2.033 Perkara Perceraian di Bojonegoro, Gen Z Sumbang 696 Kasus
2.033 Perkara Perceraian di Bojonegoro, Gen Z Sumbang 696 Kasus
Bojonegoro (beritajatim.com) – Fenomena perceraian di kalangan generasi muda di Kabupaten Bojonegoro terbilang cukup tinggi. Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro mencatat, dari ribuan perkara yang masuk, sepertiga di antaranya didominasi oleh Generasi Z (Gen Z).
Data per 10 Agustus 2026 menunjukkan, total ada 2.033 perkara perceraian yang ditangani PA Bojonegoro. Dari angka tersebut, Gen Z menyumbang sebanyak 696 perkara atau setara 34,2 persen.
Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro, Sholikin Jamik mengungkapkan, Gen Z berada di urutan kedua terbanyak setelah kelompok Milenial. “Rinciannya, Milenial menyumbang 1.020 perkara (50,2%), disusul Gen Z 696 perkara (34,2%), Gen X sebanyak 286 perkara (14,1%), dan Baby Boomer 62 perkara (3%),” ujar Sholikin Jamik, Selasa (11/8/2026).
Sholikin membeberkan, penyebab tingginya angka janda dan duda baru dari kalangan Gen Z ini cukup kompleks. Mulai dari masalah ekonomi, emosi yang belum matang, hingga tren pernikahan yang dipaksakan.
Ia tak menampik, tak sedikit anak muda usia 19–26 tahun yang terburu-buru menikah hanya karena terpengaruh tren sosial atau sekadar menuruti dorongan keluarga. “Banyak yang nikah usia 19–26 tahun karena lihat teman nikah, hamil duluan, atau tekanan keluarga. Padahal kesiapan mental dan finansialnya belum matang,” ungkapnya.
Kondisi tersebut diperparah oleh tekanan ekonomi. Keinginan memiliki hunian pribadi dan kebutuhan hidup yang merangkak naik sering kali tak sebanding dengan pendapatan yang belum stabil. “Ya kebanyakan tidak mencukupi kebutuhan, belum matang usia perkawinan, ujung-ujungnya stres ekonomi dan sering berantem,” terangnya.
Selain urusan dompet, pola komunikasi pasangan muda di era digital juga menjadi sorotan tajam. Sholikin menilai, banyak pasangan Gen Z yang mahir berinteraksi lewat media sosial atau aplikasi pesan, namun justru ‘gagap’ saat menyelesaikan masalah secara langsung. “Gen Z paling jago ngomong di chat. Tapi pas berantem langsung diem-dieman, main HP, atau kata-katanya ‘udah pisah aja’,” kata Sholikin.
Untuk menekan tingginya angka perceraian ini, Sholikin mewanti-wanti agar para pemuda mengubah mindset sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. “Kuncinya bukan cuma modal cinta atau merasa sudah mapan. Tapi harus punya kematangan mental, siap berkomunikasi dua arah, dan punya visi tujuan hidup yang sama,” pungkasnya. (fif/kun)

