untuk melempar Jumrah Aqabah. Batu ini merupakan simbol perlawanan terhadap hawa nafsu dan godaan setan. Malam di Muzdalifah adalah malam untuk mempersiapkan diri secara mental sebelum memasuki medan “pertempuran” tersebut.

d. Menghidupkan Sunnah dan Mengikuti Nabi

Rasulullah ? mabit di Muzdalifah dan memerintahkan para sahabat untuk melakukannya. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu menuturkan: “Nabi ? shalat Maghrib dan Isya di Muzdalifah dengan satu iqamah, kemudian beliau tidur sampai subuh.”

Meninggalkan mabit di Muzdalifah tanpa adanya uzur yang syar’i membuat jemaah wajib membayar dam (denda).

3. Amalan yang Dilakukan Saat Mabit

Tidak ada ritual khusus yang rumit saat berada di Muzdalifah. Amalan yang dianjurkan antara lain:

Melaksanakan shalat Maghrib dan Isya secara jamak qasar setibanya di Muzdalifah.

Tidur dan beristirahat agar kondisi fisik kembali kuat untuk menjalani rangkaian ibadah keesokan harinya.

Bangun di sepertiga malam untuk memperbanyak zikir, doa, dan istigfar, karena ini termasuk waktu yang mustajab.

Melaksanakan shalat Subuh di awal waktu, lalu melakukan wukuf kecil (berdoa) di Masy’aril Haram sebelum bertolak ke Mina.

Mengambil batu kerikil untuk melempar jumrah (meskipun batu ini juga boleh diambil saat sudah di Mina).

4. Perbedaan Mabit di Muzdalifah dan Mabit di Mina

Meskipun sama-sama merupakan rangkaian wajib haji menurut mayoritas ulama, mabit di Muzdalifah dan mabit di Mina memiliki beberapa perbedaan mendasar dari segi durasi, fokus amalan, dan kondisi tempat:

Dari segi durasi waktu, mabit di Muzdalifah hanya dilakukan selama satu malam, yaitu pada malam 10 Dzulhijjah. Sementara itu, mabit di Mina berlangsung lebih lama, yaitu selama 2 hingga 3 malam pada hari-hari Tasyrik (malam 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

Dari segi fokus amalan, saat berada di Muzdalifah jemaah difokuskan untuk beristirahat, berzikir, dan mengambil batu kerikil. Sedangkan saat mabit di Mina, fokus utama jemaah adalah melaksanakan ibadah melempar jumrah, memperbanyak zikir, serta mengumandangkan takbir.

Dari segi kondisi tempat, Muzdalifah merupakan area tanah lapang terbuka yang tidak menyediakan tenda khusus untuk jemaah. Berbeda dengan Mina yang areanya dipenuhi oleh tenda-tenda penginapan dan suasananya jauh lebih ramai serta padat. (**)

Sumber : https://suarabojonegoro.com/makna-mabit-di-muzdalifah/

Tahalul Itu Simbol Lahir Kembali

 

Tahalul Itu Simbol Lahir Kembali

Tahalul itu titik balik dalam ibadah haji dan umrah. Setelah tahalul, status “ihram” yang bikin banyak hal haram jadi halal lagi.

Tahalul secara bahasa berasal dari kata ????, artinya “lepas”, “halal”, “bebas”. Lawan katanya ihram atau mengharamkan diri dari hal-hal tertentu.

Jadi tahalul adalah melepaskan diri dari larangan ihram, kembali ke keadaan normal.

Ada dua jenis tahalul.

Pertama, Tahalul Awal atau Tahalul Ashghar. Terjadi kalau kamu sudah melakukan 2 dari 3 amalan ini pada 10 Zulhijah: melempar Jumrah Aqabah, mencukur/gundul rambut, Tawaf Ifadah.

Setelah tahalul awal, yang halal kembali adalah memakai baju biasa, wangi-wangian, potong kuku, hubungan suami istri masih haram. Makanya disebut ashghar atau kecil. Masih ada yang belum halal.

Kedua, Tahalul Tsani atau Tahalul Akbar. Terjadi kalau ketiga amalan di atas sudah selesai: melempar jumrah, mencukur rambut, dan tawaf ifadah.

Setelah Tahalul Tsani, semua larangan ihram hilang total. Termasuk hubungan suami istri. Eh sebab itu disebut akbar atau besar, karena benar-benar kembali seperti sebelum ihram.

Urutannya yang paling afdhl sesuai sunnah Nabi saw. di 10 Zulhijah yaitu melempar jumrah, menyembelih kurban, mencukur rambut, Tawaf Ifadah, dan Sa’i.

Makna tahalul yang lebih dalam, bahwa tahalul bukan cuma soal lepas baju ihram. Ada 3 makna besar:

https://storage.pojokaplikasi.com/files/lenteramu-or-id/1761627390481-646270367.png"); background-size: cover; background-position: center center; background-repeat: no-repeat;">
 

(1) Lulus ujian ketaatan. Selama ihram kamu dilarang banyak hal yang tadinya halal: wangi, jima’, buru hewan. Tahalul datang setelah kamu lulus ujian menahan diri. Artinya: Allah kasih “hadiah” berupa kehalalan lagi karena kamu taat. Hidup juga begitu, nikmat yang halal itu lebih nikmat kalau didapat setelah sabar dan taat.

(2) Simbol lahir kembali. Mencukur rambut saat tahalul simbol “membuang” dosa dan memulai lembaran baru. Nabi saw. mendoakan: “Ya Allah ampunilah orang yang menggundul, ya Allah ampunilah orang yang menggundul.” doa ini dibaca dengan diulang sebanyak tiga kali. Rambut rontok artinya dosa rontok, insyaAllah.

(3) Kembali ke dunia dengan aturan baru. Tahalul bukan berarti bebas sebebasnya. Kamu halal pakai wangi, tetapi tidak boleh sombong. Halal hubungan suami istri, tetapi tetap ada adabnya. Maknanya: ibadah itu mengubah diri, bukan cuma mengubah status. Keluar dari haji harusnya jadi orang yang lebih terkontrol nafsunya.

Kesalahpahaman tentang Tahalul

(1) Orang mengira selesai tahalul selesai haji. Belum. Kalau belum Tawaf Ifadah, masih ada kewajiban. Pulang ke negara asal sebelum tawaf maka haji nggak sah.

(2) Asal cukur sedikit aja. Untuk laki-laki, sunnahnya gundul. Untuk perempuan, potong ujung rambut sepanjang ujung jari.

(3) Langsung halal semua setelah cukur rambut. Ingat, kalau belum tawaf ifadah, jima’ masih haram.

Singkatnya: Tahalul maknanya “dibebaskan” dari larangan ihram karena sudah taat. Maknanya: kamu lulus ujian, dosa rontok, dan kembali ke dunia dengan hati yang lebih terkontrol.

Tahalul itu bukan akhir, tapi awal. Awal jadi manusia yang lebih takwa setelah haji.

Oleh: Sholikin Jamik

Sumber : https://lenteramu.or.id/post/tahalul-itu-simbol-lahir-kembali/

Keistimewaan Hari Arafah

 

Oleh: Sholikin Jamik

SuaraBojonegoro.com – Keistimewaan Hari Arafah itu luar biasa. Hari yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah ini dianggap sebagai hari paling utama dalam setahun.

Berikut adalah keistimewaannya berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan para ulama:

Islam

1. Hari Disempurnakannya Agama Islam

Ayat paling penting dalam Islam turun di Arafah:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Umar bin Khattab mengatakan bahwa ayat ini turun saat Nabi \text{\ conifers}\ \ Bilal\ \ \text{W}} (Nabi Muhammad ?) sedang wukuf di Arafah pada hari Jumat. Jadi, Arafah adalah tempat Allah menyatakan bahwa agama ini sudah selesai dan sempurna.

2. Puncak Ibadah Haji

Nabi ? bersabda:

“Al-hajju Arafah” (Haji itu adalah Arafah).

Wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling pokok. Jika seseorang melewatkan wukuf, maka hajinya batal. Orang-orang yang sedang wukuf ini dibanggakan oleh Allah di hadapan para malaikat-Nya.

3. Hari Paling Banyak Allah Membebaskan Hamba dari Neraka

Nabi ? bersabda:

“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka selain Hari Arafah.”

Pada hari itu, Allah mendekat ke langit dunia kepada hamba-Nya yang sedang wukuf, lalu berfirman kepada para malaikat: “Lihatlah hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.” Bahkan, sekalipun dosamu sebanyak hamparan pasir, Allah akan menghapusnya.

4. Puasa Arafah Menghapus Dosa Dua Tahun

Bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, dianjurkan untuk berpuasa:

“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”

Atha’ bin Abi Rabah mengatakan bahwa pahala puasa Arafah itu setara dengan berpuasa selama 2.000 hari.

5. Doa Paling Mustajab

Nabi ? bersabda:

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.”

Zikir terbaik pada hari tersebut adalah:

La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir.

Oleh karena itu, para jemaah haji sepanjang hari di Arafah hanya fokus untuk berdoa, berzikir, dan beristigfar.

6. Hari yang Paling Dicintai Allah untuk Beramal

Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah waktu di mana amal saleh paling dicintai oleh Allah, dan puncaknya adalah Hari Arafah. Bahkan, pahala beramal di hari-hari ini melebihi pahala jihad, kecuali bagi orang yang keluar berjihad membawa jiwa dan hartanya, lalu ia mati syahid.

7. Hari Paling Utama dalam Setahun

Anas bin Malik mengatakan bahwa Hari Arafah lebih utama daripada 10.000 hari lainnya. Dalam mazhab Syafi’i, jika seseorang bersumpah, “Istriku jatuh talak pada hari yang paling utama,” maka talak tersebut jatuh pada Hari Arafah.

Kenapa Arafah Spesial Banget?

Karena di sanalah semua kebaikan berkumpul:

Tempat bertemunya kembali Nabi Adam dan Hawa.

Tempat Nabi Ibrahim diuji oleh Allah.

Tempat turunnya ayat penyempurna agama Islam.

Momen di mana Allah mendekat ke langit dunia.

Waktu di mana doa-doa paling dikabulkan.

Waktu paling banyak manusia dibebaskan dari api neraka.

Mengingat begitu besarnya keutamaan hari ini, meskipun kita tidak sedang melaksanakan ibadah haji, kita sangat dianjurkan untuk berpuasa, memperbanyak doa, berzikir, serta beristigfar pada tanggal 9 Dzulhijjah. (**)

 Sumber : https://suarabojonegoro.com/keistimewaan-hari-arafah/

Makna Lempar Jumroh Tanggal 10 Dzulhijah

https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/kmc_20260527_120625-768x1024.png 768w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/kmc_20260527_120625-1152x1536.png 1152w" sizes="(max-width: 1440px) 100vw, 1440px" style="box-sizing: border-box; vertical-align: middle; height: auto; max-width: 100%; width: 683.328px;">

Oleh Sholikin Jamik

Lempar Jumrah Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah itu ritual simbolik yang maknanya dalam banget.

Hari itu namanya Hari Nahr, dan lempar jumrah jadi amalan pertama yang dilakukan jamaah haji setelah turun dari Muzdalifah.

1. Asal usulnya: Kisah Nabi Ibrahim vs Setan

Ini inti maknanya. Lempar jumrah meniru kejadian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

Saat Ibrahim diperintah Allah menyembelih Ismail, setan datang 3 kali untuk menggoda beliau agar membatalkan perintah itu.

– Pertama di Jumrah Ula
– Kedua di Jumrah Wustha
– Ketiga di Jumrah Aqabah

Setiap kali setan muncul, Jibril bilang ke Ibrahim: “Lempar dia!
Ibrahim pun melempar setan dengan 7 batu kecil, dan setan lari.

Jadi lempar jumrah tanggal 10 Dzulhijjah itu meniru aksi Nabi Ibrahim yang menolak godaan setan dengan tegas.

2. Makna simboliknya

Lempar jumrah bukan main lempar batu ke tiang. Ada 3 makna utama:

a. Pernyataan perang terhadap setan dan hawa nafsu
Batu yang kamu lempar itu simbol penolakan.
Setiap lemparan = “Aku menolak bisikanmu, aku taat pada Allah”
Setan itu musuh nyata, dan cara melawannya adalah dengan taat, bukan debat.

b. Praktik ketundukan tanpa banyak tanya
Nabi Ibrahim nggak nanya “kenapa harus sembelih anakku?”. Beliau langsung taat.
Lempar jumrah ngajarin kita: ada perintah Allah yang kita jalankan meski akal belum sepenuhnya paham hikmahnya.
Itu namanya ubudiyah murni.

c. Pembuka untuk taubat dan pembersihan diri
Setelah lempar jumrah Aqabah, kamu cukur rambut dan tahalul awal.
Artinya: setelah “mengusir setan”, kamu masuk ke fase pembersihan diri dan kembali suci.
Makanya urutannya: lempar ? sembelih ? cukur ? tahalul.

3. Tata caranya yang disyariatkan

Tanggal 10 Dzulhijjah cuma lempar 1 jumrah, yaitu Jumrah Aqabah yang paling besar dan paling dekat ke Mekah.

Waktu: Setelah matahari terbit sampai sebelum maghrib. Yang paling afdhal setelah matahari agak tinggi.
– Jumlah batu: 7 butir, seukuran kacang hijau.
Cara: Berdiri menghadap jumrah, takbir tiap lemparan “Allahu Akbar”.
– Niat: Nggak perlu dilafalkan. Cukup dalam hati mengikuti perintah Allah.

Setelah itu baru sembelih kurban, cukur rambut, tawaf ifadhah.

4. Makna untuk hidup sehari-hari

Lempar jumrah itu latihan praktis:

1. Setiap hari kita digoda setan lewat malas sholat, ghibah, riba, marah. Lempar jumrah ngajarin: lawan langsung, jangan dituruti.
2. Setan nggak mati, makanya ada 3 jumrah yang dilempar 3 hari berturut-turut. Godaan datang berulang, jadi perlawanan juga harus konsisten.
3. Batu kecil bisa ngusir setan besar kalau dilakukan dengan niat dan taat. Amal kecil yang ikhlas lebih berat dari amal besar yang riya.

Ibnu Qayyim bilang: “Lempar jumrah itu menegakkan syiar tauhid, menghinakan setan, dan menampakkan sikap bermusuhan dengannya”.

5. Kalau nggak bisa lempar sendiri?

Kalau sakit, tua, atau ramai banget, boleh diwakilkan.
Tapi yang afdhal tetap lempar sendiri karena itu bagian dari latihan melawan hawa nafsu.

Singkatnya:
Lempar jumrah 10 Dzulhijjah = deklarasi “Aku di pihak Allah, bukan setan”.
Itu warisan Nabi Ibrahim, latihan taat tanpa debat, dan pembuka untuk tahalul.
Bukan batu yang ngena ke setan, tapi ketaatanmu yang bikin setan kalah.

Sumber : https://upwarta.com/makna-lempar-jumroh-tanggal-10-dzulhijah/

Arti Nafar Awal dan Nafar Tsani

 

Arti Nafar Awal dan Nafar Tsani

Ada pertanyaan dari jemaah haji: "Bagaimana kedudukan Nafar Awal dan Nafar Tsani? Apakah itu pilihan, boleh dikerjakan salah satu atau harus dikerjakan keduanya?

Jawabannya: Nafar awal dan Nafar Tsani itu istilah untuk waktu pulang dari Mina setelah selesai lempar jumrah di hari Tasyrik.

Dua-duanya ada di dalam Surah Al-Baqarah ayat 203: "Barangsiapa yang ingin cepat berangkat [dari Mina] sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan, maka tidak ada dosa pula baginya...[kepulangannya]".

Nafar Awal berarti pulang lebih awal dari Mina. Waktunya setelah melempar jumrah pada tanggal 12 Zulhijah sebelum Magrib.

Jadi kalau kamu pilih Nafar Awal, maka pada tanggal 11 Zulhijah melempar tiga jumrah setelah zawal. Pada tanggal 12 Zulhijah melempar 3 jumrah lagi setelah zawal. Setelah itu langsung keluar dari Mina sebelum matahari terbenam

Kalau lewat Magrib masih di Mina, maka gugur opsi Nafar Awal. Otomatis jadi Nafar Tsani.

Hikmahnya, khusunya bagi jemaah yang lemah, tua, sakit, atau khawatir desak-desakan. Nabi saw. membolehkan.

Nafar Tsani berarti pulang belakangan dari Mina. Waktunya Setelah lempar jumrah tanggal 13 Zulhijah.

Jadi kalau pilih Nafar Tsani, tanggal 11 Zulhijah melempar 3 jumrah, tanggal 2 Zulhijah mempar 3 jumrah,.tanggal 13 Zulhijah melempar 3 jumrah lagi setelah zawal, baru keluar dari Mina.

Ini yang lebih utama dan lebih sesuai sunnah Nabi saw. Beliau mabit di Mina sampai tanggal 13 Zulhijah.

https://storage.pojokaplikasi.com/files/lenteramu-or-id/1761627390481-646270367.png"); background-size: cover; background-position: center center; background-repeat: no-repeat;">
 

Hikmahnya yaitu dapat memeroleh lebih banyak pahala mabit, dzikir, dan doa di Mina. Tanggal 13 Zulhijah masih termasuk Hari Tasyrik yang diperintah untuk banyak berzikir.

Perbedaan Praktis Nafar Awal dan Nafar Tsani

Nafar Awal: (1) keluar Mina tanggal 12 Zulhijah, (2) Mele.par Jumrah tiga hari tanggal 10, 11, 12 Zulhijah, (3) hukumnya mubah/beh, (4) cocok jemaah tua, sakit, rombongan besar dan takut macet.

Nafar Tsani: (1) keluar Mina sebelum Magrib 13 Zulhijah setelah zawal, (2) melempar jumrah empat hari di tanggal 10, 11, 12, 13 Zulhijah, (3) hukumnya lebih utama atau sunnah, (4) cocok untuk jemaah yang kuat dan ingin maksimalkan pahala.

Namun perlu diingat, tidak ada dosa mau pilih Nafar Awal atau Nafar Tsani. Keduanya sah.

Syarat Nafar Awal adalah harus sudah keluar dari batas Mina sebelum Magrib 12 Zulhijah. Kalau kemacetan bikin telat, maka wajib menginap dan melempar.jumrah lagi tanggal 13 Zulhijah.

Tanggal 13 Zulhijah tetap ada melempar jumrah. Banyak orang salah kira tanggal 13 Zulhijah cuma istirahat.

Singkatnya Nafar Awal itu pulang cepat tanggal 12 Zulhijah. Nafar Tsani itu pulang lambat tanggal 13 Zulhijah.

Nabi saw. memilih Nafar Tsani. Tetapi kalau kondisi tidak memungkinkan, Nafar Awal juga dapat pahala insyaAllah. Jemaah harus memilih salah satunya, tidak mungkin dilakukan dua-duanya.

Oleh: Sholikhin Jamik

Sumber : https://lenteramu.or.id/post/arti-nafar-awal-dan-nafar-tsani/

Keistimewaan Hari Arofah

Oleh: Sholikin Jamik*)

KEISTIMEWAAN Hari Arofah itu luar biasa. Tanggal 9 Dzulhijjah ini dianggap hari paling utama dalam setahun.

Ini keistimewaannya berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan penjelasan ulama:

1. Hari Disempurnakannya Agama Islam
Ayat paling penting dalam Islam turun di Arafah:
Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu”  [QS. Al-Ma’idah: 3]

Umar bin Khattab bilang ayat ini turun saat Nabi ? wukuf di Arafah, hari Jumat.
Jadi Arafah adalah tempat Allah menyatakan agama ini sudah selesai dan sempurna.

2. Puncak Ibadah Haji
Nabi ? bersabda:
_”Al-hajju Arafah” – Haji itu adalah Arafah_

Wukuf di Arafah itu rukun haji paling pokok. Kalau ketinggalan wukuf, hajinya batal. Orang yang wukuf disebut Allah membanggakannya di depan malaikat.

3. Hari paling banyak Allah membebaskan hamba dari neraka
“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka selain Hari Arafah”

Allah turun ke langit dunia, mendekat ke hamba-Nya yang wukuf, lalu berkata ke malaikat:

“Lihatlah hamba-Ku, mereka datang kepadaku dalam keadaan kusut dan berdebu”
Kalaupun dosamu sebanyak pasir, Allah hapus.

4. Puasa Arafah menghapus dosa 2 tahun
Ini untuk yang tidak sedang berhaji:
“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang”

Atho’ bin Abi Rabah bilang: puasa Arafah pahalanya seperti puasa 2000 hari.

5. Doa paling Mustajab
“Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah”

Zikir terbaiknya: La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir_
Makanya jamaah haji seharian di Arafah cuma fokus doa, dzikir, istighfar.

6. Hari yang paling dicintai Allah untuk beramal
10 hari pertama Dzulhijjah adalah hari yang amal shalih paling dicintai Allah.
Dan puncaknya adalah hari Arafah.
Bahkan jihad pun kalah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu syahid. 2d24

7. Hari paling utama dalam setahun
Anas bin Malik bilang: Hari Arafah lebih utama dari 10.000 hari lainnya.
Dalam madzhab Syafi’i, kalau seseorang bersumpah “istriku jatuh talak di hari paling utama”, maka jatuhlah di hari Arafah.

Kenapa Hari Arafah paling spesial?

Karena di sana semua berkumpul:
Tempat Adam & Hawa bertemu lagi, tempat Nabi Ibrahim diuji, tempat turunnya ayat penyempurna agama, tempat Allah turun paling dekat, tempat doa paling dikabulkan, dan tempat paling banyak orang dibebaskan dari neraka.

Makanya walau tidak haji, umat Islam dianjurkan puasa, perbanyak doa, dzikir, dan istighfar tanggal 9 Dzulhijjah.

Sumber : https://kabarpasti.com/keistimewaan-hari-arofah/

Makna Mabit di Musdzalifah

https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260527_120341-400x225.jpg 400w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260527_120341-768x432.jpg 768w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260527_120341-250x140.jpg 250w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" style="box-sizing: border-box; vertical-align: middle; height: auto; max-width: 100%; width: 683.328px;">

Oleh Sholikin Jamik

Mabit di Muzdalifah = bermalam di Muzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah, setelah wukuf di Arafah dan sebelum lempar Jumrah Aqabah.

Itu wajib haji, bukan cuma istirahat biasa. Ada makna ibadah dan simbolik yang dalam di dalamnya.

1. Makna secara hukum dan praktik

Waktu: Setelah Maghrib dan Isya tanggal 9 Dzulhijjah, jamaah berangkat dari Arafah ke Muzdalifah.
Amalan: Jamaah jama’ dan qashar Maghrib-Isya, lalu mabit sampai lewat tengah malam.
Minimal mabit = lewat tengah malam sampai sebelum fajar.
Nabi ? mabit sampai subuh, baru sholat Subuh di awal waktu, lalu berangkat ke Mina.

Tujuannya: Mengambil batu untuk lempar jumrah dan mempersiapkan diri fisik-mental untuk hari Nahr.

2. Makna spiritual mabit di Muzdalifah

a. Simbol kerendahan dan persamaan manusia
Muzdalifah itu tanah lapang tanpa tenda mewah. Semua tidur di tanah, beralaskan langit.
Kaya, miskin, pejabat, rakyat biasa tidur berdampingan.
Maknanya: di hadapan Allah semua sama. Yang membedakan cuma takwa.

b. Istirahat setelah ujian berat
Sebelum Muzdalifah ada wukuf di Arafah seharian, berdiri, doa, panas, capek.
Muzdalifah adalah jeda. Allah kasih waktu istirahat fisik tapi hati tetap hidup dengan dzikir dan doa.
Maknanya: setelah berjuang, Allah beri ketenangan. Tapi jangan lupa dzikir.
Allah berfirman: _”Apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram”_ [QS. Al-Baqarah: 198]

c. Persiapan untuk perang melawan setan
Di Muzdalifah jamaah mengambil 7 batu kecil untuk lempar Jumrah Aqabah.
Batu = simbol melawan hawa nafsu dan godaan setan.
Malam di Muzdalifah adalah malam mempersiapkan diri secara mental untuk “perang” itu.

d. Menghidupkan sunnah dan mengikuti Nabi
Nabi ? mabit di Muzdalifah dan memerintahkan sahabat untuk melakukannya.
Ibnu Umar bilang: “Nabi ? sholat Maghrib dan Isya di Muzdalifah dengan satu iqamat, lalu beliau tidur sampai subuh”.

Meninggalkan mabit tanpa udzur = wajib bayar dam.

3. Yang dilakukan saat mabit

Nggak ada ritual khusus yang ribet. Yang dianjurkan:

1. Sholat Maghrib dan Isya jamak qashar begitu sampai.
2. Tidur untuk istirahat supaya kuat untuk ibadah besok.
3. Bangun malam untuk dzikir, doa, istighfar. Ini waktu mustajab.
4. Sholat Subuh di awal waktu, lalu wukuf kecil di Masy’aril Haram sebelum berangkat ke Mina.
5. Mengambil batu untuk lempar jumrah, boleh juga ambil di Mina.

4. Bedanya dengan mabit di Mina
Muzdalifah Mina
1 malam saja, malam 10 Dzulhijjah 2-3 malam, 11-13 Dzulhijjah
Wajib untuk mayoritas ulama Wajib untuk mayoritas ulama
Fokus: istirahat, dzikir, ambil batu Fokus: lempar jumrah, dzikir, takbir
Tanah terbuka, tanpa tenda khusus Ada tenda, lebih ramai

Singkatnya:
Mabit di Muzdalifah itu malam peralihan. Malam turunnya derajat dari kemuliaan wukuf, ke kesiapan menghadapi ujian lempar jumrah.

Malam untuk merendahkan diri, tidur di tanah, ingat bahwa kita semua sama di hadapan Allah, dan mengisi waktu dengan dzikir karena besok adalah hari paling besar: Hari Nahr.

Mabit ini ngajarin: ibadah itu ada capeknya, ada tenangnya, ada persiapannya. Semua diatur Allah biar hati nggak kosong.

Sumber : https://upwarta.com/makna-mabit-di-musdzalifah/

Wakil Kementerian Haji dan Umrah Menyambangi Jamaah Haji Bojonegoro di Makkah, Titip Pesan untuk Menjaga Fisik dan Meluruskan Niat Ibadah

Wakil Kementerian Haji dan Umrah Menyambangi Jamaah Haji Bojonegoro di Makkah, Titip Pesan untuk Menjaga Fisik dan Meluruskan Niat Ibadah

MAKKAH – Wakil Kementerian Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak, S.E., M.E., melakukan kunjungan langsung ke Hotel Royal Makkah, tempat menginap jemaah haji asal Kabupaten Bojonegoro yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Masyarakat Madani, Kamis (21/5/2026).

Kunjungan penuh kehangatan tersebut menjadi perhatian para jemaah. Selain sebagai bentuk perhatian kepada tamu Allah dari Indonesia, kunjungan ini juga dilandasi hubungan baik dengan jemaah Bojonegoro, terlebih salah satu ajudan beliau, Asril, diketahui merupakan putra asli Bojonegoro.

Dalam suasana penuh kekeluargaan, Mas Dahnil menyampaikan dua pesan penting kepada seluruh jemaah yang tengah mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), pada 25 Mei 2026 hingga 27 Mei 2026.

Pesan pertama yang ditekankan Dahnil adalah pentingnya menjaga kondisi fisik. Hal ini penting karena suhu udara di Kota Makkah pada siang hari saat ini mencapai 46 derajat Celsius, sehingga jemaah diminta untuk benar-benar menjaga stamina agar tetap prima.

“Persiapkan fisik sebaik mungkin. Konsumsi makanan bergizi, cukup istirahat, dan jangan sampai kelelahan. Puncak haji membutuhkan tenaga dan daya tahan yang kuat,” pesan Mas Dahnil kepada jemaah.

Menurutnya, kesehatan menjadi modal utama agar seluruh rangkaian ibadah, khususnya saat Armuzna, dapat dijalankan dengan lancar dan khusyuk.

Selain kesiapan fisik, Mas Dahnil juga mengingatkan pentingnya menjaga niat selama berada di Tanah Suci. Ia menegaskan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan panggilan suci untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

https://storage.pojokaplikasi.com/files/lenteramu-or-id/1761627390481-646270367.png"); background-size: cover; background-position: center center; background-repeat: no-repeat;">
 

“Ibadah haji adalah ibadah yang sangat istimewa karena merangkum seluruh unsur pengorbanan baik materi (maliyah), hati (qolbiyah), maupun fisik (badaniyah),” ujar Dahnil.

Dahnil juga mengingatkan agar jemaah tidak teralihkan oleh hal-hal di luar esensi ibadah.

“Kita datang ke tanah suci ini bukan untuk rekreasi atau belanja. Jaga niat itu agar tetap menyala di dalam dada, bahwa perjalanan ini semata-mata untuk beribadah kepada Allah Swt,” tegas Dahnil.

Mas Dahnil menambahkan, jika niat sudah kuat dan lurus karena Allah Swt., maka apa pun tantangan yang dihadapi selama menjalankan ibadah harus diterima dengan ikhlas dan dijalani dengan penuh kesabaran serta senyuman.

Sholikin Jamik selaku ketua KBIHU Masyarakat Madani Bojonegoro yang mewakili bertemu dengan Wakil Menteri Haji dan Umrah saat di hotel, mengucapkan terima kasih.

Kunjungan Wakil Kementerian Haji dan Umrah tersebut disambut hangat oleh seluruh jemaah asal Bojonegoro. Mereka mengaku bersyukur atas perhatian dan motivasi yang diberikan menjelang fase terpenting dalam pelaksanaan ibadah haji.

Dari Tanah Suci, para jemaah juga memohon doa restu dari seluruh masyarakat Kabupaten Bojonegoro agar seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar, diberikan kesehatan, serta mampu menuntaskan seluruh rukun, wajib, dan sunnah haji dengan sempurna.

Pelaksanaan ibadah haji ini diharapkan berlangsung lancar dan aman, sehingga seluruh jemaah dapat kembali ke tanah air dengan membawa predikat Haji Mabrur. Amin Ya Rabbal Alamin.

Sumber : https://lenteramu.or.id/post/wakil-kementerian-haji-dan-umrah-menyambangi-jamaah-haji-bojonegoro-di-makkah-titip-pesan-untuk-menjaga-fisik-dan-meluruskan-niat-ibadah/

ZONA INTEGRITAS WBK Wilayah Bebas dari Korupsi
Logo WBK
Logo BerAKHLAK
Logo Bangga Melayani Bangsa
SURVEI KEPUASAN MASYARAKAT IKM 3,98 / 4,00 Sangat Baik Lihat Hasil Survey