Oleh: Sholikin Jamik
SuaraBojonegoro.com – Ketiganya merupakan simbol perlawanan terhadap setan, tetapi memiliki perbedaan tingkat dan makna. Ibadah ini dilakukan pada tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah saat hari Tasyrik.
1. Jumrah Ula (Dilempar pada 11, 12, dan 13 Zulhijah)
Lokasi: Paling jauh dari Makkah, paling dekat ke Mina.
Waktu: Setelah zawal (matahari tergelincir) tanggal 11–13 Zulhijah.
Jumlah: 7 butir batu setiap hari.
Makna Filosofis:
Simbol perlawanan terhadap godaan setan level awal atau yang paling halus. Biasanya berupa godaan ragu, waswas, dan bisikan kecil yang membuat ibadah tidak khusyuk.
Filosofi Batin:
Melawan waswas dan keraguan dalam iman.
Contoh: “Apakah benar Allah menerima hajiku? Apakah benar wudukku sah?” Jika dibiarkan, rasa waswas ini akan membuat ibadah menjadi tidak tenang.
2. Jumrah Wustha (Dilempar pada 11, 12, dan 13 Zulhijah)
Lokasi: Di tengah, antara Jumrah Ula dan Jumrah Aqabah.
Waktu: Setelah *zawal tanggal 11–13 Zulhijah.
Jumlah: 7 butir batu setiap hari.
Makna Filosofis:
Melambangkan perlawanan terhadap bisikan setan level menengah. Jika Aqabah adalah godaan untuk “meninggalkan perintah Allah”, maka Wustha adalah godaan untuk “melakukan ibadah secara setengah-setengah”.
Filosofi Batin:
Melawan sifat riya, ujub, sombong, dan ibadah yang tidak ikhlas.
Contoh: “Sudah haji, foto dulu biar orang tahu.” Itu adalah godaan Wustha. Setan membuat amal ibadah menjadi kosong pahalanya.
3. Jumrah Aqabah (Dilempar pada 10 Zulhijah)
Lokasi: Paling dekat ke Makkah, ukurannya paling besar.
Waktu: Tanggal 10 Zulhijah, setelah wukuf dan mabit di Muzdalifah.
Jumlah: 7 butir batu.
Makna Filosofis:
Ini adalah simbol perlawanan terhadap “setan besar” yang menggoda Nabi Ibrahim alaihissalam ketika diperintah untuk menyembelih Nabi Ismail alaihissalam.
Filosofi Batin:
Melawan hawa nafsu terbesar yang membuat seseorang berat untuk menaati Allah.
Contoh: Malas beribadah, cinta dunia secara berlebihan, dan gengsi untuk bertobat.
Tanggal 10 Zulhijah adalah hari kemenangan. Setelah melempar Jumrah Aqabah, jemaah diperbolehkan melakukan tahallul awal (boleh mengganti pakaian ihram dan memotong rambut). Artinya: “Jika kamu menang melawan nafsu besar, Allah akan memberikan keringanan.”
Kenapa Ada 3 Tempat? Kenapa Harus 7 Batu?
3 Tempat: Mengikuti kisah Nabi Ibrahim yang digoda oleh setan sebanyak 3 kali di 3 lokasi yang berbeda. Kita mengulang adegan tersebut sebagai ikrar: “Aku mengikuti Nabi Ibrahim, bukan mengikuti Iblis.”
7 Batu: Angka 7 melambangkan kesempurnaan. Ini adalah simbol perlawanan total yang melibatkan 7 anggota tubuh: mata, telinga, lisan, tangan, kaki, hati, dan akal.
Nabi Muhammad \small \text{SAW} melempar batu sambil membaca, “Bismillah, Allahu Akbar” (Dengan menyebut nama Allah, Allah Mahabesar). Artinya: “Aku melawan setan bukan karena kekuatanku, melainkan karena nama-Mu, ya Allah.”
Urutan dan Hukum Melaksanakan Jumrah
Pelaksanaan lempar jumrah pada hari Tasyrik harus dilakukan secara berurutan, yaitu dimulai dari Jumrah Ula sebagai urutan pertama, kemudian dilanjutkan ke Jumrah Wustha sebagai urutan kedua, dan diakhiri dengan Jumrah Aqabah sebagai urutan ketiga. Urutan ini bersifat wajib dan tidak boleh dibalik.
Mengenai hukumnya, melempar Jumrah Ula dan Jumrah Wustha pada tanggal 11 sampai 13 Zulhijah hukumnya adalah wajib haji, di mana jika ditinggalkan jemaah wajib membayar denda atau dam. Sementara itu, melempar Jumrah Aqabah yang dilakukan sendiri pada tanggal 10 Zulhijah memiliki hukum yang sangat kuat sebagai bagian dari rukun atau wajib haji inti, sehingga jika ditinggalkan dapat membuat ibadah haji menjadi tidak sah atau batal.
Hakikatnya: 3 Musuh dalam Diri
Ulama tasawuf membagi esensi lempar jumrah menjadi 3 bagian:
Jumrah Ula: Melawan setan yang membuat kita ragu kepada Allah.
Jumrah Wustha: Melawan setan yang membuat kita memelihara sifat riya dan ujub.
Jumrah Aqabah: Melawan setan yang membuat kita cinta dunia dan berat untuk taat.
Jadi, melempar jumrah adalah latihan selama 3 hari untuk: membersihkan hati dari keraguan \rightarrow membersihkan niat dari sifat riya \rightarrow membersihkan nafsu dari cinta dunia.
Hal Penting yang Harus Diingat:
Tiang jumrah itu hanyalah sebuah penanda, setan tidak tinggal di dalam tiang tersebut. Jika ada jemaah yang marah-marah, memaki-maki, hingga melempar batu sekuat tenaga, hal itu adalah salah kaprah.
Nabi Muhammad \small \text{SAW} melempar jumrah dengan tenang, khusyuk, dan penuh ketundukan. Fokusnya bukan pada tiangnya, melainkan pada hati kita: “Ya Allah, aku lempar rasa malas ibadahku, aku lempar sifat ujubku, dan aku lempar cinta duniaku.”

