(0353) 881235 pabojonegoro@gmail.com delegasi.pabojonegoro@gmail.com
Memuat jam...

Lempar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah, Lambang 3 Musuh Setan Dalam Diri

https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260518-WA0018-100x75.jpg 100w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260518-WA0018-768x576.jpg 768w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260518-WA0018-1536x1152.jpg 1536w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" style="box-sizing: border-box; vertical-align: middle; height: auto; max-width: 100%; width: 683.328px;">

Oleh Sholikin Jamik

Ketiganya itu simbol perlawanan ke setan, tapi ada beda tingkat dan maknanya. Dilakukan tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah saat hari Tasyrik.

1. Jumrah Aqabah – Dilempar 10 Dzulhijjah

Lokasi : Paling dekat ke Mekah, paling besar
Waktu: 10 Dzulhijjah, setelah wukuf & mabit di Muzdalifah
Jumlah: 7 batu

Makna filosofis:
Ini simbol perlawanan ke “setan besar” yang menggoda Nabi Ibrahim waktu diperintah menyembelih Ismail.

Filosofi batin: Melawan hawa nafsu terbesar yang bikin berat taat Allah. Contoh: malas ibadah, cinta dunia berlebihan, gengsi taubat.

Tanggal 10 itu hari kemenangan. Setelah lempar Aqabah, jamaah halal tahallul awal – boleh ganti baju, potong rambut. Artinya: “Kalau kamu menang lawan nafsu besar, Allah kasih keringanan.”

2. Jumrah Wustha – Dilempar 11, 12, 13 Dzulhijjah

Lokasia: Di tengah, antara Ula dan Aqabah
Waktu: Setelah zawal/matahari tergelincir tanggal 11-13
Jumlah: 7 batu tiap hari

Makna filosofis:
Melambangkan perlawanan ke bisikan setan level menengah. Kalau Aqabah itu godaan “tinggalkan perintah Allah”, Wustha itu godaan “lakukan setengah-setengah”.

Filosofi batin: Melawan riya’, ujub, sombong, dan ibadah yang nggak ikhlas.
Contoh: “Udah haji, foto dulu biar orang tau.” Itu godaan Wustha. Setan bikin amal jadi kosong pahalanya.

Urutannya lempar Ula dulu, baru Wustha, baru Aqabah. Itu urutan dari godaan kecil ke besar.

3. Jumrah Ula – Dilempar 11, 12, 13 Dzulhijjah

Lokasi: Paling jauh dari Mekah, paling dekat ke Mina
Waktu: Setelah zawal tanggal 11-13
Jumlah: 7 batu tiap hari

Makna filosofis:
Simbol perlawanan ke godaan setan level awal/paling halus. Biasanya godaan ragu, was-was, dan bisikan kecil yang bikin ibadah nggak khusyuk.

Filosofi batin: Melawan was-was dan keraguan dalam iman.

Contoh: “Apa bener Allah nerima hajiku? Apa bener wudhuku sah?” Kalau dibiarin, was-was ini bikin ibadah nggak tenang.
Kenapa 3 tempat ? Kenapa 7 batu ?

3 tempat: Ikut kisah Nabi Ibrahim yang digoda setan 3 kali di 3 lokasi berbeda. Kita ulang adegan itu sebagai ikrar: “Aku ikut Ibrahim, bukan ikut Iblis.”

7 batu: Angka 7 = kesempurnaan. Simbol perlawanan total pakai 7 anggota tubuh: mata, telinga, lisan, tangan, kaki, hati, akal.
Nabi ? lempar sambil baca _“Bismillah, Allahu Akbar”_. Artinya: “Aku lawan setan bukan karena kuatku, tapi karena nama-Mu ya Allah.”

Perbedaan Urutan & Hukum
Jumrah Waktu Lempar Urutan Hukum
Ula 11-13 Dzulhijjah Pertama Wajib. Kalau tinggal, kena dam

Wustha 11-13 Dzulhijjah Kedua Wajib. Kalau tinggal, kena dam

Aqabah 10 Dzulhijjah Sendiri Wajib. Rukun haji. Kalau tinggal, haji batal
Urutan wajib: Ula ? Wustha ? Aqabah. Nggak boleh dibalik.

Hakekatnya: 3 Musuh dalam Diri

Ulama tasawuf membagi jadi 3:
1. Jumrah Ula adalah Lawan setan yang bikin ragu sama Allah
2. Jumrah Wustha adalah Lawan setan yang bitin riya’ dan ujub
3. Jumrah Aqabah adalah Lawan setan yang bikin cinta dunia & berat taat

Jadi lempar jumrah itu latihan 3 hari: bersihkan hati dari ragu ? bersihkan niat dari riya’ ? bersihkan nafsu dari cinta dunia.

Yang penting diingat adalah Tiang jumrah itu cuma penanda. Setan nggak tinggal di situ. Kalau marah-marah, maki-maki, lempar sekuat tenaga, itu salah kaprah.

Nabi ? lempar dengan tenang, khusyuk, dan pendek. Fokusnya bukan ke tiang, tapi ke hati: “Ya Allah, aku lempar malas ibadahku, aku lempar ujubku, aku lempar cinta duniaku.”

Sumber : https://upwarta.com/lempar-jumrah-ula-wustha-dan-aqabah-lambang-3-musuh-setan-dalam-diri/

Lempar Jumroh Aqobah, Hakekatnya Deklarasi Perang Dengan Bisikan Setan

 

Oleh: Sholikin Jamik

SuaraBojonegoro.com – Lempar Jumrah Aqabah itu bukan “main lempar batu ke setan”, Pak. Itu simbol perlawanan, ikrar, dan pelepasan. Tanggal 10 Dzulhijjah = Hari Nahr, hari pertama Idul Adha.

1. Asal-usul: Kisah Nabi Ibrahim vs Iblis*

Ini inti filosofinya. Waktu Nabi Ibrahim diperintah menyembelih Ismail, setan muncul 3 kali buat menggoda:

1. *Di Jumrah Ula*: “Jangan sembelih anakmu, itu kejam”

2. *Di Jumrah Wustha*: “Kamu durhaka sama anak”

3. *Di Jumrah Aqabah*: “Ini cuma mimpi, jangan dituruti”

Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk melempar setan itu dengan 7 batu tiap kali. Maka kita ulang adegan itu.

Filosofinya*: Sejak awal manusia diciptakan, musuh utamanya satu: Iblis. Lempar jumrah hakekatnya deklarasi perang dengan bisikan setan.

_“Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh”_ [QS. Fathir: 6]

2. Kenapa cuma Jumrah Aqabah yang dilempar tanggal 10 ?*

Tanggal 10 Dzulhijjah itu hari “pembebasan”. Haji sudah wukuf, sudah mabit di Muzdalifah, tinggal selesaikan puncak ibadah.

Jumrah Aqabah adalah yang paling dekat ke Mekah, paling besar, simbol setan terbesar yang menggoda manusia buat meninggalkan perintah Allah yang paling berat: menyembelih yang paling dicintai.

Maknanya*: Musuh terbesar itu bukan setan di luar, tapi setan yang bikin kamu berat ngelakuin perintah Allah. Lempar Aqabah adalah Aku lawan hawa nafsuku yang nggak mau taat”.

3. 7 Batu = 7 Pintu Neraka, 7 Anggota Sujud*

Ulama tafsir bilang angka 7 itu simbol kesempurnaan.

1. *7 batu* adalah simbol perlawanan total pakai semua potensi: mata, telinga, lisan, tangan, kaki, hati, akal

2. *Melempar* adalah gerakan aktif. Iman itu bukan pasif. Kalau setan bisik, kamu harus “lempar” dengan zikir, ilmu, istiqamah

3. *Batu kecil sebesar kerikil* hakekatnya senjata orang lemah. Kamu nggak butuh senjata hebat buat ngalahin setan. Cukup iman sebesar biji sawi + tawakal

Nabi ? selalu baca _“Bismillah, Allahu Akbar”_ tiap lempar. Artinya: “Aku lempar bukan karena kuat, tapi karena nama-Mu ya Allah”.

4. Hakekat Batin: Lempar 3 Musuh dalam Diri*

Imam Ghazali & ulama tasawuf buka makna lebih dalam:

Jumrah Ula* adalah Lempar setan yang bikin ragu sama Allah. “Apa bener ada surga neraka?”

*Jumrah Wustha* adalah Lempar setan yang bikin riya’, ujub, sombong

*Jumrah Aqabah* adalah Lempar setan yang bikin cinta dunia berlebihan & berat taat

Tanggal 10 Dzulhijjah kita fokus ke Jumrah Aqabah dulu, karena itu setan yang paling gampang menggoda setelah capek wukuf & Muzdalifah: “Udah ah, nggak usah lempar, cape”.

5. Efek Psikologis & Spiritual*

1. *Catharsis*: Lempar batu adalah buang amarah, dendam, beban dosa secara simbolis. Makanya banyak jamaah nangis pas lempar

2. *Ikrar*: Tiap lempar hakekatnya “Aku nggak akan nurut setan lagi hari ini”. Itu janji yang diulang 7 kali

3. *Peralihan status*: Setelah lempar Aqabah, halal cukur rambut, ganti baju, boleh istri. Artinya “tahap berat” selesai. Filosofinya: Kalau kamu menang lawan setan, Allah beri kemudahan

6. Yang Sering Disalahpahami*

Salah*: Marah-marah, lempar sekuat tenaga, maki-maki tiang jumrah

Benar*: Tenang, khusyuk, niat lawan setan dalam diri. Tiang itu cuma penanda, bukan setan beneran

Setan nggak tinggal di tiang itu. Kalau iya, udah hancur dilempar 3 miliar orang sejak zaman Nabi.

Salah*: Mikir “aku udah lempar setan, jadi aku suci”

Benar*: “Aku baru mulai latihan. Setelah ini setan akan datang lagi lewat HP, uang, jabatan”. Lempar jumrah itu latihan, bukan akhir

Kesimpulan

Lempar Jumrah Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah adalah

*Ikrar: “Ya Allah, aku pilih taat kepada-Mu walau berat. Aku musuhi setan dan hawa nafsuku. Mulai hari ini aku mau hidup baru.”*

Itu sebabnya setelah lempar, sunnahnya langsung menyembelih kurban. Simbol: “Aku siap menyembelih kecintaanku pada dunia, sebagaimana Ibrahim siap menyembelih Ismail”.

Jadi kalau nanti jamaah haji lempar, jangan cuma gerakin tangan. Bisikin ke hati:

_“Ini batu buat syahwatku yang ngajak maksiat. Ini batu buat malas ibadahku. Ini batu buat ujubku.”_

Sumber : https://suarabojonegoro.com/lempar-jumroh-aqobah-hakekatnya-deklarasi-perang-dengan-bisikan-setan/

Tarwiyah, Momen untuk Merenung

 Hari Tarwiyah itu tanggal 8 Zulhijah. Hari itu jemaah haji mulai bergerak dari Makkah ke Mina. Jemaah menuju Mina ini "harus” ke sana bukan karena wajib fi’li, tapi karena itu sunnah Nabi saw. dan bagian dari rangkaian manasik.

Tarwiyah, Momen untuk Merenung

Hari Tarwiyah itu tanggal 8 Zulhijah. Hari itu jemaah haji mulai bergerak dari Makkah ke Mina. Jemaah menuju Mina ini "harus” ke sana bukan karena wajib fi’li, tapi karena itu sunnah Nabi saw. dan bagian dari rangkaian manasik.

Kata _tarwiyah_ dari kata _rawiya_ berarti memberi minum sampai puas. Penamaan ini bermula pada zaman dahulu, jemaah dan hewan kurban belum bawa air banyak. Mereka berhenti di Mina tanggal 8 Zulhijah untuk minum, mengisi bekal air, dan istirahat sebelum ke Arafah yang tandus. Jadi tarwiyah adalah “hari memberi minum”.

Ada juga riwayat bahwa Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih Ismail tanggal 8 Zulhijjah. Beliau _tarawwa_ bermakna merenung, mikir: “Ini mimpi dari Allah Swt. atau bukan?”. Dari riwayat itu disebutlah tarwiyah.

Selain itu, terdapat dalil dan Sunnah Nabi saw. Nabi saw. berangkat ke Mina tanggal 8 Zulhijah setelah salat zuhur, lalu bermalam di sana.

Jabir bin Abdillah berkata sebagaimana diriwayatkan Muslim: “Nabi saw. memerintahkan kami ketika hendak berangkat ke Mina agar berihram. Kami berangkat ke Mina, lalu salat zuhur, asar, magrib, isya, dan subuh di sana. Kemudian beliau berangkat ke Arafah setelah matahari terbit.”

Jadi yang “harus” dilakukan bukan menginap di Mina itu sendiri, tapi Wukuf di Arafah tanggal 9. Menginap di Mina tanggal 8 adalah sunnah muakkadah, mengikuti Nabi saw.

Hikmah kenapa ada hari Tarwiyah.

Pertama, persiapan fisik dan mental. Perjalanan Makkah ke Arafah 22 km, dahulu dilalui dengan jalan kaki. Butuh istirahat di Mina biar kuat Wukuf besoknya. Sekarang pakai bus juga tetap membutuhkan jeda. Kalau langsung dari Makkah ke Arafah tanggal 9, jemaah kelelahan dan tidak khusyuk ibadah.

Kedua, latihan hidup sederhana. Di Mina tidak ada hotel mewah. Tenda, berdesakan, panas. Itu latihan tentanh "hidup ini sementara. Aku bisa hidup cukup dengan tenda dan roti”. Mirip Padang Mahsyar nanti.

Ketiga, pemisah antara umrah dan haji. Bagi yang haji Tamattu’, tanggal 8 itu momen ganti dark mode dari umrah selesai, masuk manasik haji. Ihram haji dimulai lagi, talbiyah dikumandangkan lagi.

Keempat, mengikuti sunnah Ibrahim dan Muhammad. Kita ulang lagi kisah Ibrahim yang mikir semalaman sebelum menyembelih Ismail. Kita juga mikir semalaman di Mina: “Besok aku mau ngomong apa di hadapan Allah di Arafah?”

Kelima, kalau tidak ke Mina tanggal 8, bagaimana? Hukumnya: Tidak apa-apa, haji tetap sah, karena rukun itu wukuf Arafah tanggal 9. Menginap di Mina malam Tarwiyah itu sunnah.

Akan tetapi sekarang karena jemaah padat, banyak jemaah Indonesia langsung berangkat ke Arafah malam 8 Zulhijah agar memperoleh tempat. Hal ini boleh, asal jangan tinggal Wukuf.

Hal-hal yang dilakukan di hari Tarwiyah, yaitu: (1) salat 5 waktu qashar tanpa jama’: zuhur 2 rakaat, asar 2 rakaat, dst. Sesuai sunnah; (2) perbanyak talbiyah*: “Labbaik Allahumma labbaik…”; (3) zikir, tilawah, muhasabah*: Besok Arafah, hari paling penting, maka persiapkan doa; (4) Istirahat: simpan tenaga untuk wukuf.

Tarwiyah bukan rukun haji, tapi _pos istirahat_ yang Nabi ajarkan. Posisi kita kayak musafir hendak ketemu Raja. Malamnya menginap dulu, mandi, siap-siap, biar besok pas ketemu Raja di Arafah, hati dan badan siap.

Oleh: Sholikin Jamik

Sumber : https://lenteramu.or.id/post/tarwiyah-momen-untuk-merenung/

Sholat Maghrib-Isya pada 11 dan 12 Dzulhijjah saat Mabit di Mina

Oleh: Sholikin Jamik*)

SAAT malam bina iman dan taqwa (Mabit) di Mina tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah, sholat Maghrib dan Isya dilakukan sendiri-sendiri, tidak dijamak, tapi diqashar untuk Isya.

Ini sunnah Nabi ? waktu Haji Wada’.
1. Cara sholatnya

Maghrib: 3 rakaat, utuh. Tidak diqashar, tidak dijamak.
Isya: 2 rakaat, diqashar. Tidak dijamak dengan Maghrib.

Jadi:
– Masuk waktu Maghrib ? sholat Maghrib 3 rakaat
– Masuk waktu Isya ? sholat Isya 2 rakaat

Waktu sholat tetap ikut waktu Mina. Nggak digabung jadi jamak taqdim/ta’khir.

Dalilnya:
Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Nabi ? salat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh di Mina. Beliau mengqashar sholat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat” [HR. Muslim 1218]

Nabi ? tidak menjamak Maghrib-Isya di Mina tanggal 11-12 Dzulhijjah.

2. Kenapa tidak dijamak?

Jamak itu keringanan untuk orang safar yang berpindah tempat atau ada kesulitan.
Di Mina tanggal 11-12, jamaah sudah “mukim sementara”. Nabi ? dan sahabat menetap di tenda Mina 3 hari, jadi sholatnya dikembalikan ke asal: dikerjakan di waktunya masing-masing.

Berbeda dengan tanggal 9 Dzulhijjah di Arafah dan Muzdalifah, di sana Nabi ? menjamak taqdim Zhuhur-Ashar di Arafah, dan jamak ta’khir Maghrib-Isya di Muzdalifah.

3. Yang berlaku untuk jamaah Indonesia

1. Kalau sholat sendiri atau di tenda:
Maghrib 3 rakaat, Isya 2 rakaat, di waktunya. Sunnah dikerjakan berjamaah di tenda.

2. Kalau ikut imam di masjid/mushola Mina:
Ikuti imam. Kalau imam sholat 4 rakaat, makmum musafir ikut 4 rakaat. Setelah imam salam, niat qashar sudah gugur karena mengikuti imam mukim.

3. Waktu sholat:
Lihat jadwal sholat Mina. Biasanya selisih 1-2 menit dengan Mekah. Jangan pakai jadwal Indonesia.

4. Kesalahan yang sering terjadi

Salah: Jamak taqdim Maghrib-Isya jam 8 malam karena capek
Benar: Tunggu masuk waktu Isya, baru sholat Isya 2 rakaat

Salah: Isya tetap 4 rakaat karena merasa sudah nggak safar
Benar: Tetap qashar 2 rakaat selama masih di Mina dan belum niat mukim 4 hari lebih

5. Hikmahnya

Nabi ? sengaja tidak menjamak di Mina biar jamaah istirahat, zikir, dan ibadah malam. Hari-hari Tasyrik itu hari makan, minum, dan dzikir [QS. Al-Baqarah: 203].

Jarak waktu antar sholat jadi momen untuk muhasabah: “Besok mau lempar jumrah lagi, hatiku sudah bersih belum?”

Intinya:
Tanggal 11-12 Dzulhijjah di Mina ? Maghrib 3 rakaat, Isya 2 rakaat, dikerjakan di waktunya masing-masing. Tidak dijamak.

Sumber : https://kabarpasti.com/sholat-maghrib-isya-pada-11-dan-12-dzulhijjah-saat-mabit-di-mina/

Empat Bulan, 832 Istri Gugat Suami dan 271 Suami Talak Istri di Bojonegoro

Empat Bulan, 832 Istri Gugat Suami dan 271 Suami Talak Istri di Bojonegoroilustrasi Perceraian (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Retaknya rumah tangga pasangan di Bojonegoro masih menjadi perkara yang menyita perhatian. Hingga April 2026, Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro telah mencatat 1.103 perkara perceraian yang masuk.

Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan cerai gugat yang diajukan pihak istri sebanyak 832 perkara, sementara cerai talak tercatat 271 perkara. Hal ini menunjukkan tren dominasi gugatan dari pihak perempuan.

Di balik tingginya angka tersebut, faktor perselisihan dan pertengkaran terus-menerus menjadi penyebab paling dominan, yakni mencapai 413 kasus. Angka ini melampaui faktor lain yang juga tercatat dalam data pengadilan.

Panitera PA Bojonegoro Sholikin Jamik menjelaskan, perselisihan dalam rumah tangga umumnya tidak berdiri pada satu sebab, melainkan akumulasi berbagai persoalan.

Sholikin sapaannya mencontohkan, persoalan nafkah masih menjadi salah satu pemicu, baik karena tidak terpenuhi maupun dianggap kurang mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, konflik juga kerap dipicu campur tangan pihak ketiga, terutama dari keluarga, yang memperkeruh hubungan suami istri. Namun, perselingkuhan menjadi salah satu faktor paling banyak.

“Tapi yang amat sangat banyak itu justru perselingkuhan, termasuk ada indikasi punya WIL (wanita idaman lain) maupun PIL (pria idaman lain),” terangnya.

Tidak hanya itu, lanjutnya, gaya hidup konsumtif hingga kebiasaan berutang tanpa sepengetahuan pasangan turut memperbesar potensi konflik dalam rumah tangga.

“Punya utang tanpa sepengetahuan istri atau laki-laki juga ada,” tambahnya. 

Selain faktor perselisihan, data PA Bojonegoro juga mencatat penyebab lain seperti ekonomi, judi, meninggalkan pasangan, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), meski jumlahnya tidak sebesar konflik berkepanjangan. (ewi/msu)

Sumber : https://radarbojonegoro.jawapos.com/hukum-kriminal/2605140004/empat-bulan-832-istri-gugat-suami-dan-271-suami-talak-istri-di-bojonegoro?page=2

Tarwiyah, Saatnya Merenung

 

Oleh Sholikin Jamik

Hari Tarwiyah itu tanggal 8 Dzulhijjah. Hari itu jamaah haji mulai bergerak dari Mekah ke Mina. “Harus” ke sana bukan karena wajib fi’li, tapi karena itu sunnah Nabi ? dan bagian dari rangkaian manasik.

1. Arti Tarwiyah

Kata Tarwiyah dari kata rawiya = memberi minum sampai puas.

Asal-usul penamaan
Zaman dulu, jamaah & hewan kurban belum bawa air banyak. Mereka berhenti di Mina tanggal 8 Dzulhijjah untuk minum, mengisi bekal air, dan istirahat sebelum ke Arafah yang tandus. Jadi “hari memberi minum”.

Ada juga riwayat: Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih Ismail tanggal 8 Dzulhijjah. Beliau tarawwa = merenung, mikir: “Ini mimpi dari Allah atau bukan?”. Dari situ disebut Tarwiyah.

2. Dalil & Sunnah Nabi ?

Nabi ? berangkat ke Mina tanggal 8 Dzulhijjah setelah salat Zhuhur, lalu bermalam di sana.

Jabir bin Abdillah berkata: “Nabi ? memerintahkan kami ketika hendak berangkat ke Mina agar berihram. Kami berangkat ke Mina, lalu salat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh di sana. Kemudian beliau berangkat ke Arafah setelah matahari terbit” [HR. Muslim].

Jadi yang “harus” dilakukan bukan nginap di Mina itu sendiri, tapi wukuf di Arafah tanggal 9. Nginap di Mina tanggal 8 adalah sunnah muakkadah, mengikuti Nabi.

3. Hikmah kenapa ada hari Tarwiyah

a. Persiapan fisik & mental
Perjalanan Mekah-Arafah 22 km dulu jalan kaki. Butuh istirahat di Mina biar kuat wukuf besoknya. Sekarang pakai bus juga tetap butuh jeda. Kalau langsung dari Mekah ke Arafah tanggal 9, jamaah kelelahan dan nggak khusyuk.

b. Latihan hidup sederhana
Di Mina nggak ada hotel mewah. Tenda, berdesakan, panas. Itu latihan: “Hidup ini sementara. Aku bisa hidup cukup dengan tenda & roti”. Mirip Padang Mahsyar nanti.

c. Pemisah antara umrah & haji
Bagi yang haji Tamattu’, tanggal 8 itu momen ganti mode dari umrah selesai, masuk manasik haji. Ihram haji dimulai lagi, talbiyah dikumandangkan lagi.

d. Mengikuti sunnah Ibrahim & Muhammad
Kita ulang lagi kisah Ibrahim yang mikir semalaman sebelum menyembelih Ismail. Kita juga mikir semalaman di Mina: “Besok aku mau ngomong apa di hadapan Allah di Arafah?”

4. Kalau tidak ke Mina tanggal 8, bagaimana?

Hukumnya: Tidak apa-apa, haji tetap sah.*
Yang rukun itu wukuf Arafah tanggal 9. Nginap di Mina malam Tarwiyah itu sunnah.

Tapi sekarang karena padat, banyak jamaah Indonesia langsung berangkat ke Arafah malam 8 Dzulhijjah biar dapat tempat. Itu boleh, asal jangan tinggal wukuf.

5. Yang dilakukan di hari Tarwiyah

1. Salat 5 waktu qashar tanpa jama: Zhuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat, dst. Sesuai sunnah
2. Perbanyak talbiyah: “Labbaik Allahumma labbaik…”
3. Dzikir, tilawah, muhasabah: Besok Arafah, hari paling penting. Siapkan doa
4. Istirahat: Simpan tenaga untuk wukuf

Intinya:*
Tarwiyah bukan rukun, tapi pos istirahat yang Nabi ajarkan. Posisi kita kayak musafir mau ketemu Raja. Malamnya nginap dulu, mandi, siap-siap, biar besok pas ketemu Raja di Arafah, hati dan badan siap.

Sumber : https://upwarta.com/tarwiyah-saatnya-merenung/

Lempar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah Lambang 3 Musuh Setan dalam Diri

 

Oleh: Sholikin Jamik

SuaraBojonegoro.com – Ketiganya merupakan simbol perlawanan terhadap setan, tetapi memiliki perbedaan tingkat dan makna. Ibadah ini dilakukan pada tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah saat hari Tasyrik.

1. Jumrah Ula (Dilempar pada 11, 12, dan 13 Zulhijah)

Lokasi: Paling jauh dari Makkah, paling dekat ke Mina.

Waktu: Setelah zawal (matahari tergelincir) tanggal 11–13 Zulhijah.

Jumlah: 7 butir batu setiap hari.

Makna Filosofis:

Simbol perlawanan terhadap godaan setan level awal atau yang paling halus. Biasanya berupa godaan ragu, waswas, dan bisikan kecil yang membuat ibadah tidak khusyuk.

Filosofi Batin:

Melawan waswas dan keraguan dalam iman.

Contoh: “Apakah benar Allah menerima hajiku? Apakah benar wudukku sah?” Jika dibiarkan, rasa waswas ini akan membuat ibadah menjadi tidak tenang.

2. Jumrah Wustha (Dilempar pada 11, 12, dan 13 Zulhijah)

Lokasi: Di tengah, antara Jumrah Ula dan Jumrah Aqabah.

Waktu: Setelah *zawal tanggal 11–13 Zulhijah.

Jumlah: 7 butir batu setiap hari.

Makna Filosofis:

Melambangkan perlawanan terhadap bisikan setan level menengah. Jika Aqabah adalah godaan untuk “meninggalkan perintah Allah”, maka Wustha adalah godaan untuk “melakukan ibadah secara setengah-setengah”.

Filosofi Batin:

Melawan sifat riya, ujub, sombong, dan ibadah yang tidak ikhlas.

Contoh: “Sudah haji, foto dulu biar orang tahu.” Itu adalah godaan Wustha. Setan membuat amal ibadah menjadi kosong pahalanya.

3. Jumrah Aqabah (Dilempar pada 10 Zulhijah)

Lokasi: Paling dekat ke Makkah, ukurannya paling besar.

Waktu: Tanggal 10 Zulhijah, setelah wukuf dan mabit di Muzdalifah.

Jumlah: 7 butir batu.

Makna Filosofis:

Ini adalah simbol perlawanan terhadap “setan besar” yang menggoda Nabi Ibrahim alaihissalam ketika diperintah untuk menyembelih Nabi Ismail alaihissalam.

Filosofi Batin:

Melawan hawa nafsu terbesar yang membuat seseorang berat untuk menaati Allah.

Contoh: Malas beribadah, cinta dunia secara berlebihan, dan gengsi untuk bertobat.

Tanggal 10 Zulhijah adalah hari kemenangan. Setelah melempar Jumrah Aqabah, jemaah diperbolehkan melakukan tahallul awal (boleh mengganti pakaian ihram dan memotong rambut). Artinya: “Jika kamu menang melawan nafsu besar, Allah akan memberikan keringanan.”

Kenapa Ada 3 Tempat? Kenapa Harus 7 Batu?

3 Tempat: Mengikuti kisah Nabi Ibrahim yang digoda oleh setan sebanyak 3 kali di 3 lokasi yang berbeda. Kita mengulang adegan tersebut sebagai ikrar: “Aku mengikuti Nabi Ibrahim, bukan mengikuti Iblis.”

7 Batu: Angka 7 melambangkan kesempurnaan. Ini adalah simbol perlawanan total yang melibatkan 7 anggota tubuh: mata, telinga, lisan, tangan, kaki, hati, dan akal.

Nabi Muhammad \small \text{SAW} melempar batu sambil membaca, “Bismillah, Allahu Akbar” (Dengan menyebut nama Allah, Allah Mahabesar). Artinya: “Aku melawan setan bukan karena kekuatanku, melainkan karena nama-Mu, ya Allah.”

Urutan dan Hukum Melaksanakan Jumrah

Pelaksanaan lempar jumrah pada hari Tasyrik harus dilakukan secara berurutan, yaitu dimulai dari Jumrah Ula sebagai urutan pertama, kemudian dilanjutkan ke Jumrah Wustha sebagai urutan kedua, dan diakhiri dengan Jumrah Aqabah sebagai urutan ketiga. Urutan ini bersifat wajib dan tidak boleh dibalik.

Mengenai hukumnya, melempar Jumrah Ula dan Jumrah Wustha pada tanggal 11 sampai 13 Zulhijah hukumnya adalah wajib haji, di mana jika ditinggalkan jemaah wajib membayar denda atau dam. Sementara itu, melempar Jumrah Aqabah yang dilakukan sendiri pada tanggal 10 Zulhijah memiliki hukum yang sangat kuat sebagai bagian dari rukun atau wajib haji inti, sehingga jika ditinggalkan dapat membuat ibadah haji menjadi tidak sah atau batal.

Hakikatnya: 3 Musuh dalam Diri

Ulama tasawuf membagi esensi lempar jumrah menjadi 3 bagian:

Jumrah Ula: Melawan setan yang membuat kita ragu kepada Allah.

Jumrah Wustha: Melawan setan yang membuat kita memelihara sifat riya dan ujub.

Jumrah Aqabah: Melawan setan yang membuat kita cinta dunia dan berat untuk taat.

Jadi, melempar jumrah adalah latihan selama 3 hari untuk: membersihkan hati dari keraguan \rightarrow membersihkan niat dari sifat riya \rightarrow membersihkan nafsu dari cinta dunia.

Hal Penting yang Harus Diingat:

Tiang jumrah itu hanyalah sebuah penanda, setan tidak tinggal di dalam tiang tersebut. Jika ada jemaah yang marah-marah, memaki-maki, hingga melempar batu sekuat tenaga, hal itu adalah salah kaprah.

Nabi Muhammad \small \text{SAW} melempar jumrah dengan tenang, khusyuk, dan penuh ketundukan. Fokusnya bukan pada tiangnya, melainkan pada hati kita: “Ya Allah, aku lempar rasa malas ibadahku, aku lempar sifat ujubku, dan aku lempar cinta duniaku.”

Sumber : https://suarabojonegoro.com/lempar-jumrah-ula-wustha-dan-aqabah-lambang-3-musuh-setan-dalam-diri/

1.103 Pasutri di Bojonegoro Kandas, Selingkuh jadi Biang Kerok Utama

1.103 Pasutri di Bojonegoro Kandas, Selingkuh jadi Biang Kerok Utama

Ilustrasi perceraian akibat perselingkuhan (Foto: ChatGpt Ai)

Reporter: Rizki Nur Diansyah

blokBojonegoro.com – Sebanyak 1.103 pasangan suami istri (Pasutri) di Kabupaten Bojonegoro memilih mengakhiri hubungan  keluarganya di meja Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro. Rupanya, perselingkuhan menjadi biang kerok utama, hancurnya rumah tangga pasutri tersebut.

Berdasarkan data yang tercatat di PA Bojonegoro hingga April 2026 ini, perkara cerai gugat yang diajukan pihak istri mendominasi dengan 832 kasus. Sementara itu, cerai talak yang diajukan suami tercatat sebanyak 271 perkara.

Perselisihan dan pertengkaran berkepanjangan menjadi faktor paling dominan dalam kasus perceraian tersebut. Tercatat, sebanyak 413 perkara dipicu konflik rumah tangga yang terus terjadi tanpa penyelesaian. Faktor ini menjadi penyebab tertinggi dibanding persoalan lainnya.

Panitera  Pengadilan Agama Bojonegoro, Sholikin Jamik mengungkapkan, konflik rumah tangga biasanya dipicu oleh banyak persoalan yang saling berkaitan. Namun, yang terbanyak disebabkan oleh perselingkuhan yang menjadi konflik terus menerus.

“Yang amat sangat banyak itu perselingkuhan, termasuk ada indikasi punya WIL (wanita idaman lain) maupun PIL (pria idaman lain),” ungkap Sholikin, Jumat (15/5/2026).

Selain perselingkuhan, lanjut Sholikin, persoalan ekonomi juga masih menjadi pemicu utama dalam rumah tangga. Mulai dari nafkah yang dianggap kurang mencukupi hingga kebiasaan berutang tanpa sepengetahuan pasangan.

“Punya utang tanpa sepengetahuan istri atau laki-laki juga ada,” beber Sholikin sembari menunjukkan statistik angka perceraian.

Tak hanya itu, campur tangan pihak ketiga, terutama  keluarga, juga disebut kerap memperkeruh hubungan pasangan suami istri hingga berujung perceraian.

Tak berhenti disitu, data pengadilan juga mencatat penyebab lain seperti perjudian, meninggalkan pasangan, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), meski jumlahnya tidak sebesar konflik berkepanjangan dan perselingkuhan. [riz/mad]

Sumber : https://blokbojonegoro.com/2026/05/15/1103-pasutri-di-bojonegoro-kandas-selingkuh-jadi-biang-kerok-utama

Mengapa Harus Thawaf saat Haji dan Umrah?

Oleh Sholikin Jamik

Thawaf bukan sekadar muter-muter Ka’bah Ada dalil, sejarah, dan hakekat yang dalam.

1. Karena perintah Allah langsung

“Dan hendaklah mereka melakukan thawaf di sekeliling Baitul Atiq” [QS. Al-Hajj: 29]

Baitul Atiq = Ka’bah. Ini perintah wajib. Haji tanpa thawaf Ifadah = hajinya tidak sah. Umrah tanpa thawaf = umrahnya batal.

Nabi ? waktu haji Wada’ juga thawaf 7 putaran. Kata beliau: “Ambillah dariku manasik haji kalian” [HR. Muslim]. Jadi kita thawaf karena ikut Nabi, Nabi ikut perintah Allah.

2. Melanjutkan ibadahnya Nabi Ibrahim AS

Ka’bah dibangun Nabi Ibrahim & Ismail untuk thawaf.
“Dan ingatlah ketika Kami jadikan rumah itu tempat berkumpul bagi manusia… dan Kami perintahkan Ibrahim & Ismail: Sucikanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf” [QS. Al-Baqarah: 125]

Jadi waktu Bapak thawaf, hakekatnya Bapak sedang napak tilas jejak Nabi Ibrahim 4000 tahun lalu. Melanjutkan sunnah para Nabi.

3. Hakekat Thawaf: Simbol penghambaan total

a. Ka’bah di bumi = Baitul Makmur di langit
Malaikat di langit thawaf mengelilingi Baitul Makmur 70.000 malaikat tiap hari, tidak kembali lagi. Kita di bumi disuruh thawaf Ka’bah meniru malaikat. Tanda kita ini hamba, Allah itu Raja. Kita muter, Allah di tengah jadi pusat hidup.

b. Lawan arah jarum jam = Lawan hawa nafsu
Semua alam muter thawaf: bumi keliling matahari, elektron keliling inti, darah keliling tubuh. Semuanya lawan arah jarum jam. Thawaf ngajarin: hidup kita harus selaras dengan sunnatullah. Jangan melawan fitrah. Harus gerak, tapi tetap Ka’bah = Allah sebagai pusat.

c. 7 putaran = Angka sempurna
7 hari, 7 langit, 7 ayat Al-Fatihah. Ulama bilang 7 putaran tanda kesungguhan. Sekali dua kali belum cukup. Harus istiqamah sampai 7. Baru sempurna penghambaan.

d. Mulai & selesai di Hajar Aswad
Hajar Aswad itu “tangan kanan Allah di bumi” kata Ibnu Abbas. Waktu kita istimlam/tunjuk, hakekatnya kita baiat ulang: “Ya Allah, aku janji taat”. 7 kali kita perbarui janji.

4. Thawaf = Salat dalam bentuk lain

Nabi ?: _“Thawaf di Baitullah itu seperti salat, hanya saja Allah bolehkan kalian bicara saat thawaf. Barangsiapa bicara, jangan bicara kecuali yang baik”_ [HR. Tirmidzi]

Makanya syarat thawaf mirip salat: suci, tutup aurat, wudhu. Bedanya boleh ngobrol dikit & makan minum kalau perlu. Jadi thawaf itu salat-nya para malaikat yang kita tiru.

5. Efek untuk hati

Imam Ghazali di Ihya bilang: “Waktu thawaf, bayangkan hatimu yang thawaf mengelilingi kebesaran Allah. Badan muter Ka’bah, hati muter Arsy.”

Itu sebabnya banyak orang nangis saat thawaf. Karena berasa kecil, berasa deket, berasa rindu. Semua pangkat, harta, dosa, lepas. Tinggal aku & Allah.

Jenis thawaf:
1. Thawaf Qudum: Sunnah pas baru datang ke Mekah
2. Thawaf Ifadah: Rukun haji, wajib. Kalau tinggal = haji tidak sah
3. Thawaf Wada: Wajib sebelum pulang, pamitan ke Ka’bah
4. Thawaf Umrah: Rukun umrah
5. Thawaf Sunnah: Kapan saja, pahala besar

Jadi kenapa harus thawaf?*
Karena Allah suruh. Karena Nabi contohkan. Karena itu cara kita bilang: “Ya Allah, hidupku muter cuma buat Engkau. Engkau pusatku, tujuanku, awal & akhirku.”

Thawaf ngajarin tauhid yang dipraktekkan, bukan cuma diucap.

Semoga nanti thawafnya khusyuk. Mulai putaran pertama niat: “Ini putaran taubat”. Kedua: “Putaran syukur”. Sampai 7 putaran, hati jadi enteng.

Sumber : https://upwarta.com/mengapa-harus-thawaf-saat-haji-dan-umrah/

Hakikat Lempar Jumrah Aqabah: Deklarasi Perang Melawan Bisikan Setan

Proses melempar Jumrah Aqabah itu bukan sekadar “main lempar batu ke setan". Melempar jumrah adalah simbol perlawanan, ikrar, dan pelepasan. Tanggal 10 Zulhijah sesungguhnya adalah Hari Nahr, hari pertama Iduladha.

Hakikat Lempar Jumrah Aqabah: Deklarasi Perang Melawan Bisikan Setan

Proses melempar Jumrah Aqabah itu bukan sekadar “main lempar batu ke setan". Melempar jumrah adalah simbol perlawanan, ikrar, dan pelepasan. Tanggal 10 Zulhijah sesungguhnya adalah Hari Nahr, hari pertama Iduladha.

Asal-usul peristiwa jumrah adalah kisah Nabi Ibrahim a.s. melawan Iblis. Makna filosofinya dar peristiwa ini adalah ketika Nabi Ibrahim a.s. diperintah menyembelih Ismail a.s., setan muncul tiga kali buat menggoda.

Godaan pertama di Jumrah Ula, “jangan sembelih anakmu, itu kejam”. Lalu ketika Jumrah Wustha, “kamu durhaka sama anak”. Terakhir ketika di Jumrah Aqabah, "ini cuma mimpi, jangan dituruti”.

Nabi Ibrahim a.s. diperintah Allah Swt. untuk melempar setan itu dengan tujuh batu setiap kali jumrah. Maka peristiwa melempar baru atau jumrah adalah kreka ulang adegan yang dilakukan Nabi Ibrahim a.s. tersebut.

Filosofinya peristiwa jumrah adalah, sejak awal manusia diciptakan, musuh utamanya satu: Iblis. Lempar jumrah hakekatnya deklarasi perang dengan bisikan setan. “Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh." sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Fathir ayat 6.

Kenapa cuma Jumrah Aqabah yang dilempar tanggal 10? Tanggal 10 Zulhijah itu hari “pembebasan”. Haji sudah selesak wukuf, sudah mabit di Muzdalifah, tinggal selesaikan puncak ibadah.

Jumrah Aqabah adalah yang paling dekat ke Makkah, paling besar, simbol setan terbesar yang menggoda manusia buat meninggalkan perintah Allah Swt. yang paling berat: menyembelih yang paling dicintai.

Maknanya adalah musuh terbesar itu bukan setan di luar, tapi setan yang bikin kamu berat ngelakuin perintah Allah. Lempar Aqabah adalah Aku lawan hawa nafsuku yang nggak mau taat”.

Tujuh batu bermakna tujuh pintu neraka dan tujuh anggota sujud. Ulama tafsir bilang angka tujuh itu simbol kesempurnaan.

Pertama, tujuh batu adalah simbol perlawanan total pakai semua potensi: mata, telinga, lisan, tangan, kaki, hati, akal.

Kedua, melempar adalah gerakan aktif. Iman itu bukan pasif. Kalau setan bisik, kamu harus “lempar” dengan zikir, ilmu, istikamah.

Ketiga, batu kecil sebesar kerikil hakikatnya senjata orang lemah. Kamu nggak butuh senjata hebat buat ngalahin setan. Cukup iman sebesar biji sawi dan tawakal.

Nabi saw. selalu membaca “Bismillah, Allahu Akbar” setiap melempar. Artinya: “Aku lempar bukan karena kuat, tapi karena nama-Mu ya Allah”.

Hakikat batin melempar jumrah adalah melempar kepada tkg musuh di dalam diri. Imam Ghazali dan ulama tasawuf memberikan makna lebih dalam.

Jumrah Ula adalah melempar setan yang bikin ragu sama Allah. “Apa bener ada surga neraka?” Jumrah Wustha adalah melempar setan yang bikin riya’, ujub, sombong. Jumrah Aqabah adalah melmpar setan yang bikin cinta dunia berlebihan dan berat berlaku taat.

Tanggal 10 Zulhijah kita fokus ke Jumrah Aqabah dulu, karena itu setan yang paling gampang menggoda setelah capek Wukuf dan Muzdalifah: “Sudah ah, tidak usah melempar, capek”.

Efek psikologis dan spiritual dari melempar Jumrah. Pertama, katarsis. Melempar batu adalah membuang amarah, dendam, beban dosa secara simbolis. Makanya banyak jamaah nangis pas lempar.

Kedua ikrar, artinya setiapiap melempar hakikatnya adalah: “Aku nggak akan menuruti setan lagi hari ini”. Itu janji yang diulang sebanyak tujuh kali.

Ketiga, peralihan status. Setelah melempar Junrah Aqabah, halal cukur rambut, ganti baju, boleh menemui istri. Artinya “tahap berat” selesai. Filosofinya adalah kalau kamu menang lawan setan, Allah Swt. memberi kemudahan.

Kesalahpahaman Jumrah Aqabah yang sering terjadi. Marah-marah, lempar sekuat tenaga, maki-maki tiang jumrah. Melempar Jumrah sebaiknya dilakukan dengan tenang, khusyuk, berniat melawan setan dalam diri.

Tiang yang dilempar itu cuma penanda, bukan setan beneran. Setan nggak tinggal di tiang itu. Kalau iya, udah hancur dilempar 3 miliar orang sejak zaman Nabi.

Kesalahan lainnya, yaitu berpkir “aku udah lempar setan, jadi aku suci.” Hal itu perlu dihindari karena sesungguhnya, “Aku baru mulai latihan. Setelah ini setan akan datang lagi lewat HP, uang, jabatan”. Melempar jumrah itu latihan, bukan akhir.

Lempar Jumrah Aqabah tanggal 10 Zulhijah adalah ikrar: “Ya Allah, aku pilih taat kepada-Mu walau berat. Aku musuhi setan dan hawa nafsuku. Mulai hari ini aku mau hidup baru.”

Itu sebabnya setelah lempar Jumrah, sunnahnya langsung menyembelih kurban. Hal ini sebagai smbol: “Aku siap menyembelih kecintaanku pada dunia, sebagaimana Ibrahim siap menyembelih Ismail”.

Jadi kalau nanti jemaah haji melempar Jumrah, jangan cuma gerakin tangan. Bisikin ke hati: "Ini batu buat syahwatku yang ngajak maksiat. Ini batu buat malas ibadahku. Ini batu buat ujubku.”

Oleh: Sholikin Jamik

Sumber : https://lenteramu.or.id/post/hakikat-lempar-jumrah-aqabah-deklarasi-perang-melawan-bisikan-setan/

Hakekat Thawaf Adalah Taubat

Oleh: Sholikin Jamik, Pembimbing Jamaah Haji KBIHU Masyarakat Madani 

Meskipun bukan perintah khusus buat Adam, semangat thawaf = taubat. Kenapa?

1. Thawaf itu istighfar dengan badan
Waktu thawaf kita baca: _“Rabbana atina fid-dunya hasanah… wa qina ‘adzaban nar”_. Isinya minta ampun & selamat. 7 putaran = 7 kali ngemis ampun.

2. Simbol kembali ke Allah
Adam diusir dari surga karena dosa. Kita thawaf muter Ka’bah tanda: “Ya Allah, aku balik. Aku muter-muter dunia kejauhan. Sekarang aku pulang ke Engkau.”

3. Hajar Aswad = Saksi Taubat
Nabi ?: “Hajar Aswad turun dari surga… akan jadi saksi bagi yang mengusapnya dengan benar”[HR. Tirmidzi]. Waktu istimlam, kita kayak salaman bilang: “Ya Allah, aku taubat, saksikan”.

Imam Ghazali bilang: “Thawaf itu gerakan orang bingung yang nemu jalan pulang. Muter karena cinta, nangis karena dosa.”

4. Kesimpulan Tarjih

Majelis Tarjih Muhammadiyah: Kisah Adam thawaf itu israiliyat, tidak bisa dijadikan dalil. Yang jadi pegangan: QS. Al-Hajj: 29 & hadits Nabi ?.

Jadi kalau ada yang bilang “thawaf wajib karena Adam taubat begitu”, itu kurang tepat. Yang tepat: Kita thawaf karena Allah perintahkan lewat Ibrahim & Muhammad. Dan thawaf adalah cara paling nyata buat taubat.

Jadi gimana sikap kita?
1. Resapi thawaf sebagai momen taubat kita sendiri. Bayangkan dosa 60 tahun rontok tiap putaran.
2. Fokus niat: “Ya Allah, aku thawaf karena perintah-Mu. Terima taubatku seperti Engkau terima taubat Adam”

Itu lebih selamat & sesuai sunnah.

Jadi , thawaf itu bukan hanya napak tilas taubat Adam, tapi napak tilas taubatnya seluruh manusia yang mau kembali ke Allah. Adam bapak kita, Ibrahim nenek moyang kita, Muhammad Nabi kita. Semua ketemu di thawaf.

Semoga thawafnya nanti jadi thawaf taubat yang diterima. Aamiin!!

Sumber : https://kabarpasti.com/hakekat-thawaf-adalah-taubat/

Jamaah Laki-Laki Tua Pakai Pampers Saat Ihram

 

Jamaah haji dari KBIHU Masyarakat Madani yang berasal dari desa Klino Kecamatan Sekar berkebutuan khusus dan kadang lupa ingatan dan saat ihrom untuk menjaga kebersihan harus memakai pempes, pertanyaanya, bolehkan saat ihrom pakai pembes. Jawabannya Boleh, tidak kena dam?

Oleh Sholikin Jamik

Hukumnya: Mubah/boleh karena darurat & kebutuhan.* Tidak membatalkan ihram dan tidak wajib bayar fidyah.

Penjelasannya:

1. Pampers bukan termasuk “pakaian berjahit” yang dilarang
Yang dilarang bagi laki-laki ihram adalah memakai pakaian yang membentuk anggota tubuh: baju, celana, kaos, sarung tangan, kaos kaki.

Pampers/diaper itu fungsinya penutup najis, bukan pakaian. Sama seperti perban, plester luka, atau penyangga medis. Ulama Lajnah Daimah fatwa no. 13737: _“Memakai pembalut untuk menahan kencing karena sakit saat ihram hukumnya boleh dan tidak ada fidyah, karena darurat.”_

2. Kaidah fiqih: Adh-dharuratu tubiihul mahzhuraat
“Keadaan darurat membolehkan hal yang dilarang”. Orang tua yang tidak bisa menahan buang air kecil/besar termasuk udzur syar’i.

Allah berfirman: _“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kesanggupannya”_ [QS. Al-Baqarah: 286]

3. Tetap wajib jaga kesucian untuk salat & tawaf
Pampers boleh, tapi kalau isinya najis harus diganti sebelum salat/tawaf. Tawaf syaratnya suci dari hadas & najis.

Tips praktis untuk Bapak yang pakai pampers saat ihram:

1. Pilih pampers celana bukan yang ada perekat samping. Lebih mudah ganti & tidak menyerupai celana dalam berjahit
2. Bawa pampers cadangan banyak di tas ihram. Ganti tiap habis buang air atau minimal tiap mau salat
3. Pakai izar yang lebar biar pampers tidak kelihatan & tidak ketat membentuk aurat
4. Kalau bocor ke kain ihram: Cukup ganti pampers & cuci bagian kain ihram yang kena najis. Ihram tetap sah
5. Tidak perlu wudhu ulang tiap ganti pampers, kecuali memang batal wudhu. Cukup bersihkan najisnya

4. Apakah kena fidyah?
Tidak. Karena 3 syarat kena fidyah tidak terpenuhi:
1. Sengaja tanpa udzur ? ini udzur
2. Untuk ber-mewah-mewah ? ini untuk hajat
3. Ada pilihan lain ? tidak ada

Syaikh Ibnu Utsaimin: _“Orang sakit yang harus pakai sesuatu yang menutupi karena sakitnya, boleh dan tidak ada fidyah.”_

5. Catatan penting:
Kalau Bapak masih kuat, usahakan ke toilet tiap 2-3 jam biar pampers tidak penuh. Tapi kalau memang beser/tidak bisa kontrol, pakai pampers adalah bentuk Allah memudahkan. Jangan malu. Jaga kesehatan lebih utama.

Jadi Bapak tenang saja. Pakai pampers karena udzur usia adalah boleh 100%. Haji Bapak tetap sah, insyaAllah mabrur.

Yang penting: Niat ihramnya benar, jauhi larangan ihram yang lain, dan perbanyak talbiyah & dzikir.

Semoga Allah mudahkan semua manasik kita amin

Sumber : https://suarabojonegoro.com/jamaah-laki-laki-tua-pakai-pampers-saat-ihram/

ZONA INTEGRITAS WBK Wilayah Bebas dari Korupsi
Logo WBK
Logo BerAKHLAK
Logo Bangga Melayani Bangsa
SURVEI KEPUASAN MASYARAKAT IKM 3,98 / 4,00 Sangat Baik Isi Survei Sekarang
LIVE CCTV