logo

Written by Super User on . Hits: 63

 

Oleh : Drs. Sholikin Jamik, SH., MH.

SuaraBojonegoro.com | Madinah, 4 Mei 2026 – Sore itu, Senin di awal Mei, suasana di sekitar Pintu 310 Masjid Nabawi terasa lebih tenang dari biasanya. Riuh rendah langkah kaki jamaah tidak sepadat waktu-waktu puncak, namun denyut spiritualitas tetap terasa kental. Menjelang waktu Magrib, saat saf-saf di dalam Masjid Nabawi mulai rapat terisi, pandangan mata sejenak teralihkan ke arah barat daya.

Hanya berjarak sekitar 300 meter dari kemegahan Masjid Nabawi, berdiri sebuah bangunan dengan deretan kubah kecil yang ikonik. Itulah Masjid Ghamamah, sebuah saksi bisu keajaiban langit yang pernah turun di tanah Madinah.

Makna di Balik Nama “Awan”

Secara etimologi, Ghamamah berarti awan. Nama ini bukanlah sekadar hiasan, melainkan sebuah pengingat akan peristiwa agung belasan abad silam. Di sinilah, di sebuah tanah lapang yang dulu dikenal sebagai al-musala, Rasulullah SAW memimpin shalat Istisqa’ (meminta hujan) di tengah kekeringan yang mencekam.

Sesaat setelah beliau berdoa, langit yang mulanya terik tiba-tiba berubah. Awan-awan mendung berkumpul, berarak menaungi sang Nabi dan para sahabat dari sengatan matahari, sebelum akhirnya tumpah menjadi berkah hujan bagi penduduk Madinah. Sejak saat itu, tempat ini menjadi lokasi rutin beliau menunaikan shalat Ied hingga shalat meminta hujan.

Arsitektur Utsmaniyah yang Tak Lekang Waktu

Masjid yang kita lihat hari ini merupakan hasil dari perjalanan panjang renovasi lintas zaman.

Awal Mula: Pertama kali dibangun secara permanen oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada tahun 86-93 Hijriah.

Sentuhan Klasik: Bangunan yang berdiri kokoh saat ini didominasi oleh gaya arsitektur era Kesultanan Utsmaniyah (Sultan Abdul Majid I).

Estetika: Ciri khasnya terletak pada ornamen klasik dan kubah-kubah kecil yang memberikan kesan megah namun tetap bersahaja.

Menjadi Oase di Tengah Modernitas

Meski kini dikelilingi oleh bangunan modern dan perluasan area Masjid Nabawi, Pemerintah Arab Saudi tetap melestarikan Masjid Ghamamah sebagai cagar budaya religi. Bagi jamaah yang keluar melalui Pintu 310, masjid ini menjadi tempat ziarah yang tak boleh dilewatkan untuk sejenak melakukan napak tilas perjuangan dakwah Nabi.

Berdiri di hadapannya saat senja mulai meredup memberikan sensasi tersendiri. Ada rasa syukur yang mendalam; bahwa di tanah ini, doa pernah langsung dijawab dengan teduhnya awan.

Catatan Penutup: Masjid Ghamamah bukan sekadar tumpukan batu dan semen, ia adalah pengingat bahwa di balik kesulitan (kekeringan), selalu ada “awan” rahmat yang siap menaungi jika kita bersungguh-sungguh dalam doa. (**)

Sumber : https://suarabojonegoro.com/menjemput-senja-di-masjid-ghamamah-jejak-awan-yang-menaungi-doa-sang-nabi/

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Bojonegoro Klas IA

Jalan MH. Thamrin No.88
Bojonegoro,
Jawa Timur

(0353) 881235
(0353) 892229

085117437497 (WA Center)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Instagram   fb   youtube   twitter

Tautan Pengadilan

Pengadilan Agama Bojonegoro@2024