Hakikat Lempar Jumrah Aqabah: Deklarasi Perang Melawan Bisikan Setan
Proses melempar Jumrah Aqabah itu bukan sekadar “main lempar batu ke setan". Melempar jumrah adalah simbol perlawanan, ikrar, dan pelepasan. Tanggal 10 Zulhijah sesungguhnya adalah Hari Nahr, hari pertama Iduladha.

Proses melempar Jumrah Aqabah itu bukan sekadar “main lempar batu ke setan". Melempar jumrah adalah simbol perlawanan, ikrar, dan pelepasan. Tanggal 10 Zulhijah sesungguhnya adalah Hari Nahr, hari pertama Iduladha.
Asal-usul peristiwa jumrah adalah kisah Nabi Ibrahim a.s. melawan Iblis. Makna filosofinya dar peristiwa ini adalah ketika Nabi Ibrahim a.s. diperintah menyembelih Ismail a.s., setan muncul tiga kali buat menggoda.
Godaan pertama di Jumrah Ula, “jangan sembelih anakmu, itu kejam”. Lalu ketika Jumrah Wustha, “kamu durhaka sama anak”. Terakhir ketika di Jumrah Aqabah, "ini cuma mimpi, jangan dituruti”.
Nabi Ibrahim a.s. diperintah Allah Swt. untuk melempar setan itu dengan tujuh batu setiap kali jumrah. Maka peristiwa melempar baru atau jumrah adalah kreka ulang adegan yang dilakukan Nabi Ibrahim a.s. tersebut.
Filosofinya peristiwa jumrah adalah, sejak awal manusia diciptakan, musuh utamanya satu: Iblis. Lempar jumrah hakekatnya deklarasi perang dengan bisikan setan. “Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh." sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Fathir ayat 6.
Kenapa cuma Jumrah Aqabah yang dilempar tanggal 10? Tanggal 10 Zulhijah itu hari “pembebasan”. Haji sudah selesak wukuf, sudah mabit di Muzdalifah, tinggal selesaikan puncak ibadah.
Jumrah Aqabah adalah yang paling dekat ke Makkah, paling besar, simbol setan terbesar yang menggoda manusia buat meninggalkan perintah Allah Swt. yang paling berat: menyembelih yang paling dicintai.
Maknanya adalah musuh terbesar itu bukan setan di luar, tapi setan yang bikin kamu berat ngelakuin perintah Allah. Lempar Aqabah adalah Aku lawan hawa nafsuku yang nggak mau taat”.
Tujuh batu bermakna tujuh pintu neraka dan tujuh anggota sujud. Ulama tafsir bilang angka tujuh itu simbol kesempurnaan.
Pertama, tujuh batu adalah simbol perlawanan total pakai semua potensi: mata, telinga, lisan, tangan, kaki, hati, akal.
Kedua, melempar adalah gerakan aktif. Iman itu bukan pasif. Kalau setan bisik, kamu harus “lempar” dengan zikir, ilmu, istikamah.
Ketiga, batu kecil sebesar kerikil hakikatnya senjata orang lemah. Kamu nggak butuh senjata hebat buat ngalahin setan. Cukup iman sebesar biji sawi dan tawakal.
Nabi saw. selalu membaca “Bismillah, Allahu Akbar” setiap melempar. Artinya: “Aku lempar bukan karena kuat, tapi karena nama-Mu ya Allah”.
Hakikat batin melempar jumrah adalah melempar kepada tkg musuh di dalam diri. Imam Ghazali dan ulama tasawuf memberikan makna lebih dalam.
Jumrah Ula adalah melempar setan yang bikin ragu sama Allah. “Apa bener ada surga neraka?” Jumrah Wustha adalah melempar setan yang bikin riya’, ujub, sombong. Jumrah Aqabah adalah melmpar setan yang bikin cinta dunia berlebihan dan berat berlaku taat.
Tanggal 10 Zulhijah kita fokus ke Jumrah Aqabah dulu, karena itu setan yang paling gampang menggoda setelah capek Wukuf dan Muzdalifah: “Sudah ah, tidak usah melempar, capek”.
Efek psikologis dan spiritual dari melempar Jumrah. Pertama, katarsis. Melempar batu adalah membuang amarah, dendam, beban dosa secara simbolis. Makanya banyak jamaah nangis pas lempar.
Kedua ikrar, artinya setiapiap melempar hakikatnya adalah: “Aku nggak akan menuruti setan lagi hari ini”. Itu janji yang diulang sebanyak tujuh kali.
Ketiga, peralihan status. Setelah melempar Junrah Aqabah, halal cukur rambut, ganti baju, boleh menemui istri. Artinya “tahap berat” selesai. Filosofinya adalah kalau kamu menang lawan setan, Allah Swt. memberi kemudahan.
Kesalahpahaman Jumrah Aqabah yang sering terjadi. Marah-marah, lempar sekuat tenaga, maki-maki tiang jumrah. Melempar Jumrah sebaiknya dilakukan dengan tenang, khusyuk, berniat melawan setan dalam diri.
Tiang yang dilempar itu cuma penanda, bukan setan beneran. Setan nggak tinggal di tiang itu. Kalau iya, udah hancur dilempar 3 miliar orang sejak zaman Nabi.
Kesalahan lainnya, yaitu berpkir “aku udah lempar setan, jadi aku suci.” Hal itu perlu dihindari karena sesungguhnya, “Aku baru mulai latihan. Setelah ini setan akan datang lagi lewat HP, uang, jabatan”. Melempar jumrah itu latihan, bukan akhir.
Lempar Jumrah Aqabah tanggal 10 Zulhijah adalah ikrar: “Ya Allah, aku pilih taat kepada-Mu walau berat. Aku musuhi setan dan hawa nafsuku. Mulai hari ini aku mau hidup baru.”
Itu sebabnya setelah lempar Jumrah, sunnahnya langsung menyembelih kurban. Hal ini sebagai smbol: “Aku siap menyembelih kecintaanku pada dunia, sebagaimana Ibrahim siap menyembelih Ismail”.
Jadi kalau nanti jemaah haji melempar Jumrah, jangan cuma gerakin tangan. Bisikin ke hati: "Ini batu buat syahwatku yang ngajak maksiat. Ini batu buat malas ibadahku. Ini batu buat ujubku.”
Oleh: Sholikin Jamik
Sumber : https://lenteramu.or.id/post/hakikat-lempar-jumrah-aqabah-deklarasi-perang-melawan-bisikan-setan/
